Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik Sport

Kisah Soekarno Menuju Kemerdekaan Indonesia, Dari Aktivis Pergerakan hingga Sang Proklamator

Brilian Syifa Almasih • Jumat, 3 Juli 2026 | 17:20 WIB
Di balik gelar Sang Proklamator, kisah Soekarno menyimpan perjuangan panjang sekaligus keputusan-keputusan kontroversial yang hingga kini masih menjadi perdebatan.
Di balik gelar Sang Proklamator, kisah Soekarno menyimpan perjuangan panjang sekaligus keputusan-keputusan kontroversial yang hingga kini masih menjadi perdebatan.

JAKARTA – Kisah Soekarno dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia tidak hanya dipenuhi keberanian, tetapi juga kontroversi yang hingga kini masih menjadi perdebatan. Sosok yang dikenal sebagai Proklamator Republik Indonesia itu dipuji karena berhasil memimpin bangsa menuju kemerdekaan, namun di sisi lain juga kerap dikritik atas keputusannya bekerja sama dengan Jepang selama masa pendudukan. Di balik berbagai pandangan tersebut, perjalanan hidup Soekarno menunjukkan bagaimana strategi politik, diplomasi, dan perjuangan menjadi bagian penting dalam lahirnya Indonesia merdeka.

Perjalanan Kisah Soekarno dimulai sejak masa kecilnya di Surabaya. Lahir pada 6 Juni 1901 (sesuai sejarah) dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai Srimben, Soekarno memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan Belanda. Saat tinggal di rumah H.O.S. Tjokroaminoto di Surabaya, ia mulai mengenal dunia pergerakan nasional. Dari rumah tokoh Sarekat Islam itu, Soekarno bertemu banyak aktivis yang membentuk cara berpikirnya mengenai nasionalisme, perjuangan rakyat, hingga pentingnya persatuan bangsa.

Pengalaman menyaksikan diskriminasi terhadap pribumi semakin menguatkan tekadnya melawan kolonialisme. Saat melanjutkan pendidikan di Bandung, Soekarno aktif berdiskusi dengan para tokoh nasional, menulis artikel politik, hingga merumuskan gagasan Marhaenisme setelah bertemu seorang petani bernama Marhaen. Baginya, perjuangan Indonesia harus berpihak kepada rakyat kecil yang selama bertahun-tahun hidup dalam penindasan sistem kolonial Belanda.

Baca Juga: Jadwal Pencairan PKH dan BPNT Tahap 3 2026 Diprediksi Akhir Juli, Ini Rincian Bantuannya

Pada dekade 1920-an, Soekarno semakin dikenal sebagai orator muda yang lantang mengkritik pemerintah Hindia Belanda. Ia mendirikan Algemene Studie Club yang menjadi wadah diskusi kaum intelektual muda, sebelum akhirnya bersama sejumlah tokoh mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) pada 4 Juli 1927.

Melalui PNI, Soekarno menggalang kekuatan nasionalis dengan menolak kerja sama politik bersama pemerintah kolonial. Perjuangannya berkembang pesat hingga melahirkan Perserikatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) yang menjadi salah satu penggerak lahirnya Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

Popularitas Soekarno justru membuat pemerintah kolonial khawatir. Pada akhir 1929, ia ditangkap dan dipenjara di Bandung. Dalam persidangan, Soekarno menyampaikan pidato pembelaan legendaris berjudul Indonesia Menggugat, yang kemudian menginspirasi banyak pejuang kemerdekaan di berbagai daerah.

Baca Juga: Jadwal Pencairan PKH dan BPNT Tahap 3 2026 Terungkap, Simak Estimasi Cair dan Besaran Bantuannya

Setelah dibebaskan, perjuangan Soekarno kembali menghadapi tantangan saat Jepang menduduki Indonesia pada 1942. Pemerintah militer Jepang mengajak Soekarno bekerja sama untuk menggerakkan rakyat demi kepentingan perang Asia Pasifik.

Keputusan ini menjadi salah satu bagian paling kontroversial dalam Kisah Soekarno. Banyak kalangan menilai Soekarno menjadi alat propaganda Jepang, termasuk saat mengajak rakyat mengikuti program romusha. Namun, Soekarno berpendapat bahwa kerja sama tersebut merupakan strategi untuk menghindari korban yang lebih besar sekaligus membuka jalan menuju kemerdekaan Indonesia.

Menurut pandangannya, jika rakyat melakukan perlawanan terbuka terhadap Jepang yang memiliki kekuatan militer jauh lebih besar, korban jiwa akan semakin banyak. Karena itu, ia memilih jalur diplomasi sambil memanfaatkan peluang yang diberikan Jepang untuk mempersiapkan kemerdekaan bangsa.

Baca Juga: Jadwal Pencairan PKH dan BPNT Tahap 3 2026, Simak Estimasi Cair hingga Besaran Bantuan

Di tengah pendudukan Jepang, Soekarno terus memanfaatkan ruang politik yang tersedia. Bersama Mohammad Hatta dan sejumlah tokoh lainnya, ia terlibat dalam pembentukan berbagai badan persiapan kemerdekaan. Pada 1 Juni 1945, Soekarno menyampaikan pidato yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.

Situasi berubah drastis ketika Jepang semakin terdesak dalam Perang Pasifik. Kekalahan demi kekalahan membuat pemerintah Jepang mulai menjanjikan kemerdekaan bagi Indonesia. Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada Agustus 1945, golongan muda mendesak Soekarno dan Hatta agar segera memproklamasikan kemerdekaan tanpa menunggu persetujuan Jepang. Perbedaan pandangan itu bahkan memunculkan Peristiwa Rengasdengklok yang membawa Soekarno dan Hatta keluar dari Jakarta untuk meyakinkan keduanya segera mengambil keputusan.

Pada malam 16 Agustus 1945, Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ahmad Soebardjo menyusun naskah Proklamasi di rumah Laksamana Tadashi Maeda. Keesokan harinya, tepat pada 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta, Soekarno membacakan teks Proklamasi yang menandai lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Baca Juga: Persib Bandung Masih Agresif di Bursa Transfer, Ragnar Oratmangoen dan Sandy Walsh Dirumorkan Merapat, Ciro Alves Jadi Sorotan

Keberhasilan memproklamasikan kemerdekaan menjadikan Soekarno dikenang sebagai Bapak Proklamator Indonesia. Namun, perjalanan politiknya tidak berhenti pada momen bersejarah tersebut. Setelah Indonesia merdeka, Soekarno masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari agresi militer Belanda, pergolakan politik dalam negeri, hingga berbagai kebijakan yang memunculkan pro dan kontra.

Karena itu, Kisah Soekarno tidak hanya dipenuhi keberhasilan, tetapi juga sisi kontroversial yang terus menjadi bahan kajian para sejarawan. Keputusannya bekerja sama dengan Jepang, kebijakan politik pada masa pemerintahannya, hingga gaya kepemimpinannya masih menjadi perdebatan hingga kini. Meski demikian, perannya dalam menyatukan bangsa dan mengantarkan Indonesia menuju kemerdekaan tetap menjadi bagian penting dalam sejarah nasional.

 

source : youtube Matahatipemuda

Editor : Brilian Syifa Almasih
#Kisah Soekarno #soekarno #Proklamasi Kemerdekaan #pancasila #sejarah indonesia