BLITAR KAWENTAR – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Blitar terus memperkuat upaya pencegahan penularan HIV/AIDS dengan memetakan delapan kelompok rentan HIV yang menjadi prioritas dalam program edukasi dan deteksi dini. Langkah ini dilakukan agar penyebaran HIV dapat ditekan melalui pendekatan yang lebih terarah serta menjangkau masyarakat hingga tingkat lingkungan.
Program pemetaan kelompok rentan HIV tersebut juga diperkuat dengan pelibatan kader posyandu. Mereka diberi pembekalan agar mampu menyampaikan edukasi mengenai HIV/AIDS sekaligus mengarahkan masyarakat yang memiliki faktor risiko untuk memanfaatkan layanan pemeriksaan HIV di fasilitas kesehatan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Blitar, Silvia Dewi Kusumawati, mengatakan bahwa terdapat delapan kelompok yang menjadi sasaran utama dalam program pencegahan HIV. Kelompok tersebut dinilai memiliki risiko penularan lebih tinggi dibandingkan masyarakat secara umum sehingga membutuhkan perhatian khusus.
Baca Juga: Rekomendasi 10 HP Oppo dan Vivo RAM 8/256 GB Terbaik 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan
Silvia menjelaskan, delapan kelompok tersebut meliputi laki-laki seks dengan laki-laki (LSL), waria atau transgender, wanita pekerja seks (WPS), pengguna napza suntik, warga binaan pemasyarakatan, penderita infeksi menular seksual (IMS), ibu hamil, serta penderita tuberkulosis (TB).
Menurutnya, edukasi yang diberikan kepada kelompok prioritas tidak hanya bertujuan meningkatkan pengetahuan mengenai HIV/AIDS, tetapi juga mendorong kesadaran untuk melakukan pemeriksaan sejak dini.
"Kelompok-kelompok itu menjadi prioritas dalam edukasi dan deteksi dini karena memiliki risiko penularan yang lebih tinggi dibanding masyarakat umum," ujarnya.
Baca Juga: 10 HP Oppo dan Vivo RAM 8/256 GB Terbaik 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan, Mana Paling Worth It?
Deteksi dini dinilai menjadi langkah penting karena banyak kasus HIV yang tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. Dengan mengetahui status HIV lebih cepat, pasien dapat segera memperoleh penanganan sehingga risiko penularan kepada orang lain dapat ditekan.
Selain menyasar kelompok rentan secara langsung, Dinkes Kota Blitar juga melibatkan kader posyandu sebagai mitra dalam penyuluhan. Kader dipilih karena memiliki kedekatan dengan masyarakat di lingkungan RT maupun RW sehingga dinilai lebih efektif dalam menyampaikan informasi kesehatan.
Sebelum diterjunkan, para kader memperoleh pembekalan mengenai dasar-dasar HIV/AIDS, cara penularan, langkah pencegahan, hingga pentingnya pemeriksaan HIV bagi masyarakat yang memiliki faktor risiko.
Baca Juga: 10 HP RAM 8 GB Memori 256 GB Terbaik Harga Rp2 Jutaan, Redmi 15, Poco M7 hingga Galaxy A07
Silvia menegaskan bahwa kader posyandu tidak bertugas melakukan pemeriksaan medis. Peran mereka lebih difokuskan sebagai penyuluh sekaligus penghubung antara masyarakat dengan layanan kesehatan.
"Kader tidak melakukan pemeriksaan, tetapi memberikan edukasi dan mengarahkan masyarakat untuk mengakses layanan VCT atau tes HIV di fasilitas kesehatan," jelasnya.
Dengan pola tersebut, diharapkan semakin banyak masyarakat yang memahami bahwa pemeriksaan HIV merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan, bukan sesuatu yang perlu ditakuti maupun disembunyikan.
Baca Juga: Rekomendasi 10 HP RAM 8/256 GB Harga Rp2 Jutaan, Samsung Galaxy A07 hingga Poco M7 Layak Dibeli
Dinkes Kota Blitar juga terus mengingatkan masyarakat bahwa hingga saat ini belum tersedia obat yang dapat menyembuhkan HIV/AIDS secara total. Meski demikian, penderita tetap dapat menjalani kehidupan secara normal apabila disiplin menjalani terapi antiretroviral (ARV).
Terapi ARV berfungsi menekan jumlah virus di dalam tubuh sehingga sistem kekebalan tetap terjaga. Dengan pengobatan yang rutin sesuai anjuran tenaga kesehatan, penderita dapat tetap bekerja, beraktivitas, serta memiliki kualitas hidup yang baik.
Silvia menambahkan bahwa kepatuhan menjalani pengobatan menjadi faktor penting dalam mengendalikan penyakit. Selain menjaga kesehatan penderita, terapi ARV juga membantu menurunkan risiko penularan kepada orang lain.
Baca Juga: 10 HP RAM 8/256 GB Harga Rp2 Jutaan Terbaik 2026, Redmi 15 hingga Samsung Galaxy A07 Masuk Daftar
Karena itu, Dinkes Kota Blitar mengajak masyarakat untuk tidak memberikan stigma kepada orang dengan HIV/AIDS (ODHIV). Sebaliknya, dukungan keluarga dan lingkungan sangat dibutuhkan agar penderita tetap menjalani pengobatan secara teratur.
Melalui pemetaan delapan kelompok rentan HIV, penguatan edukasi, pelibatan kader posyandu, serta perluasan akses layanan tes HIV, Dinkes Kota Blitar berharap kesadaran masyarakat semakin meningkat. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk menekan angka penularan HIV sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang hidup dengan HIV/AIDS. (bud/c1/sub)
Editor : Azahra Meilisani Salma