Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik Sport

Kisah UMKM Tempe Blitar, Berawal dari 5 Kg Kedelai Kini Produksi 80 Kg per Hari Meski Harga Bahan Baku Fluktuatif

Akhmad Nur Khoiri • Senin, 6 Juli 2026 | 13:00 WIB
ULET: Nasruddin dengan dibantu pekerjanya memproduksi tempe setiap hari untuk memenuhi kebutuhan pangan di masyarakat.
ULET: Nasruddin dengan dibantu pekerjanya memproduksi tempe setiap hari untuk memenuhi kebutuhan pangan di masyarakat.

BLITAR KAWENTAR – UMKM tempe Blitar terus menunjukkan daya tahan di tengah fluktuasi harga kedelai impor dan meningkatnya biaya produksi. Salah satu kisah inspiratif datang dari Nasruddin, pelaku usaha tempe asal Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, yang berhasil mengembangkan usaha rumahan dari produksi hanya 5 kilogram kedelai menjadi sekitar 80 kilogram per hari.

Perjalanan UMKM tempe Blitar tersebut menjadi bukti bahwa konsistensi menjaga kualitas produk mampu menciptakan kepercayaan pelanggan. Meski menghadapi berbagai tantangan, usaha yang baru dirintis sejak 2023 itu terus berkembang dan kini menjadi salah satu pemasok tempe bagi masyarakat di sejumlah wilayah sekitar Blitar.

Bagi Nasruddin, menjaga kualitas dan kebersihan produksi merupakan kunci utama mempertahankan pelanggan. Komitmen itu membuat UMKM tempe Blitar miliknya tetap bertahan meskipun keuntungan semakin tertekan akibat naiknya biaya operasional.

Baca Juga: Berpotensi Bahayakan Masyarakat, KAI Daop 7 Madiun Kembali Tutup Perlintasan Sebidang KA Liar di Talun Blitar

Berawal dari Produksi Sederhana

Memasuki rumah produksi milik Nasruddin, aroma khas kedelai rebus langsung tercium. Uap panas dari proses perebusan memenuhi ruangan, sementara para pekerja tampak sibuk membungkus tempe yang siap dipasarkan.

Usaha tersebut bermula dengan peralatan sederhana. Saat pertama kali memulai bisnis, Nasruddin hanya mampu mengolah sekitar 5 kilogram kedelai setiap hari. Seluruh proses dilakukan secara manual sambil membangun kepercayaan pelanggan dari mulut ke mulut.

Seiring berjalannya waktu, kualitas produk yang konsisten membuat permintaan terus meningkat. Dari produksi yang awalnya sangat terbatas, kini rumah produksi tersebut mampu mengolah sekitar 80 kilogram kedelai setiap hari.

Peningkatan kapasitas itu tidak terjadi secara instan. Nasruddin mengaku terus memperbaiki proses produksi agar menghasilkan tempe dengan kualitas yang tetap terjaga.

Baca Juga: Harga iPhone Second Turun di ITC Depok, iPhone 12 Mulai Rp5,9 Juta hingga iPhone 17 Pro Sudah Tersedia

Kebersihan Jadi Prioritas

Menurut Nasruddin, kualitas bahan baku dan kebersihan menjadi faktor utama dalam menjaga mutu tempe. Mulai dari proses pencucian kedelai, perebusan, fermentasi hingga pengemasan dilakukan dengan memperhatikan standar kebersihan.

Ia menilai pelanggan saat ini semakin memperhatikan kualitas pangan yang dikonsumsi. Karena itu, menjaga kebersihan tempat produksi menjadi investasi jangka panjang agar pelanggan tetap loyal.

"Padahal, usaha tempe yang dijalankan ini mengalami perkembangan cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir," ujarnya.

Kepercayaan pelanggan terus bertambah karena mereka menilai proses produksi dilakukan secara higienis. Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa banyak pelanggan kembali membeli tempe hasil produksinya.

Baca Juga: Sosok Rahatri Yuniar Kembangkan Les Baca di Blitar, Cerdaskan Generasi Lewat Metode Belajar Edukatif

Harga Bahan Baku Jadi Tantangan

Di balik peningkatan produksi, tantangan justru datang dari naiknya biaya operasional. Harga sejumlah bahan penunjang produksi, terutama kedelai impor, mengalami fluktuasi sehingga margin keuntungan semakin menipis.

Meski demikian, Nasruddin memilih tidak terburu-buru menaikkan harga jual. Hingga kini, harga tempe produksinya tetap dipertahankan di kisaran Rp4 ribu per bungkus agar tetap terjangkau oleh masyarakat.

"Kalau harga dinaikkan takut pembeli berkurang. Jadi sementara ini kami memilih bertahan meski keuntungan menipis," katanya.

Menurutnya, mempertahankan pelanggan jauh lebih penting dibanding mengejar keuntungan sesaat. Apalagi kondisi ekonomi membuat daya beli sebagian masyarakat masih belum sepenuhnya pulih.

Baca Juga: Pembiayaan UMKM Jadi Motor Penggerak Ekonomi, Bank Nusamba Jatim Dukung Program Pemerintah dan Pemberdayaan Usaha Rakyat

UMKM Lokal Terus Bertahan

Kisah Nasruddin menunjukkan bahwa pelaku UMKM pangan masih memiliki peluang berkembang selama mampu menjaga kualitas dan kepercayaan konsumen.

Di tengah persaingan usaha rumahan yang semakin ketat, konsistensi dalam menghasilkan produk berkualitas menjadi modal penting untuk mempertahankan pasar.

Dari dapur sederhana di Desa Kemloko, usaha yang baru berjalan sekitar tiga tahun itu kini menjadi sumber penghidupan bagi keluarga sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar.

Perjalanan tersebut menjadi gambaran bahwa UMKM lokal tidak hanya berperan menyediakan kebutuhan pangan masyarakat, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi daerah. Dengan menjaga mutu produk, pelayanan, dan harga yang tetap terjangkau, usaha tempe milik Nasruddin berhasil membuktikan bahwa ketekunan dan komitmen dapat membawa usaha kecil terus tumbuh meski dihadapkan pada tantangan biaya produksi yang semakin besar.

Editor : Regina Gavin Agata
#UMKM tempe blitar #nasruddin #tempe blitar #kedelai impor #UMKM Kabupaten Blitar