BLITAR KAWENTAR – Pameran Tenun Nusantara di Blitar menjadi ruang edukasi budaya yang mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, mengenal sekaligus mencintai wastra tradisional Indonesia.
Digelar di UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno, Kota Blitar, Sabtu (4/7), kegiatan tersebut menghadirkan puluhan kain tenun otentik dari berbagai daerah di Indonesia sebagai upaya meningkatkan literasi masyarakat terhadap kekayaan tekstil tradisional.
Berbeda dengan pameran sebelumnya yang mengangkat tema batik, kali ini komunitas Patria Wastra memilih tenun sebagai fokus utama.
Baca Juga: Samsung Galaxy S27 Ultra Dirumorkan Pakai Baterai 12.000 mAh, Siap Jadi Raja Flagship 2027?
Langkah tersebut dilakukan karena tingkat pemahaman masyarakat terhadap tenun dinilai masih jauh tertinggal dibanding batik, padahal persebaran tenun di Indonesia jauh lebih luas dan beragam.
Pegiat Patria Wastra Rian Yogo Wibowo mengatakan, pameran ini bukan sekadar menampilkan koleksi kain tradisional, tetapi menjadi media edukasi agar masyarakat mengenali nilai sejarah, budaya, hingga proses panjang pembuatan kain tenun yang dikerjakan secara manual oleh para perajin.
Menurut Rian, selama ini batik memang lebih dikenal masyarakat karena berkembang pesat di Pulau Jawa.
Baca Juga: Samsung Galaxy A07 Cuma Rp1,3 Jutaan, Speknya Bikin Kaget! Helio G99 dan UFS Jadi Senjata Utama
Sementara itu, tenun justru memiliki persebaran yang hampir merata di berbagai wilayah Nusantara, mulai Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara hingga Papua.
"Kalau batik episentrumnya memang banyak di Pulau Jawa. Sedangkan tenun tersebar hampir di seluruh Indonesia. Sayangnya, literasi masyarakat terhadap tenun masih sangat minim," ujarnya.
Dalam pameran tersebut dipajang sekitar 50 lembar kain tenun asli hasil donasi sejumlah kolektor dan pecinta wastra.
Koleksi tersebut berasal dari berbagai daerah dengan corak, warna, serta teknik pembuatan yang berbeda-beda.
Donatur berasal dari berbagai kalangan, di antaranya Kepala UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno Nurny Syam, serta para pecinta kain tradisional seperti Gading, Hani, Angga, dan Rian Yogo Wibowo.
Pengunjung dapat menikmati perjalanan visual kekayaan tenun Indonesia mulai dari Pulau Sumatera hingga wilayah Timor.
Baca Juga: Krisis RAM Bikin Harga HP Makin Mahal, Ini 5 Skenario yang Bisa Membuat Smartphone Kembali Murah
Untuk koleksi asal Jawa Timur, ditampilkan dua tenun yang cukup terkenal, yakni Tenun Gedog khas Tuban dan Tenun Ikat Kediri.
Di balik semarak pameran tersebut, terdapat kenyataan yang cukup disayangkan. Hingga kini Kabupaten maupun Kota Blitar belum memiliki perajin tenun aktif yang masih mempertahankan tradisi tersebut.
Rian mengaku sempat memperoleh informasi mengenai keberadaan perajin tenun di Blitar pada masa lampau. Namun karena aktivitas produksi sudah lama berhenti, jejak maupun bentuk tenun khas Blitar sulit ditemukan.
Baca Juga: Pemkot Blitar Matangkan Persiapan Bazar Blitar Djadoel 2026, Antisipasi Lonjakan Pengunjung
"Informasi yang kami dapat memang dulu pernah ada perajin tenun di Blitar. Tetapi karena sudah lama berhenti, sekarang kami tidak tahu lagi seperti apa bentuk tenun khas Blitar tersebut. Sangat disayangkan," katanya.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Patria Wastra terus menggelar pameran dan edukasi budaya agar masyarakat semakin peduli terhadap keberlangsungan warisan tekstil tradisional Indonesia.
Selain memperkenalkan berbagai jenis tenun Nusantara, Patria Wastra juga memberikan edukasi mengenai pentingnya membedakan kain tenun asli dengan produk bermotif printing yang diproduksi menggunakan mesin.
Baca Juga: Bantuan Rastrada Kota Blitar 2026 Turun 50 Persen, KPM Kini Terima Rp195 Ribu per Triwulan
Menurut Rian, kesadaran konsumen menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan hidup para perajin tradisional. Sebab, setiap lembar kain tenun dibuat melalui proses panjang yang membutuhkan waktu, ketelitian, dan keterampilan tinggi.
"Tentu masyarakat harus sadar bahwa para perajin hidup dari kain yang mereka tenun secara manual. Kalau masyarakat lebih memilih kain printing hanya karena harganya murah, lama-kelamaan perajin akan kehilangan mata pencaharian dan tenun asli Indonesia bisa punah," tegasnya.
Karena itu, pihaknya berharap masyarakat tidak hanya membeli kain berdasarkan motif, tetapi juga memahami proses produksi dan nilai budaya yang melekat pada setiap lembar wastra tradisional.
Baca Juga: Setelah 10 Tahun Dikelola Swasta, PSBI Blitar Akhirnya Kembali Berlabuh di Pangkuan Pemkab Blitar
Sebagai rangkaian pameran, panitia juga menggelar Lokakarya Berkain yang mengajak masyarakat mempraktikkan cara mengenakan kain wastra dalam kehidupan sehari-hari.
Program tersebut menyasar kalangan muda agar semakin akrab dengan budaya berkain tanpa meninggalkan unsur kekinian.
Melalui kegiatan tersebut, peserta diajak memahami berbagai teknik memakai kain tradisional sehingga dapat digunakan dalam berbagai aktivitas, baik acara formal maupun kasual.
Baca Juga: Ketua KONI Kota Blitar Angkat Bicara Terkait Belum Lakukan Audiensi dengan Pemkot
Patria Wastra berharap gerakan edukasi ini mampu menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap wastra Nusantara sekaligus menjadi titik awal lahirnya kembali tradisi tenun di Blitar.
Sebelumnya komunitas tersebut juga rutin mengampanyekan penggunaan kain tradisional dalam berbagai kegiatan budaya.
Upaya itu diharapkan mampu memperluas literasi masyarakat mengenai pentingnya melestarikan tenun sebagai identitas budaya bangsa.
Baca Juga: Jelang Masuk Sekolah Tahun Ajaran Baru, Transaksi Gadai di Blitar Naik 18 Persen
"Harapan kami, pameran ini dapat memantik kembali semangat masyarakat terhadap wastra di Blitar. Siapa tahu suatu saat nanti kita bisa menemukan kembali jejak tenun khas Blitar, bahkan melahirkan generasi baru yang mampu menghidupkan tradisi menenun di tanah Penataran," pungkas Rian.(jar/c1/sub)
Editor : Ratna Anggi Puspita Sari