BLITAR KAWENTAR – Kampung UMKM Rejowinangun di Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, menjadi bukti bahwa industri rumahan mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Hampir seluruh warga di desa tersebut menggantungkan mata pencaharian dari sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dengan menghasilkan beragam jajanan tradisional serta produk khas daerah.
Keberadaan Kampung UMKM Rejowinangun tidak hanya menjadi pusat produksi makanan tradisional, tetapi juga menjadi simbol semangat masyarakat dalam mempertahankan kuliner warisan sekaligus meningkatkan kesejahteraan melalui usaha mandiri. Berbagai produk yang dihasilkan telah dikenal masyarakat karena cita rasa khas dan proses pembuatannya yang masih mempertahankan kualitas.
Produk-produk unggulan yang diproduksi warga antara lain jenang, wajik kletik, geti, sambal pecel, hingga opak gambir. Seluruh produk tersebut menjadi identitas desa sekaligus memperkuat posisi Rejowinangun sebagai sentra UMKM di Kabupaten Blitar.
Baca Juga: Desa Bojong di Bandung Barat Makin Terang, BRI Peduli Hadirkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya
Sentra Industri Rumah Tangga
Bupati Blitar Rijanto menyebut Desa Rejowinangun merupakan kawasan yang memiliki potensi besar di sektor industri rumah tangga. Menurutnya, hampir seluruh wilayah desa dipenuhi pelaku UMKM yang memproduksi berbagai jenis makanan tradisional dengan ragam produk yang cukup lengkap.
Keberagaman produk tersebut dinilai menjadi modal penting untuk meningkatkan daya saing UMKM lokal. Selain mampu memenuhi kebutuhan pasar, produk khas Rejowinangun juga memiliki peluang besar untuk dipasarkan ke daerah lain apabila didukung promosi dan pemasaran yang berkelanjutan.
Pemerintah Kabupaten Blitar pun terus mendorong pengembangan sektor UMKM sebagai salah satu penggerak ekonomi daerah. Melalui pembinaan, promosi, hingga peningkatan kualitas produk, diharapkan pelaku usaha mampu berkembang dan memperluas jangkauan pasar.
Produksi Opak Gambir Masih Terkendala Peralatan
Di balik berkembangnya Kampung UMKM Rejowinangun, para pelaku usaha masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya disampaikan Umiati, produsen opak gambir yang telah lama menjalankan usaha tersebut.
Ia mengatakan proses produksi opak gambir hingga kini masih dilakukan secara manual. Keterbatasan alat membuat kapasitas produksi belum dapat ditingkatkan secara maksimal meski permintaan pasar terus bertambah.
Menurutnya, keberadaan mesin pencetak otomatis akan sangat membantu mempercepat proses produksi, meningkatkan jumlah hasil produksi, sekaligus menjaga kualitas produk agar lebih seragam.
Karena itu, ia berharap pemerintah dapat memberikan dukungan berupa bantuan fasilitas produksi sehingga pelaku UMKM dapat meningkatkan produktivitas dan memenuhi kebutuhan pasar yang semakin besar.
Berharap Menjadi Destinasi Wisata Belanja
Baca Juga: Syarat Balik Nama Sertifikat Tanah Warisan, Ini Dokumen yang Wajib Disiapkan Ahli Waris
Harapan besar juga disampaikan Hendry Christie Wan, pemilik Omah Jenang yang menjadi salah satu pelaku usaha di Kampung UMKM Rejowinangun.
Ia menilai penobatan Rejowinangun sebagai Kampung UMKM akan membawa dampak positif bagi seluruh pelaku usaha. Menurutnya, status tersebut dapat meningkatkan popularitas produk-produk lokal sehingga semakin dikenal masyarakat luas.
Selain meningkatkan penjualan, Hendry berharap keberadaan Kampung UMKM mampu menarik wisatawan untuk datang langsung melihat proses produksi sekaligus membeli berbagai jajanan khas Kabupaten Blitar.
Baca Juga: Ciri-Ciri Sertifikat Tanah Palsu yang Wajib Diwaspadai, Begini Cara Cek Keasliannya Secara Online
Dengan semakin banyaknya pengunjung yang datang, roda perekonomian masyarakat diharapkan ikut bergerak. Tidak hanya pelaku UMKM yang memperoleh manfaat, tetapi juga sektor pendukung lainnya seperti perdagangan, jasa, hingga pariwisata.
Keberhasilan Rejowinangun membangun ekosistem UMKM menjadi contoh bahwa kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah mampu menciptakan pusat ekonomi berbasis potensi lokal. Dukungan terhadap inovasi, pemasaran, dan penyediaan sarana produksi diharapkan mampu membawa produk-produk khas Kabupaten Blitar menembus pasar yang lebih luas, bahkan menjadi oleh-oleh unggulan yang dikenal di tingkat regional maupun nasional.
Editor : Regina Gavin Agata