Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik Sport

Cerita Anak Buruh Setrika Blitar, Sempat Putus Sekolah Kini Wujudkan Mimpi Jadi Guru Lewat Sekolah Rakyat

M. Subchan Abdullah • Selasa, 7 Juli 2026 | 12:15 WIB
FAJAR RAHMAD AW/RADAR BLITAR
JEMPUT IMPIAN: Anita Nur Laili (tengah) didampingi ibunya, Uswatun Chasanah (kiri), mendengarkan penjelasan soal fasilitas Sekolah Rakyat dari pendamping PKH Kecamatan Sananwetan, Irma Ayu Widayanti, di kediamannya, Jumat (3/7).
FAJAR RAHMAD AW/RADAR BLITAR
JEMPUT IMPIAN: Anita Nur Laili (tengah) didampingi ibunya, Uswatun Chasanah (kiri), mendengarkan penjelasan soal fasilitas Sekolah Rakyat dari pendamping PKH Kecamatan Sananwetan, Irma Ayu Widayanti, di kediamannya, Jumat (3/7).

 

BLITAR KAWENTAR – Mimpi menjadi guru sempat terkubur dalam-dalam bagi Anita Nur Laili. Lulusan SMP yang seharusnya melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA itu justru memilih bekerja demi membantu perekonomian keluarga.

 Namun kini, harapan baru kembali tumbuh setelah dirinya menjadi calon peserta didik Sekolah Rakyat, program pendidikan gratis berasrama yang digagas pemerintah.

Remaja 16 tahun asal Jalan Jawa, Kelurahan Sananwetan, Kota Blitar, tersebut menjadi satu dari ribuan anak yang masuk sasaran Sekolah Rakyat.

Baca Juga: Sekolah Rakyat Kota Blitar Mulai Dibuka, Pemkot Hadapi Keraguan Orang Tua Lepas Anak Tinggal di Asrama

Program ini ditujukan bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem maupun mereka yang terpaksa putus sekolah karena keterbatasan ekonomi.

Bagi Anita, kesempatan bersekolah kembali menjadi titik balik untuk mengejar cita-citanya sebagai seorang guru.

Setelah setahun meninggalkan bangku pendidikan, ia akhirnya bisa kembali menatap masa depan dengan lebih optimistis.

Baca Juga: Desa Bojong di Bandung Barat Makin Terang, BRI Peduli Hadirkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya

Di sebuah rumah sederhana yang pintunya ditempeli stiker bertuliskan "Keluarga Kurang Mampu", kehidupan keluarga Anita berjalan penuh perjuangan.

Sang ibu, Uswatun Chasanah, setiap hari bekerja sebagai buruh setrika kiloan. Uap panas setrika menjadi teman rutinnya demi memperoleh upah Rp 2.500 per kilogram pakaian. Dalam sehari, penghasilannya paling banyak sekitar Rp 50 ribu.

Sementara ayah Anita bekerja sebagai buruh tani dengan pendapatan yang tidak menentu.

Melihat kondisi tersebut, Anita memilih menunda pendidikan setelah lulus dari SMP Negeri 8 Kota Blitar pada 2025.

Alih-alih mengenakan seragam SMA seperti teman-temannya, ia justru bekerja menjaga stan es teh di sekitar Taman Kebon Rojo.

"Sedih rasanya melihat teman-teman lain berseragam. Tapi saya harus sabar, menepi dulu demi membantu orang tua," tuturnya.

Baca Juga: Sumbang Ekonomi Kerakyatan, BRI Setorkan Dividen Terbesar Sepanjang Sejarah di Bawah Supervisi Danantara

Setiap bulan, Anita memperoleh gaji sekitar Rp 800 ribu. Seluruh penghasilannya diserahkan kepada sang ibu untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Uswatun mengaku berat melihat putrinya mengorbankan cita-cita demi kondisi ekonomi keluarga.

"Sebagai ibu, rasanya trenyuh. Saya tahu dia ingin sekolah, tapi biayanya tidak ada. Saya cuma bisa bilang, 'Ndhuk, tahun depan kalau ada rezeki, sekolah ya'," kenangnya dengan mata berkaca-kaca.

Baca Juga: 10 HP Oppo dan Vivo RAM 8 GB ROM 256 GB Paling Worth It 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan

Harapan itu akhirnya datang melalui Program Sekolah Rakyat yang mulai dibuka pada tahun ajaran 2026/2027.

Program yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto tersebut dirancang sebagai sekolah berasrama gratis bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem agar memperoleh akses pendidikan yang setara.

Tidak hanya biaya pendidikan, seluruh kebutuhan siswa selama tinggal di asrama juga ditanggung pemerintah.

Baca Juga: Bikin Mesin Halus dan Awet 50 Ribu Km, Ini Rahasia Teknologi Keramik dalam Ceratec Liqui Moly Teruji Laboratorium

Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Kecamatan Sananwetan, Irma Ayu Widayanti, menjelaskan siswa akan memperoleh enam stel seragam, tiga pasang sepatu, tas, buku, laptop, perlengkapan mandi, alat mencuci, hingga perlengkapan ibadah secara cuma-cuma.

Selain itu, kurikulum Sekolah Rakyat juga mengedepankan pendekatan inklusif. Setiap siswa akan menjalani pemetaan bakat melalui pemeriksaan kesehatan dan DNA Talent guna mengetahui potensi akademik maupun nonakademik yang dimiliki.

Pembinaan karakter juga menjadi perhatian pemerintah. Kementerian Sosial bersama TNI bahkan merencanakan keterlibatan taruna Akademi Militer dalam pembentukan disiplin dan pencegahan perundungan di lingkungan sekolah.

Baca Juga: Ciri-Ciri Sertifikat Tanah Palsu yang Wajib Diwaspadai, Begini Cara Cek Keasliannya Secara Online

Tidak hanya anak yang diperhatikan, keluarga siswa pun tetap mendapatkan pendampingan melalui bantuan sosial hingga program rehabilitasi rumah apabila memenuhi persyaratan.

Kepala Dinas Sosial Kota Blitar, Eka Atikah, mengatakan pihaknya telah memadankan data calon peserta didik bersama Kementerian Sosial dan Dinas Pendidikan.

Dari data awal sebanyak 6.303 anak kategori desil 1 dan 2, ditemukan sekitar 1.700 anak usia 7 hingga 21 tahun yang putus sekolah.

Baca Juga: Oli Liqui Moly Ternyata Punya Teknologi Berbeda, Ini Rahasia Mesin Lebih Awet dan Performa Tetap Maksimal

Pada tahap awal, Sekolah Rakyat ditargetkan menerima 270 siswa.

Menurut Eka, proses penerimaan berbeda dengan sekolah formal. Pendamping PKH akan melakukan jemput bola dengan mendatangi langsung keluarga yang memiliki anak putus sekolah akibat kendala ekonomi.

Sementara itu, Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin juga menginstruksikan seluruh jajarannya untuk mengintensifkan sosialisasi hingga tingkat kelurahan agar semakin banyak keluarga yang memanfaatkan kesempatan tersebut.

Baca Juga: Jangan Asal Pilih Pelumas! Ini Keunggulan Oli Liqui Moly yang Bikin Mesin Mobil Awet Tanpa Boncos

Bangunan Sekolah Rakyat di Kelurahan Kauman, Kecamatan Kepanjenkidul, kini memasuki tahap akhir penyelesaian.

 Dalam waktu dekat, ruang-ruang kelas itu akan menjadi tempat Anita kembali belajar.

Bukan lagi menjaga stan es teh, melainkan mengejar cita-cita menjadi seorang guru.

Baca Juga: Liqui Moly Cera Tec: Rahasia Mesin Lebih Halus dan Awet hingga 50.000 Km, Begini Cara Kerjanya

"Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Mugo-mugo dadi anak sing kasil," ucap Anita penuh harap.(*/c1/sub)

Editor : Ratna Anggi Puspita Sari
#Dinas Sosial Kota Blitar #Anita Nur Laili #anak putus sekolah #Kota Blitar #Sekolah Rakyat