BLITARKAWENTAR.JAWAPOS.COM - Alea Carolina membuktikan bahwa usia muda bukan penghalang untuk membangun bisnis besar. Berawal dari uang jajan Rp300 ribu saat masih duduk di bangku SMA, perempuan kelahiran 2004 itu kini sukses mengembangkan bisnis mainan slime dengan omzet ratusan juta rupiah per bulan.
Perjalanan Alea Carolina membangun bisnis dimulai pada 2020 saat pandemi COVID-19. Ketika aktivitas belajar di pesantren dihentikan sementara dan para siswa dipulangkan ke rumah, ia mulai tertarik mencoba dunia usaha setelah sering melihat konten bisnis di media sosial.
Saat itu, kondisi ekonomi keluarganya belum stabil. Bahkan, orang tuanya sempat berutang demi membiayai sekolah Alea. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan yang mendorongnya mencari penghasilan sendiri.
Berawal dari Reseller hingga Menemukan Peluang Slime
Sebelum sukses menjual slime, Alea sempat mencoba menjadi reseller produk makanan hewan milik sang ayah. Namun, hasilnya belum memuaskan karena dalam sebulan hanya mampu menjual satu hingga dua produk.
Baca Juga: Partisipasi di Bazar Blitar Djadoel, Rumah BUMN Terus Pacu UMKM Naik Kelas
Kesempatan baru datang ketika ia menekuni hobi membuat slime. Berbekal saran dari ibunya, Alea mulai memproduksi slime sendiri dan memasarkannya melalui marketplace. Meski pada awalnya belum ada penjualan selama beberapa pekan, ia tetap konsisten mengembangkan produknya.
Modal awal yang digunakan pun relatif kecil, sekitar Rp300 ribu yang disisihkan dari uang jajan bulanan. Dari modal tersebut, bisnisnya terus berkembang melalui sistem perputaran keuntungan.
Fokus Online hingga Tembus Ribuan Pesanan
Alea mengembangkan dua merek, yakni Slime Bintaro dan Seven Colors. Produk dipasarkan melalui Shopee, TikTok Shop, WhatsApp, hingga berbagai marketplace lainnya.
Seiring meningkatnya permintaan, ia mulai memperluas strategi pemasaran melalui Facebook Ads dan Google Ads untuk menjangkau konsumen yang lebih luas, khususnya para orang tua.
Saat melayani pelanggan melalui WhatsApp, Alea mengaku sempat menghadapi kendala karena tingginya jumlah pertanyaan yang masuk. Untuk mengatasinya, ia memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) sebagai customer service otomatis agar mampu memberikan respons selama 24 jam.
Mentor Jadi Titik Balik Bisnis
Menurut Alea, salah satu titik balik terbesar dalam perjalanan bisnisnya terjadi pada 2023 setelah bertemu seorang mentor bisnis.
Dari sang mentor, ia belajar bahwa seorang pengusaha tidak boleh hanya sibuk menyelesaikan masalah operasional setiap hari, tetapi juga harus memikirkan strategi jangka panjang.
Sejak saat itu, Alea mulai membangun struktur organisasi dengan merekrut tim HR, marketing, accounting, hingga divisi operasional. Langkah tersebut membuat bisnisnya berkembang jauh lebih cepat dibanding sebelumnya.
Jumlah pesanan yang semula hanya ratusan resi per hari melonjak menjadi lebih dari 1.500 resi. Hingga akhir 2024, perusahaan yang dibangunnya telah memiliki sekitar 80 anggota tim.
Disiplin Jadi Kunci Kesuksesan
Meski bisnisnya terus berkembang, Alea mengaku tetap menjaga disiplin kerja. Ia menerapkan jam kerja delapan jam setiap hari dan selalu mencatat aktivitasnya untuk mengevaluasi tingkat produktivitas.
Menurutnya, konsistensi menjadi faktor terpenting dalam membangun usaha. Ia juga membatasi penggunaan media sosial selama jam kerja agar tetap fokus mengembangkan bisnis.
Menariknya, keuntungan yang diperoleh tidak banyak digunakan untuk membeli barang mewah. Selain membeli sebuah mobil dan membantu orang tua, sebagian besar laba kembali diinvestasikan untuk memperbesar bisnis melalui pembangunan kantor, gudang, dan berbagai aset produktif lainnya.
Ke depan, Alea memiliki mimpi besar menjadikan Slime Bintaro sebagai brand sensory toys terbesar di Asia. Ia ingin membangun merek lokal Indonesia yang mampu bersaing di pasar internasional seperti halnya Lego di industri mainan dunia.
Editor : Maylanni Diana Fitri