BLITARKAWENTAR.JAWAPOS.COM - Regi Zamzam pernah menjadi bahan cibiran ketika memutuskan meninggalkan pekerjaan dan memilih menekuni pertanian hidroponik. Namun, pemuda berusia 23 tahun asal Desa Tanjungpura, Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya itu kini berhasil membuktikan bahwa bertani juga bisa menjadi profesi yang menjanjikan.
Kisah Regi Zamzam bermula saat pandemi COVID-19 membuatnya kehilangan pekerjaan. Sebelum terjun ke dunia pertanian, ia pernah bekerja sebagai promotor telepon seluler, karyawan perusahaan distribusi buah, hingga buruh bangunan dengan upah sekitar Rp80 ribu per hari.
Saat menganggur, Regi mengaku sempat bingung mencari pekerjaan. Kondisi ekonomi keluarga membuatnya rela melakukan berbagai pekerjaan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hingga akhirnya, pertemuannya dengan seorang penyuluh pertanian mengubah arah hidupnya.
Belajar Hidroponik dari Nol
Regi pertama kali mengenal hidroponik ketika melihat greenhouse milik penyuluh pertanian di wilayah Rajapolah. Rasa penasaran membuatnya belajar langsung mengenai teknik budidaya sayuran tanpa menggunakan media tanah.
Selama beberapa bulan ia mempelajari cara menyemai bibit, mengatur nutrisi, hingga merawat tanaman agar menghasilkan panen berkualitas.
Kesempatan semakin terbuka ketika Pemerintah Desa Tanjungpura mengalokasikan anggaran pemberdayaan masyarakat untuk pengembangan hidroponik. Bersama rekannya, Regi mendapat kepercayaan mengelola instalasi berkapasitas sekitar 2.000 lubang tanam.
Pernah Merugi di Awal Usaha
Kesuksesan yang diraih saat ini tidak datang secara instan. Pada masa awal menjalankan usaha, Regi mengaku sempat mengalami kegagalan karena belum menemukan bibit dan nutrisi yang sesuai.
Baca Juga: Daihatsu Sigra X Manual 2026 Jadi LCGC 1.200 cc Termurah, Fiturnya Ternyata Selengkap Ini
Dari ribuan lubang tanam yang dikelola, keuntungan yang diperoleh saat itu hanya sekitar Rp200 ribu sehingga belum mampu menutup biaya produksi.
Berbagai percobaan terus dilakukan hingga akhirnya menemukan teknik budidaya yang lebih efektif. Perlahan hasil panen meningkat dan permintaan pasar terus bertambah.
Kini kapasitas kebunnya berkembang menjadi sekitar 6.000 lubang tanam dengan komoditas utama berupa selada bokor.
Panen Rutin dan Pasar Semakin Luas
Regi menjelaskan bahwa kelompoknya menerapkan metode peremajaan tanaman sehingga panen dapat dilakukan setiap 20 hari secara bergantian.
Dengan sistem tersebut, produksi menjadi lebih stabil dan pasokan ke pasar tetap terjaga. Dalam kondisi normal, kebun hidroponik yang dikelolanya mampu menghasilkan sekitar 12 kuintal selada setiap siklus panen.
Hasil panen kemudian dipasarkan ke berbagai daerah, mulai dari Tasikmalaya, Sumedang, Bandung hingga Jakarta. Bahkan, kelompoknya telah bekerja sama dengan sejumlah pusat perbelanjaan untuk memasok sayuran hidroponik secara rutin.
Menurut Regi, omzet yang diperoleh dari usaha tersebut kini bisa mencapai sekitar Rp20 juta per bulan, tergantung hasil panen dan kondisi pasar.
Ingin Kembangkan Pertanian Modern
Selain mengembangkan usahanya sendiri, Regi juga aktif mengajak masyarakat, khususnya anak muda, untuk belajar hidroponik melalui Kelompok Rumah Hidroponik Tanjungpura Berdikari.
Ia berharap semakin banyak generasi muda yang melihat pertanian sebagai peluang usaha, bukan sekadar pekerjaan tradisional.
Bagi Regi, keberhasilan yang diraih bukan hanya soal penghasilan, tetapi juga kesempatan menciptakan lapangan pekerjaan serta membantu masyarakat memperoleh sumber ekonomi baru.
Ia pun berpesan agar siapa pun yang ingin memulai usaha tidak mudah menyerah hanya karena cibiran orang lain. Menurutnya, konsistensi, kemauan belajar, dan keyakinan menjadi modal utama untuk meraih kesuksesan.
Editor : Maylanni Diana Fitri