BLITAR KAWENTAR – Kampung Reforma Agraria Desa Bandung di Kecamatan Banjar, Kabupaten Pandeglang, menjadi contoh nyata keberhasilan program Reforma Agraria dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Melalui kolaborasi antara pemerintah desa, masyarakat, dan Kementerian ATR/BPN, kawasan yang sebelumnya dipenuhi semak belukar kini berkembang menjadi kampung mandiri dengan berbagai potensi ekonomi unggulan.
Keberhasilan Kampung Reforma Agraria Desa Bandung tidak hanya ditandai dengan penerbitan sertifikat tanah bagi masyarakat. Program ini juga menghadirkan penataan akses ekonomi yang mendorong warga mengembangkan potensi lokal secara terorganisasi sehingga mampu meningkatkan pendapatan dan membuka lapangan usaha baru.
Model pembangunan tersebut membuktikan bahwa Reforma Agraria bukan sekadar memberikan kepastian hukum atas tanah, tetapi juga menjadikan tanah sebagai sumber penghidupan yang mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat.
Baca Juga: Lewat Penataan Akses, Pemerintah Integrasikan Lahan Reforma Agraria dengan Ekosistem Ekonomi Modern
Penataan Aset Dibarengi Pengembangan Ekonomi Desa
Kepala Desa Bandung menjelaskan bahwa sebelum program Reforma Agraria berjalan, berbagai potensi desa sebenarnya sudah ada. Namun, seluruh kegiatan usaha masih dikelola secara mandiri oleh masing-masing warga sehingga pertumbuhan ekonominya belum berkembang secara optimal.
Melalui pendampingan yang dilakukan dalam program Reforma Agraria, masyarakat mulai dihimpun dalam berbagai kelompok usaha sesuai potensi yang dimiliki. Mulai dari kelompok budidaya ikan, kelompok sadar wisata (Pokdarwis), kelompok tani, hingga kelompok kerajinan.
Pendekatan tersebut membuat pengembangan usaha menjadi lebih terarah, memperoleh pelatihan, akses pemasaran, hingga dukungan kelembagaan yang memperkuat ekonomi masyarakat.
Baca Juga: Reforma Agraria: Upaya Pemerataan Tanah demi Kesejahteraan Rakyat dan Ketahanan Pangan Nasional
Tiga Potensi Lokal Jadi Andalan
Program ini berhasil mengembangkan tiga potensi unggulan Desa Bandung, yaitu Kopi Puhu, kerajinan anyaman pandan, dan budidaya Ikan Mas Sinyonya.
Kopi Puhu dikembangkan menjadi produk unggulan sekaligus daya tarik wisata. Sementara itu, anyaman daun pandan yang sebelumnya hanya menghasilkan tikar sederhana kini berkembang menjadi berbagai produk bernilai ekonomi tinggi, salah satunya tas kanderon yang memiliki pasar lebih luas.
Di sektor perikanan, Ikan Mas Sinyonya yang merupakan ikan endemik khas Banten juga berkembang pesat berkat pendampingan dan pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan.
Ikan Mas Sinyonya Tembus Pasar Vietnam
Para pembudidaya Ikan Mas Sinyonya mengaku memperoleh banyak manfaat sejak mengikuti program Reforma Agraria. Jika sebelumnya mereka kesulitan mendapatkan bibit ikan berkualitas, kini kebutuhan tersebut dapat dipenuhi melalui kelompok budidaya yang dibentuk.
Selain memperoleh pelatihan teknis budidaya, para petani ikan juga mendapatkan penguatan kelembagaan sehingga mampu meningkatkan kapasitas produksi.
Hasilnya, budidaya Ikan Mas Sinyonya tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar lokal, tetapi juga berhasil menembus pasar ekspor hingga Vietnam. Capaian tersebut menjadi bukti bahwa potensi desa mampu bersaing di pasar internasional apabila didukung pembinaan yang tepat.
Anyaman Pandan Naik Kelas Hingga Dilirik Dunia
Keberhasilan lain terlihat pada kelompok pengrajin anyaman pandan di Kampung Lembur Kirai. Dengan dukungan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), para ibu rumah tangga mendapatkan pelatihan membuat produk kerajinan yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Pendapatan keluarga pun meningkat sehingga mampu membantu biaya pendidikan anak dan kebutuhan rumah tangga.
Bahkan, hasil kerajinan anyaman pandan Desa Bandung juga menarik perhatian tamu dari berbagai negara seperti Filipina, Pakistan, India, dan Malaysia. Para pengrajin membagikan keterampilan menganyam kepada tamu mancanegara melalui demonstrasi sederhana yang menjadi pengalaman berharga bagi masyarakat setempat.
Agrowisata Kopi Puhu Didukung Kepastian Hukum
Selain sektor kerajinan dan perikanan, Desa Bandung juga mengembangkan Agrowisata Kopi Puhu yang menjadi bagian dari Desa Wisata Bukit Sinyonya. Kawasan ini menjadi tempat edukasi pengolahan kopi sekaligus destinasi wisata yang menarik bagi para pecinta kopi.
Seluruh lahan di kawasan wisata tersebut telah memiliki sertifikat resmi dari BPN. Sebanyak 12 pemilik tanah bekerja sama dengan BUMDes melalui skema pemanfaatan lahan selama 20 tahun sehingga memberikan kepastian hukum sekaligus mencegah potensi sengketa tanah di masa mendatang.
Keberhasilan Kampung Reforma Agraria Desa Bandung menjadi bukti bahwa penataan aset yang disertai penataan akses mampu mengubah potensi desa menjadi kekuatan ekonomi masyarakat. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan ATR/BPN pun menjadi fondasi penting dalam mewujudkan desa yang mandiri, produktif, dan sejahtera.
Editor : Regina Gavin Agata