BLITAR KAWENTAR – Kegiatan lepas tukik Pantai Serang kembali menjadi magnet wisata edukasi di Kabupaten Blitar. Sebanyak 262 ekor tukik atau anak penyu lekang dilepasliarkan ke habitat alaminya di Pantai Serang, Kecamatan Panggungrejo, Selasa (7/7).
Kegiatan tersebut bukan sekadar atraksi wisata, tetapi juga menjadi bagian dari upaya konservasi satwa dilindungi sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat.
Ratusan tukik yang dilepas berasal dari telur penyu hasil relokasi sarang alami di Pantai Jebring. Telur-telur tersebut ditetaskan secara semi-alami oleh relawan Konservasi Penyu Segoro Lestari sebelum akhirnya dilepas ke laut ketika kondisinya dinilai siap bertahan hidup di alam bebas.
Suasana sore di Pantai Serang dipenuhi antusiasme puluhan pengunjung. Mereka berkesempatan memegang tukik satu per satu sebelum melepaskannya menuju bibir pantai.
Sesekali ombak datang menghampiri, membantu anak-anak penyu tersebut berenang menuju lautan lepas untuk memulai siklus hidupnya.
Edukasi Jadi Tujuan Utama
Humas Konservasi Penyu Segoro Lestari Impron Rosadi mengatakan, pelepasliaran tukik tidak hanya bertujuan mengembalikan penyu ke habitatnya.
Kegiatan tersebut juga dirancang agar masyarakat memahami pentingnya menjaga kelestarian penyu yang populasinya terus menghadapi berbagai ancaman.
Sebelum mengikuti pelepasliaran, seluruh peserta diwajibkan mengikuti sesi Turtle Talk. Dalam kegiatan tersebut, relawan memberikan penjelasan mengenai jenis-jenis penyu yang hidup di Indonesia, proses penetasan telur, masa inkubasi, hingga berbagai ancaman yang menyebabkan populasi penyu terus menurun.
Melalui pendekatan edukatif tersebut, pengunjung diharapkan tidak sekadar menikmati pengalaman melepas tukik, tetapi juga membawa pulang pengetahuan baru mengenai pentingnya menjaga ekosistem laut.
Diminati Wisatawan Hingga Peneliti
Program konservasi di Pantai Serang kini semakin dikenal luas. Tidak hanya dikunjungi masyarakat Blitar, kegiatan tersebut juga menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah, bahkan wisatawan mancanegara.
Selain menjadi destinasi wisata edukasi, kawasan konservasi juga kerap menjadi lokasi penelitian bagi kalangan akademisi yang ingin mempelajari siklus hidup penyu maupun upaya konservasi berbasis masyarakat.
Antusiasme masyarakat terlihat dari tingginya minat mengikuti kegiatan pelepasliaran. Setiap kali pendaftaran dibuka melalui media sosial, kuota peserta biasanya habis hanya dalam beberapa jam.
Hal tersebut menunjukkan meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap pelestarian satwa laut yang dilindungi.
Gratis Sejak 2022
Menariknya, seluruh rangkaian kegiatan edukasi dan pelepasliaran tukik diberikan secara gratis sejak 2022.
Kebijakan tersebut diambil untuk menghapus stigma lama bahwa kegiatan pelepasan penyu selalu dipungut biaya.
Baca Juga: Mengunjungi Wisata Edukasi Kaliganter di Blitar: Awalnya Hanya Lahan Desa yang Tak Terurus
Menurut Impron, saat kawasan pantai masih dikelola pihak lain, wisatawan dikenakan tarif sekitar Rp20 ribu hingga Rp50 ribu untuk mengikuti pelepasan tukik.
Kini seluruh kegiatan dilakukan tanpa biaya karena para relawan bekerja secara sukarela. Mereka ingin memastikan konservasi benar-benar menjadi gerakan bersama demi menyelamatkan penyu dari ancaman kepunahan.
Dorong Ekonomi Masyarakat Pesisir
Di balik misi konservasi, kegiatan ini juga membawa dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar Pantai Serang.
Setiap agenda pelepasliaran mampu mendatangkan puluhan pengunjung dari luar daerah. Kehadiran wisatawan tersebut membuka peluang bagi pelaku usaha lokal seperti pedagang makanan, penyedia jasa parkir, hingga pelaku UMKM di kawasan wisata.
Relawan berharap masyarakat pesisir dapat memanfaatkan meningkatnya kunjungan wisata sebagai peluang usaha yang berkelanjutan tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
Dengan menggabungkan konservasi, edukasi, dan pengembangan wisata berbasis alam, Pantai Serang diharapkan mampu menjadi contoh pengelolaan kawasan pesisir yang tidak hanya menjaga keberadaan penyu, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Semakin banyak masyarakat yang memahami pentingnya pelestarian penyu, semakin besar pula peluang satwa laut tersebut tetap lestari untuk generasi mendatang. Kegiatan pelepasliaran tukik pun diharapkan terus menjadi agenda rutin yang mampu memperkuat posisi Pantai Serang sebagai destinasi wisata konservasi unggulan di Kabupaten Blitar.
Editor : Aprillita Saskia Azzahrah Putri Kurniawan