BLITAR KAWENTAR - Tren kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kesehatan secara mandiri menunjukkan grafik positif. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Blitar pada pekan pertama Juli 2026, angka pendaftaran maupun kehadiran warga dalam mengakses layanan kesehatan di puskesmas naik signifikan.
Kepala Dinkes Kota Blitar, Dissie Laksmonowati Arlini, menyatakan bahwa peningkatan angka pendaftaran maupun kehadiran tersebut menjadi sinyal baik bagi iklim kesehatan publik. Kendati demikian, tantangan dalam mengikis kebiasaan hidup pasif di tengah masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
"Kesadaran masyarakat harus terus ditingkatkan. Apalagi sekarang banyak makanan minuman yang serbainstan, kebiasaan rebahan atau males gerak harus diperangi," kata Dissie, Minggu (12/7/2026).
Berdasarkan data dinkes, tren pendaftaran pada 24 Juni 2026 berada di posisi 46.286, kemudian melonjak menjadi 47.666 pendaftar pada 1 Juli 2026. Hal ini berbanding lurus dengan angka kehadiran masyarakat untuk mengakses layanan kesehatan yang merangkak naik dari 45.771 kehadiran menjadi 47.153 kehadiran pada periode yang sama.
Melalui Program Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG), Pemkot Blitar memetakan deteksi dini penyakit hingga status mental warga secara berkala. Jenis pemeriksaan ini disesuaikan dengan kelompok usia.
Secara umum, layanan mencakup pemeriksaan fisik dan tanda vital seperti tekanan darah, tinggi badan, berat badan, serta lingkar perut untuk memantau risiko obesitas.
“Selain itu, dilakukan skrining penyakit tidak menular (PTM) yang meliputi cek gula darah untuk risiko diabetes, kolesterol, hingga fungsi ginjal,” tuturnya.
Upaya pemkot dalam memantau kondisi kesehatan warga ini tercermin dari capaian PKG yang melampaui ekspektasi. Target sasaran PKG awalnya dipatok menyasar 46 persen dari total penduduk kota.
Namun, realisasinya, capaian PKG Kota Blitar saat ini telah menembus 61,16 persen dari target sasaran atau setara dengan 29,68 persen dari total keseluruhan penduduk Kota Blitar.
Melalui edukasi yang terus dibangun oleh petugas kesehatan, dinkes berharap pemahaman klinis ini tidak berhenti sebagai data di fasilitas kesehatan saja, tetapi menjadi stimulus perubahan perilaku di tingkat keluarga.
“Kami berharap bekal edukasi yang dibawa pulang bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari demi mewujudkan Kota Blitar yang bebas stunting,” tandasnya.(mg1/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah