BLITARKAWENTAR.JAWAPOS.COM - Primbon Jawa selama ini sering dikaitkan dengan ramalan, weton, hingga penentuan hari baik. Namun, di balik anggapan tersebut, Primbon Jawa sebenarnya memiliki sejarah panjang sebagai kumpulan pengetahuan tradisional yang lahir dari hasil pengamatan masyarakat Jawa terhadap alam dan kehidupan.
Dalam penjelasan yang disampaikan pada transkrip video, Primbon Jawa bukan sekadar kitab yang berisi ramalan. Isinya merupakan kumpulan pengalaman para leluhur yang disusun menjadi pedoman untuk membantu masyarakat mengambil keputusan dalam berbagai aspek kehidupan.
Mulai dari urusan pertanian, kesehatan, hubungan sosial, hingga persoalan spiritual, semuanya memiliki pembahasan tersendiri dalam berbagai kitab primbon.
Berawal dari Pengamatan Alam Semesta
Dijelaskan bahwa sejarah Primbon Jawa bermula dari kebiasaan manusia zaman dahulu yang mencatat berbagai peristiwa alam.
Fenomena-fenomena tersebut dipelajari secara terus-menerus hingga menghasilkan berbagai pengetahuan yang kemudian dihimpun menjadi sebuah kitab.
Karena berasal dari pengalaman yang diwariskan turun-temurun, primbon dipandang sebagai pedoman, bukan aturan mutlak yang harus dipercaya tanpa pertimbangan.
Oleh sebab itu, Primbon Jawa disebut lahir melalui proses panjang berdasarkan pengalaman masyarakat terdahulu.
Memiliki Banyak Jenis Kitab
Seiring perkembangannya, muncul berbagai kitab Primbon Jawa dengan pembahasan yang berbeda.
Baca Juga: Gagal Salip Truk Gandeng di Selorejo, Grand Max Ringsek Hantam Pagar Rumah Warga
Primbon Weda Mantra berisi ilmu gaib, mantra, dan pengetahuan Kejawen.
Primbon Bekti Jamal membahas pitungan, ilmu falak, hingga perhitungan waktu.
Sementara Primbon Wejangan Wali Songo memuat berbagai nasihat yang dikaitkan dengan ajaran para Wali Songo.
Ada pula Primbon Mantra Yoga yang berisi kumpulan mantra beserta fungsi masing-masing.
Sedangkan Primbon Jongko Ronggowarsito membahas ramalan, kisah Jaka Lodang, serta perhitungan masa Kaladita.
Selain itu, terdapat Primbon Sabda Amerta yang digunakan untuk membaca watak seseorang berdasarkan perhitungan hari kelahiran.
Serat Panangguhing Duwung membahas filosofi keris, cara pembuatan, hingga perawatannya.
Sementara Primbon Pustaka Raja dan Primbon Sabda Sasmaya lebih banyak mengulas doa, mantra, serta berbagai ajaran Kejawen lainnya.
Rekomendasi Kitab Primbon
Dalam penjelasan tersebut juga disebutkan sejumlah kitab Primbon Jawa yang cukup populer.
Salah satunya adalah kitab Primbon Jawa yang diterbitkan di Yogyakarta dan dikenal membahas watak, hari baik, mantra, serta jimat.
Kemudian ada Kitab Primbon Atasadur Adammakna karya Pangeran Danuredjo yang mengulas ilmu kebatinan, yoga, samadi, doa, dan berbagai mantra.
Kitab Primbon Jawa Darna juga disebut memuat pembahasan mengenai umur panjang, pengobatan tradisional, asmara, hingga sastra gending.
Selain itu terdapat buku Primbon Jawa Serbaguna Tetap Relevan Sepanjang Masa karya Erguna Sasmita yang mengulas tafsir mimpi dan berbagai pertanda menurut tradisi Jawa.
Cabang Ilmu dalam Primbon Jawa
Primbon Jawa memiliki sejumlah cabang ilmu yang membahas berbagai bidang kehidupan.
Pranata Mangsa digunakan untuk membaca pergantian musim sebagai acuan bertani maupun melaut.
Petungan memanfaatkan perhitungan neptu dan weton untuk menentukan kecocokan jodoh, hari baik, hingga melihat karakter seseorang.
Ada pula ramalan atau jangka yang membahas prediksi terhadap peristiwa dalam lingkup lebih luas.
Pawukon berisi sistem perhitungan waktu yang dipadukan dengan mitologi Jawa.
Cabang lainnya meliputi pengobatan tradisional, tata cara selamatan, wirid, aji-aji, kidung, donga, hingga alamat atau sasmita gaib yang menjelaskan berbagai pertanda menurut kepercayaan masyarakat Jawa.
Menjadi Bagian dari Kekayaan Budaya Jawa
Keberadaan Primbon Jawa menunjukkan bahwa masyarakat Jawa sejak dahulu telah memiliki tradisi pencatatan pengetahuan yang cukup kompleks.
Berbagai kitab tersebut memuat perpaduan antara pengalaman hidup, budaya, kepercayaan, hingga pengetahuan tradisional yang diwariskan lintas generasi.
Hingga kini, Primbon Jawa masih dikenal sebagai salah satu warisan budaya yang terus dipelajari untuk memahami cara pandang masyarakat Jawa terhadap kehidupan dan alam semesta.
Editor : Maylanni Diana Fitri