Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik Sport

Limbah Biji Biksa Jadi Pewarna Batik Ramah Lingkungan, Pemuda Blitar Kembangkan Program SORAI untuk Dukung UMKM Berkelanjutan

M. Subchan Abdullah • Kamis, 16 Juli 2026 | 11:16 WIB
Ari Prasetyo menunjukkan hasil pewarna alami berbahan limbah biji biksa yang dikembangkan melalui Program SORAI sebagai inovasi ramah lingkungan untuk mendukung UMKM batik berkelanjutan di Kabupaten Blitar.
Ari Prasetyo menunjukkan hasil pewarna alami berbahan limbah biji biksa yang dikembangkan melalui Program SORAI sebagai inovasi ramah lingkungan untuk mendukung UMKM batik berkelanjutan di Kabupaten Blitar.

BLITAR KAWENTAR – Limbah biji biksa yang selama ini kerap dianggap tidak bernilai ternyata mampu diolah menjadi pewarna batik ramah lingkungan. Inovasi tersebut dikembangkan oleh pemuda asal Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar, Ari Prasetyo, melalui program SORAI (Solusi Pewarna Organik Ramah Lingkungan untuk Inovasi Batik Berkelanjutan). Program ini tidak hanya mendorong pelestarian lingkungan, tetapi juga memperkuat daya saing UMKM batik berbasis potensi lokal.

Pemanfaatan limbah biji biksa sebagai pewarna batik ramah lingkungan menjadi solusi atas tingginya penggunaan pewarna sintetis yang masih mendominasi industri batik. Selain mengurangi pencemaran lingkungan, inovasi tersebut juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat Kabupaten Blitar.

Program SORAI dilaksanakan selama April hingga Juli 2026 dengan melibatkan berbagai pihak, mulai pemerintah daerah, akademisi, pelaku UMKM, kelompok sadar wisata (Pokdarwis), hingga masyarakat. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mempercepat penerapan konsep industri kreatif yang lebih berkelanjutan.

Baca Juga: Lewat LinkUMKM BRI, Cinta Batik Semarang Kembangkan Batik Ramah Lingkungan hingga Menjangkau Pasar Internasional

Berangkat dari Persoalan Lingkungan

Ari Prasetyo mengaku gagasan tersebut lahir setelah melihat dua persoalan yang terjadi bersamaan. Di satu sisi, limbah pewarna sintetis dari industri tekstil berpotensi mencemari lingkungan. Di sisi lain, tanaman biksa yang tumbuh melimpah di Kabupaten Blitar, khususnya Desa Sawentar, belum dimanfaatkan secara optimal.

Berbekal kondisi tersebut, Ari mulai melakukan riset mengenai potensi biji biksa sebagai pewarna alami. Hasilnya menunjukkan bahwa biji tanaman tersebut mampu menghasilkan warna alami yang dapat diaplikasikan pada kain batik. Untuk memperkaya variasi warna, bahan tersebut dipadukan dengan tanah liat yang juga berasal dari potensi lokal.

Baca Juga: Motor Listrik Operasional MBG Jadi Sorotan, Solusi Transportasi Hemat dan Ramah Lingkungan untuk Program Makan Bergizi Gratis

Menurut Ari, keberhasilan sebuah program tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang dilakukan, melainkan dari perubahan yang mampu dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.

Tingkat Literasi Masih Menjadi Tantangan

Sebelum menjalankan program, Ari melakukan observasi dan survei terhadap 24 perajin batik di Kabupaten Blitar. Dari hasil survei tersebut diketahui bahwa hanya sekitar 45 persen perajin yang pernah menggunakan pewarna alami.

Bahkan, sekitar 70 persen responden mengaku belum mengetahui bahwa biji biksa dan tanah liat dapat dimanfaatkan sebagai bahan pewarna batik. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukan hanya pada aspek teknologi, melainkan juga peningkatan literasi masyarakat mengenai pemanfaatan sumber daya lokal.

Karena itu, Ari tidak hanya fokus menghasilkan produk pewarna alami, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat melalui berbagai kegiatan edukatif.

Gandeng Berbagai Pihak

Dalam pelaksanaan program SORAI, Ari berperan sebagai peneliti, penyusun konsep, fasilitator pelatihan, hingga penghubung berbagai mitra. Ia menggandeng dinas terkait, pemerintah desa, akademisi, pelaku UMKM, serta Pokdarwis melalui pendekatan kolaborasi pentahelix.

Beragam kegiatan dilakukan, mulai workshop, demonstrasi pembuatan batik menggunakan pewarna alami, pendampingan teknis bagi UMKM, hingga kampanye digital mengenai pentingnya produk ramah lingkungan.

Baca Juga: DPRD Kabupaten Blitar Terus Dorong Inovasi di Bidang Pertanian Ramah Lingkungan Demi Tingkatkan Produktivitas

Pendekatan tersebut perlahan mulai membuahkan hasil. Masyarakat semakin memahami manfaat pewarna alami, sementara pelaku UMKM mulai mempertimbangkan penggunaannya sebagai alternatif pengganti pewarna sintetis.

Selain menghasilkan produk pewarna organik dan batik ramah lingkungan, program ini juga melahirkan modul edukasi bertajuk Metode Pewarnaan Batik Ramah Lingkungan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran.

Dorong Desa Sawentar Jadi Kampung Batik Alami

Baca Juga: Olah Limbah Ternak untuk Pertanian Ramah Lingkungan, RW 4 Kelurahan Klampok Kota Blitar Diganjar Penghargaan Proklim

Ari berharap inovasi yang dikembangkannya mampu menjadi langkah awal menuju industri batik yang lebih berkelanjutan di Kabupaten Blitar. Menurutnya, pemanfaatan potensi lokal dapat menciptakan nilai tambah sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Ke depan, ia bercita-cita menjadikan Desa Sawentar sebagai Kampung Batik Alami yang tidak hanya menjadi pusat produksi batik berbahan pewarna organik, tetapi juga berkembang sebagai destinasi edukasi dan wisata berbasis ekonomi kreatif hijau.

Melalui program SORAI, Ari optimistis Kabupaten Blitar dapat dikenal sebagai daerah yang mampu menghadirkan inovasi batik ramah lingkungan sekaligus memperkuat posisi UMKM lokal di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap produk berkelanjutan.

Editor : Regina Gavin Agata
limbah biji baksa pewarna batik ramah lingkugan program SORAI UMKM batik blitar ari prasetyo