BLITAR KAWENTAR – Limbah biji biksa yang selama ini kerap dianggap tidak bernilai ternyata mampu diolah menjadi pewarna batik ramah lingkungan. Inovasi tersebut dikembangkan oleh pemuda asal Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar, Ari Prasetyo, melalui program SORAI (Solusi Pewarna Organik Ramah Lingkungan untuk Inovasi Batik Berkelanjutan). Program ini tidak hanya mendorong pelestarian lingkungan, tetapi juga memperkuat daya saing UMKM batik berbasis potensi lokal.
Pemanfaatan limbah biji biksa sebagai pewarna batik ramah lingkungan menjadi solusi atas tingginya penggunaan pewarna sintetis yang masih mendominasi industri batik. Selain mengurangi pencemaran lingkungan, inovasi tersebut juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat Kabupaten Blitar.
Program SORAI dilaksanakan selama April hingga Juli 2026 dengan melibatkan berbagai pihak, mulai pemerintah daerah, akademisi, pelaku UMKM, kelompok sadar wisata (Pokdarwis), hingga masyarakat. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mempercepat penerapan konsep industri kreatif yang lebih berkelanjutan.
Berangkat dari Persoalan Lingkungan
Ari Prasetyo mengaku gagasan tersebut lahir setelah melihat dua persoalan yang terjadi bersamaan. Di satu sisi, limbah pewarna sintetis dari industri tekstil berpotensi mencemari lingkungan. Di sisi lain, tanaman biksa yang tumbuh melimpah di Kabupaten Blitar, khususnya Desa Sawentar, belum dimanfaatkan secara optimal.
Berbekal kondisi tersebut, Ari mulai melakukan riset mengenai potensi biji biksa sebagai pewarna alami. Hasilnya menunjukkan bahwa biji tanaman tersebut mampu menghasilkan warna alami yang dapat diaplikasikan pada kain batik. Untuk memperkaya variasi warna, bahan tersebut dipadukan dengan tanah liat yang juga berasal dari potensi lokal.
Menurut Ari, keberhasilan sebuah program tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang dilakukan, melainkan dari perubahan yang mampu dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.
Tingkat Literasi Masih Menjadi Tantangan
Sebelum menjalankan program, Ari melakukan observasi dan survei terhadap 24 perajin batik di Kabupaten Blitar. Dari hasil survei tersebut diketahui bahwa hanya sekitar 45 persen perajin yang pernah menggunakan pewarna alami.
Bahkan, sekitar 70 persen responden mengaku belum mengetahui bahwa biji biksa dan tanah liat dapat dimanfaatkan sebagai bahan pewarna batik. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukan hanya pada aspek teknologi, melainkan juga peningkatan literasi masyarakat mengenai pemanfaatan sumber daya lokal.
Karena itu, Ari tidak hanya fokus menghasilkan produk pewarna alami, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat melalui berbagai kegiatan edukatif.
Gandeng Berbagai Pihak
Dalam pelaksanaan program SORAI, Ari berperan sebagai peneliti, penyusun konsep, fasilitator pelatihan, hingga penghubung berbagai mitra. Ia menggandeng dinas terkait, pemerintah desa, akademisi, pelaku UMKM, serta Pokdarwis melalui pendekatan kolaborasi pentahelix.
Beragam kegiatan dilakukan, mulai workshop, demonstrasi pembuatan batik menggunakan pewarna alami, pendampingan teknis bagi UMKM, hingga kampanye digital mengenai pentingnya produk ramah lingkungan.
Pendekatan tersebut perlahan mulai membuahkan hasil. Masyarakat semakin memahami manfaat pewarna alami, sementara pelaku UMKM mulai mempertimbangkan penggunaannya sebagai alternatif pengganti pewarna sintetis.
Selain menghasilkan produk pewarna organik dan batik ramah lingkungan, program ini juga melahirkan modul edukasi bertajuk Metode Pewarnaan Batik Ramah Lingkungan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran.
Dorong Desa Sawentar Jadi Kampung Batik Alami
Ari berharap inovasi yang dikembangkannya mampu menjadi langkah awal menuju industri batik yang lebih berkelanjutan di Kabupaten Blitar. Menurutnya, pemanfaatan potensi lokal dapat menciptakan nilai tambah sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Ke depan, ia bercita-cita menjadikan Desa Sawentar sebagai Kampung Batik Alami yang tidak hanya menjadi pusat produksi batik berbahan pewarna organik, tetapi juga berkembang sebagai destinasi edukasi dan wisata berbasis ekonomi kreatif hijau.
Melalui program SORAI, Ari optimistis Kabupaten Blitar dapat dikenal sebagai daerah yang mampu menghadirkan inovasi batik ramah lingkungan sekaligus memperkuat posisi UMKM lokal di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap produk berkelanjutan.
Editor : Regina Gavin Agata