Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik Sport

Sejarah Ir Soekarno: Dari Kusno Sosrodiharjo, Kisah Asmara, hingga Pengasingan Pilu di Wismayaso

Muhammad Rusdian Nuzula • Kamis, 16 Juli 2026 | 21:20 WIB
Simak kilas balik Sejarah Ir Soekarno sejak masa kecil Kusno Sosrodiharjo, dinamika kisah asmara tokoh proklamator, hingga akhir hayat pilu di Wismayaso. (PINTEREST)
Simak kilas balik Sejarah Ir Soekarno sejak masa kecil Kusno Sosrodiharjo, dinamika kisah asmara tokoh proklamator, hingga akhir hayat pilu di Wismayaso. (PINTEREST)

BLITARKAWENTAR.JAWAPOS.COM - Sejarah perjalanan hidup Presiden pertama Republik Indonesia sekaligus Bapak Proklamator, Ir Soekarno, selalu menarik untuk diulas. Tokoh bangsa yang dikenal memiliki karisma luar biasa ini memiliki rekam jejak panjang yang penuh dinamika. Mulai dari masa kecilnya yang berpindah-pindah, perjuangan politik melawan kolonialisme, kisah asmara yang berlapis, hingga akhir hayatnya yang menyedihkan sebagai tahanan rumah. Rekam jejak sejarah publik ini menjadi bukti nyata mengenai pasang surut kehidupan sang penyambung lidah rakyat Indonesia.

Nama besar yang disandangnya kini ternyata berbeda jauh dengan nama saat dirinya dilahirkan ke dunia. Tokoh besar ini lahir di Blitar, Jawa Timur, pada tanggal 6 Juni 1901 dari pasangan Raden Sukemi Sosrodiharjo dan Ida Ayu Nyoman Rai. Saat pertama kali lahir, ia diberi nama Kusno Sosrodiharjo. Karena sering mengalami sakit-sakitan pada masa kecilnya, Kusno sempat dirawat dan tinggal bersama kakeknya yang bernama Raden Harjokromo di Tulungagung.

Barulah pada tahun 1909 saat menginjak usia 8 tahun, ia kembali tinggal bersama kedua orang tuanya. Karena nama Kusno dianggap terlalu berat bagi sang anak yang sering sakit, namanya kemudian diubah menjadi Soekarno. Sejak usia sekolah, Soekarno menunjukkan prestasi yang sangat luar biasa dan memiliki kemampuan linguistik yang jenius. Dirinya tercatat mampu menguasai banyak bahasa asing dan daerah, mulai dari bahasa Belanda, Inggris, Jerman, Arab, Prancis, Jepang, Jawa, Sunda, Bali, hingga Melayu.

Baca Juga: Argentina Tantang Spanyol di Final Piala Dunia 2026, Inggris dan Prancis Berebut Posisi Ketiga

Jaringan Politik Cokroaminoto dan Awal Mula Perjuangan

Pendidikan Soekarno berlanjut ke Europeesche Lagere School (ELS) pada tahun 1911 untuk mempermudah akses masuk ke Hogere Burgerschool (HBS). Kelulusannya ke HBS tidak terlepas dari bantuan sahabat ayahnya, yakni Haji Umar Said Cokroaminoto, yang merupakan pendiri sekaligus pemimpin Sarekat Islam. Selama menempuh pendidikan di Surabaya, Soekarno tinggal di pondokan kediaman Cokroaminoto. Di tempat inilah ia mulai berinteraksi langsung dengan tokoh pergerakan seperti Alimin, Muso, Dharsono, Haji Agus Salim, hingga Abdul Muis.

Cokroaminoto juga memberikan kesempatan kepada Soekarno muda untuk magang menulis artikel di koran Utusan Hindia. Pengalaman menulis dan berdiskusi ini dimanfaatkannya untuk belajar politik secara mendalam serta melatih kemampuan orasi atau pidato. Jiwa pergerakannya semakin matang saat ia bergabung dalam organisasi pemuda Trikoro Dharmo dan mulai mengenal tokoh nasional seperti Dr. Douwes Dekker, Cipto Mangunkusumo, dan Ki Hajar Dewantara.

Pada tahun 1919, sebelum lulus HBS, istri Cokroaminoto yang bernama Suharsikin meninggal dunia. Untuk meringankan beban sang mentor, Soekarno menyampaikan niatnya untuk menikahi putri Cokroaminoto yang bernama Siti Utari. Keduanya resmi menikah di Surabaya pada tahun 1921 saat Siti Utari berusia 16 tahun dan Soekarno berusia 20 tahun. Namun, Soekarno mengaku pernikahan tersebut dijalani tanpa hubungan suami istri demi menghormati Cokroaminoto, hingga akhirnya mereka bercerai pada tahun 1923.

Studi di Bandung dan Pendirian PNI

Setelah lulus SMA pada tahun 1921, Soekarno sebenarnya memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan kuliah ke negara Belanda. Namun, sang ibu melarang rencana tersebut karena keterbatasan biaya dan memintanya untuk tetap menimba ilmu di dalam negeri. Soekarno mematuhi nasihat ibunya dan memilih masuk ke Technische Hoogeschool (THS) yang sekarang menjadi ITB dengan mengambil jurusan Teknik Sipil. Di Bandung, ia menumpang tinggal di rumah seorang pengusaha Sarekat Islam bernama Haji Sanusi dan istrinya, Inggit Garnasih.

Hubungan rumah tangga Haji Sanusi dan Inggit yang retak akhirnya berujung pada perpisahan. Setelah resmi bercerai dengan Siti Utari pada tahun 1923, Soekarno yang saat itu berusia 21 tahun memutuskan untuk menikahi Inggit Garnasih yang telah berusia 35 tahun. Inggit menjadi sosok istri setia yang mendampingi jatuh bangun karir politik Soekarno, meskipun pernikahan mereka tidak dikaruniai anak. Soekarno berhasil lulus dari THS dan meraih gelar insinyurnya pada tanggal 25 Mei 1926. Bersama Insinyur Anwari, ia sempat mendirikan biro arsitek dan merancang berbagai bangunan.

Jiwa revolusionernya mendorong Insinyur Soekarno mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) pada 4 Juli 1927 saat berusia 26 tahun dengan target kemerdekaan penuh Indonesia. Akibat aktivitas politiknya yang dinilai membahayakan, pemerintah kolonial Belanda menangkap Soekarno dan menjebloskannya ke Penjara Banceuy di Bandung. Tak lama setelah itu, pada tahun 1930, ia dipindahkan ke Lapas Sukamiskin Bandung akibat konflik dengan pengusaha Belanda. PNI kemudian resmi dibubarkan dan dilarang pada tahun 1931. setelah bebas, Soekarno bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo) pada tahun 1932, yang kembali berujung pada pengasingannya ke Ende, Nusa Tenggara Timur.

Dinamika Asmara dan Proklamasi Kemerdekaan

Saat berada dalam masa pengasingan kolonial di Bengkulu pada tahun 1938, Soekarno bertemu dengan Fatmawati, putri dari seorang pimpinan Muhammadiyah. Hubungan yang awalnya berjalan sebagai guru dan murid berubah menjadi getar-getar cinta. Karena Soekarno ingin menikahi Fatmawati, Inggit Garnasih menolak keras dimadu dan memilih untuk dipulangkan ke kampung halamannya hingga mereka resmi bercerai pada tahun 1943. Pada 23 Agustus 1943, Soekarno resmi menikahi Fatmawati yang saat itu berusia 20 tahun, sementara dirinya berusia 42 tahun. Pernikahan ini dikaruniai lima orang anak, yaitu Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, dan Guruh Soekarnoputra.

Puncak perjuangan politiknya terjadi pada tahun 1945 saat Indonesia berhasil memproklamasikan kemerdekaan. Melalui dinamika hubungan yang pasang surut, Soekarno dan Mohammad Hatta akhirnya dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden pertama Republik Indonesia, dengan Ibu Negara Fatmawati sebagai penjahit bendera Merah Putih pertama. Namun, roda rumah tangga kembali berputar saat Soekarno melakukan perjalanan dinas ke Yogyakarta pada tahun 1952. Ia bertemu dengan Hartini di rumah dinas Bupati Salatiga. Setelah Hartini bercerai dari suaminya, Soekarno memutuskan menikahinya di Istana Cipanas pada 7 Juli 1953, yang memicu keretakan hubungannya dengan Fatmawati. Pernikahan dengan Hartini dikaruniai dua anak, Taufan Soekarnoputra dan Bayu Soekarnoputra.

Dunia politik Soekarno mulai goyah ketika Wakil Presiden Mohammad Hatta memilih mengundurkan diri pada tahun 1956 karena perbedaan visi. Di tengah situasi politik yang mulai tidak stabil, Soekarno kembali melangsungkan beberapa pernikahan. Pada tahun 1959, ia menikahi seorang pramugari Garuda Indonesia asal Bolaang Mongondow bernama Kartini Manopo secara tidak resmi, yang nantinya melahirkan Toto Suryawan Soekarnoputra di Jerman. Di tahun yang sama, Soekarno bertemu dengan gadis asal Jepang bernama Naoko Nemoto di Hotel Imperial Jepang. Naoko kemudian diboyong ke Indonesia, dinikahi pada tahun 1962, berganti nama menjadi Ratnasari Dewi, dan dikaruniai seorang putri bernama Kartikasari Dewi (Karina). Setelah itu, Soekarno juga tercatat menikahi Haryati (1963) yang dikaruniai anak bernama Ayu Gembirowati, Yurike Sanger (1964), dan Heldi Djafar (1966).

Kejatuhan Politik dan Akhir Hayat yang Pilu

Baca Juga: Argentina Tantang Spanyol di Final Piala Dunia 2026, Inggris dan Prancis Berebut Posisi Ketiga

Situasi politik nasional memanas hingga mencapai puncaknya pada peristiwa pemberontakan G30S/PKI tahun 1965 yang melumpuhkan sebagian besar wilayah Indonesia. Ketidakpuasan masyarakat memicu banyak aksi demonstrasi dan pemberontakan di berbagai daerah. Tekanan politik yang luar biasa memaksa Ir Soekarno resmi mundur dari jabatan presiden pada tahun 1967 setelah memimpin selama 22 tahun, dan posisinya digantikan oleh Jenderal Soeharto. setelah Lengser, Soekarno diminta meninggalkan Istana Merdeka dan Istana Bogor untuk pindah ke Paviliun Bogor sebelum akhirnya menetap di Wismayaso, Jakarta.

Kehidupan di Wismayaso menjadi lembaran paling pilu bagi sang proklamator. Soekarno menjalani masa tahanan rumah dengan pengawasan yang sangat ketat dari pemerintahan baru. Ia terisolasi dari dunia luar, tinggal sendirian tanpa kehadiran satu pun anggota keluarga yang mendampingi, serta memiliki waktu kunjung yang sangat dibatasi. Dalam kondisi kesepian yang mendalam, fisik Soekarno mulai digerogoti oleh penyakit gagal ginjal yang sangat parah. Karena statusnya sebagai tahanan, ia hanya mendapatkan perawatan medis seadanya hingga dilaporkan mulai pikun dan sering berbicara sendiri di masa tuanya.

Perjuangan hidup sang arsitek bangsa akhirnya terhenti untuk selamanya. Pada tanggal 21 Juni 1970, Ir Soekarno menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Pusat Angkatan Danau (RSPAD) Gatot Subroto dalam usia 69 tahun. Pihak otoritas kemudian membawa jasad sang proklamator menuju Kota Blitar untuk dimakamkan di sana. Kepergian Bung Karno meninggalkan warisan sejarah besar mengenai kegigihan perjuangan kemerdekaan, sekaligus menyisakan kisah akhir hayat yang penuh dengan kepiluan di balik dinding pengasingan

Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sejarah Ir Soekarno Mengulas Kembali Sejarah Ir Soekarno dari Masa Kecil Kusno Sosrodiharjo hingga Akhir Hayat di Wismayaso Masa kecil Kusno Sosrodiharjo biografi presiden pertama Indonesia kisah cinta Soekarno Fatmawati