Kisah Andri Setiawan, Pengrawit Muda Blitar yang Konsisten Lestarikan Karawitan hingga Jadi Duta Seni ke Luar Pulau

M. Subchan Abdullah • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 14:00 WIB
JIWA SENI: Andri Setiawan bertugas sebagai pengrawit gelaran seni di Istana Gebang, Kota Blitar, beberapa waktu lalu.
JIWA SENI: Andri Setiawan bertugas sebagai pengrawit gelaran seni di Istana Gebang, Kota Blitar, beberapa waktu lalu.

 

BLITAR KAWENTAR – Di tengah derasnya arus musik modern, Andri Setiawan membuktikan bahwa seni karawitan masih memiliki tempat di hati generasi muda.

 Pria berusia 30 tahun asal Dusun Glagahombo, Kelurahan Kamulan, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar ini konsisten menekuni dunia gamelan hingga dipercaya menjadi Duta Seni Kota Blitar dan tampil di berbagai daerah di Indonesia.

Perjalanan Andri Setiawan sebagai pengrawit tidak dibangun dalam semalam. Di balik tabuhan kendang yang kini kerap mengiringi pertunjukan wayang maupun tari tradisional, tersimpan kisah perjuangan panjang, mulai dari menerima bayaran jauh di bawah standar hingga menimba pengalaman di berbagai panggung seni.

Baca Juga: Revitalisasi Pasar Pahing Blitar Segera Dimulai, 35 Kios Kosong Disulap agar Pasar Kembali Ramai dan Produktif

Selain aktif sebagai seniman, Andri juga mengabdikan diri sebagai guru Bahasa Jawa di MAN 2 Blitar.

 Lulusan S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Surabaya (UNESA) itu mengaku kecintaannya terhadap karawitan tumbuh dari perpaduan pengaruh keluarga dan pengalaman pribadinya sejak duduk di bangku sekolah.

Andri mengenang, ayahnya merupakan seorang pengrawit yang secara tidak langsung memperkenalkannya pada dunia gamelan.

Baca Juga: Oknum Anggota Polres Blitar Positif Narkoba, Kapolres Tegaskan Tak Ada Toleransi bagi Pelanggar Hukum

Berawal dari rasa penasaran, ia mulai ikut tampil di berbagai pentas sejak masih duduk di bangku SMP.

Perjalanannya dimulai dengan memainkan alat musik saron dan demung. Setelah itu, ia belajar memainkan kendang secara otodidak melalui lagu-lagu campursari sebelum akhirnya memperdalam ilmu kepada sejumlah pelaku seni karawitan di wilayah Blitar Timur.

 Kini, kepiawaiannya memainkan kendang membuatnya sering dipercaya mengiringi pertunjukan wayang hingga tari tradisional.

Namun, jalan menuju pengakuan tidak selalu mulus. Saat masih merintis, Andri sering menerima honor yang jauh lebih kecil dibandingkan pengrawit lain.

Ketika rekan-rekannya memperoleh bayaran Rp75 ribu, dirinya hanya menerima Rp10 ribu. Bahkan saat tampil di Malang, ia hanya mendapat Rp50 ribu, sementara pengrawit lain memperoleh Rp125 ribu.

Meski demikian, pengalaman tersebut tidak membuatnya menyerah. Ia justru menganggap setiap panggung sebagai kesempatan belajar untuk meningkatkan kemampuan bermusiknya.

Baca Juga: Oknum Anggota Polres Blitar Positif Narkoba, Kapolres Tegaskan Tak Ada Toleransi bagi Pelanggar Hukum

Kesempatan besar datang ketika Andri diajak mengiringi pertunjukan wayang di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Perjalanan pertamanya ke luar Pulau Jawa menjadi titik balik yang memperluas pengalaman sekaligus membangun kepercayaan dirinya sebagai seniman.

Berkat konsistensi tersebut, Andri kemudian dipercaya menjadi Duta Seni Kota Blitar dan tampil dalam berbagai kegiatan kesenian di Jakarta, Surabaya, hingga Bali.

Baca Juga: Persami KKRI Kodim 0808 Blitar Resmi Ditutup, Dandim: Bentuk Karakter dan Jiwa Calon Pemimpin Bangsa

Pengalaman itu semakin memperkuat keyakinannya untuk terus menjaga eksistensi karawitan di tengah perubahan zaman.

Puluhan kali tampil di berbagai panggung membuat Andri memiliki banyak pengalaman yang sulit dilupakan.

 Salah satunya terjadi ketika mengiringi Tari Remo di Candi Penataran saat masih duduk di kelas XII SMK.

Baca Juga: Sumur Warga Mengering, BPBD Kabupaten Blitar Siapkan Dropping Air Bersih untuk Wates dan Sutojayan

Ketika iringan musik memasuki tempo cepat, papan panggung tiba-tiba bergeser sehingga penari terjatuh dan tertutup karpet.

 Kejadian tersebut sempat membuat para pengrawit kebingungan karena penari mendadak tidak terlihat di atas panggung.

 Ia juga pernah tertidur saat manggung hingga tanpa sadar ditinggal pulang rekan-rekannya.

Baca Juga: 16 Napi Blitar Terima Pembebasan Bersyarat, Seluruh Pengajuan Disetujui Ditjenpas, Wajib Dijamin Keluarga

Selain pengalaman lucu, Andri juga mengaku pernah mengalami peristiwa yang menurutnya sulit dijelaskan secara logika.

Saat mengiringi pertunjukan wayang dalam ritual ruwatan desa, ia tetap memainkan gamelan meski sesajen disebut belum sepenuhnya siap.

Sepulang dari acara tersebut, ia mendadak jatuh sakit dan kondisinya tidak kunjung membaik meski telah beberapa kali berobat.

Baca Juga: Pembangunan KDMP di Desa Tlogo Berdampak ke SDN Tlogo 02, Perpustakaan Dibongkar tetapi Jumlah Siswa Tetap Stabil

Setelah meminta saran kepada orang yang memahami tradisi setempat dan menjalankan anjuran untuk meminta maaf kepada leluhur yang dipercaya membuka desa, kesehatannya berangsur pulih.

 Pengalaman itu menjadi salah satu kisah yang paling membekas sepanjang perjalanan kariernya sebagai pengrawit.

Kini, Andri melihat perkembangan seni tradisional di Blitar semakin menggembirakan.

Baca Juga: Ngudoroso lewat Lagu Kondisi Saat Ini, Musisi Blitar, Abonjhon: "Kabeh Kakean Atraksi"

Menurutnya, pelaku karawitan tidak lagi didominasi generasi tua, melainkan banyak diisi anak muda berusia 15 hingga 30 tahun.

Meski demikian, ia berharap pemerintah dan para pemangku kepentingan dapat menyediakan ruang apresiasi yang lebih rutin bagi para seniman.

Baginya, tantangan saat ini bukan lagi regenerasi, melainkan bagaimana mengemas seni tradisional agar tetap menarik, edukatif, dan mampu bersaing di tengah modernisasi. (*/sub)

Editor : Ratna Anggi Puspita Sari
Andri Setiawan Pengrawit Muda Blitar Karawitan Blitar Duta Seni Kota Blitar Seni Tradisional Jawa