BLITAR - Pecel menjadi salah satu kuliner yang paling identik dengan Kota Blitar. Tak hanya dikenal karena sejarah dan tokoh besarnya, Blitar juga memiliki sejumlah warung pecel legendaris yang mempertahankan cita rasa khas selama puluhan tahun. Dengan harga mulai Rp8.000 per porsi, warung-warung ini selalu menjadi tujuan warga maupun wisatawan untuk menikmati sarapan khas Blitar.
Keunikan setiap warung terletak pada racikan sambal kacang, pilihan sayuran, suasana makan, hingga menu pendamping yang menjadi ciri khas masing-masing. Beberapa di antaranya bahkan telah beroperasi sejak puluhan tahun lalu dan tetap ramai setiap pagi.
Mulai dari Pecel Mbok Mi, Pecel Mbok Legi, Pecel Mbok Nah, Pecel Cemara, hingga warung pecel di sekitar Stasiun Kota Blitar, semuanya menawarkan pengalaman menikmati pecel dengan karakter yang berbeda.
Pecel Mbok Mi, Sambal Pedas dan Sayur Daun Sentrong
Salah satu warung yang disebut sebagai destinasi wajib adalah Pecel Mbok Mi.
Dari luar, warung ini tampak sederhana. Namun, pengunjung yang datang menjelang siang biasanya harus mengantre karena tingginya jumlah pembeli.
Baca Juga: 8 ASN Kota Blitar Ajukan Izin Cerai, Faktor Ekonomi dan Orang Ketiga Jadi Penyebab Terbanyak
Keistimewaan Pecel Mbok Mi terletak pada penggunaan daun sentrong sebagai salah satu sayuran. Sayuran ini disebut cukup langka dan jarang ditemukan pada nasi pecel lainnya.
Sambal kacangnya memiliki rasa pedas yang kuat. Perpaduan tersebut semakin lengkap dengan rempeyek renyah dan gorengan hangat.
Menjelang siang, pelanggan juga dapat menikmati aneka sayur lodeh sebagai pelengkap menu.
Satu porsi nasi pecel dibanderol Rp8.000.
Warung ini berada di Jalan Majapahit Nomor 121, Gedog, Blitar.
Jam operasional dimulai pukul 05.30 hingga sekitar pukul 11.00 siang. Namun, pelanggan disarankan datang lebih awal karena menu sering habis sebelum waktu tutup.
Pecel Mbok Legi Bertahan Sejak 1970
Dari pusat Kota Blitar menuju Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro, terdapat Pecel Mbok Legi yang telah berdiri sejak tahun 1970.
Warung ini dikenal memiliki cita rasa khas pecel Blitar dengan dominasi rasa manis pada sambalnya.
Baca Juga: Persami KKRI Kodim 0808 Blitar Resmi Ditutup, Dandim: Bentuk Karakter dan Jiwa Calon Pemimpin Bangsa
Suasana sederhana menjadi daya tarik tersendiri. Pengunjung menikmati nasi pecel sambil duduk di bangku kayu dengan segelas teh panas yang tersaji di meja.
Setiap pagi, warung ini menjadi tempat berkumpul pesepeda setelah berolahraga.
Selain itu, banyak pekerja yang menjadikan warung tersebut sebagai lokasi sarapan sebelum memulai aktivitas.
Harga satu porsi nasi pecel tetap terjangkau, yakni Rp8.000.
Warung mulai melayani pembeli pukul 06.00 hingga siang hari.
Meski demikian, menu sering kali habis sebelum pukul 12.00 sehingga pelanggan disarankan datang lebih pagi.
Pecel Mbok Nah Sajikan Menu Tradisional
Pilihan berikutnya adalah Pecel Mbok Nah yang berada di pertigaan menuju Pasar Hewan Timoro.
Lokasinya berada di jalur yang ramai dilalui masyarakat menuju Pasar Legi sehingga suasana pagi di sekitar warung selalu hidup.
Selain nasi pecel, warung ini menawarkan lontong sompil dan sego ampok, dua menu tradisional yang kini semakin jarang dijumpai.
Pengunjung juga dapat memilih berbagai lauk seperti tempe goreng, rempeyek, dan aneka sayuran.
Satu porsi menu dibanderol Rp10.000.
Warung mulai buka pukul 06.00 pagi dan dikenal cepat menghabiskan dagangannya setiap hari.
Pecel Cemara, Legenda yang Tetap Bertahan
Nama Pecel Cemara sudah lama dikenal masyarakat Blitar.
Warung ini tidak memiliki bangunan permanen. Penjual hanya menggelar tikar sederhana di pinggir Jalan Cemara.
Meski demikian, pelanggan selalu berdatangan sejak pagi.
Nama Pecel Cemara berasal dari lokasinya yang berada di Jalan Cemara, Kota Blitar.
Dahulu warung tersebut dikelola seorang penjual yang akrab disapa mbah. Kini usaha tersebut diteruskan oleh anaknya tanpa mengubah cita rasa maupun tradisi yang telah dikenal pelanggan.
Harga satu pincuk nasi pecel tetap Rp8.000.
Lokasinya berada di selatan Perempatan Kawi, Kota Blitar.
Warung mulai buka pukul 06.00 pagi hingga seluruh menu habis terjual.
Sarapan Pecel Dekat Stasiun Kota Blitar
Pilihan lain berada di kawasan yang tidak jauh dari Stasiun Kota Blitar.
Warung ini menawarkan pengalaman berbeda karena letaknya berada di dekat jalur rel kereta api.
Pengunjung dapat menikmati sepiring nasi pecel sambil merasakan suasana pagi khas Kota Blitar dengan kereta yang sesekali melintas.
Selain nasi pecel, tersedia pula sayur lodeh, aneka lauk, hingga sate tusuk sebagai pelengkap.
Harga satu porsi nasi pecel tetap Rp8.000.
Warung mulai buka pukul 06.00 pagi hingga seluruh dagangan habis.
Lokasi yang dekat dengan stasiun membuat tempat ini menjadi salah satu tujuan favorit para pemburu sarapan.
Ciri Khas Pecel Blitar
Kelima warung tersebut memiliki karakter yang berbeda, tetapi tetap mempertahankan identitas pecel khas Blitar.
Perbedaan paling mencolok terlihat pada racikan sambal kacang, pilihan sayuran, menu pendamping, serta suasana tempat makan.
Ada yang menawarkan daun sentrong sebagai pelengkap, ada pula yang menghadirkan menu tradisional seperti sego ampok dan lontong sompil.
Sebagian besar warung juga menyediakan sayur lodeh sebagai menu tambahan bagi pelanggan.
Harga Tetap Terjangkau
Meski memiliki status sebagai warung legendaris, harga yang ditawarkan masih relatif terjangkau.
Empat warung menjual nasi pecel seharga Rp8.000 per porsi.
Sementara Pecel Mbok Nah menawarkan menu dengan harga Rp10.000.
Harga tersebut sudah mencakup nasi pecel lengkap dengan berbagai pilihan lauk sesuai menu yang tersedia di masing-masing warung.
Ramai Sejak Pagi
Kesamaan dari seluruh warung pecel legendaris di Blitar adalah tingginya jumlah pembeli pada pagi hari.
Sebagian besar mulai beroperasi sejak pukul 05.30 hingga 06.00 pagi.
Banyak di antaranya telah kehabisan menu jauh sebelum waktu tutup karena tingginya minat pelanggan.
Karena itu, pengunjung yang ingin menikmati pecel khas Blitar disarankan datang lebih awal agar tidak kehabisan.
Keberadaan warung-warung tersebut menunjukkan bahwa pecel bukan sekadar menu sarapan bagi masyarakat Blitar, tetapi juga bagian dari identitas kuliner yang terus dipertahankan dari generasi ke generasi.
Editor : Maylanni Diana FitriSumber : yt: Budiono Sukses