Perjalanan Soekarno Meraih Kemerdekaan Indonesia, Dari PNI, Pengasingan hingga Proklamasi 17 Agustus 1945

M. Helmi Nurhisam • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 19:55 WIB
Perjalanan Soekarno meraih kemerdekaan Indonesia diulas dari masa muda, pembentukan PNI, pengasingan, kerja sama dengan Jepang, hingga Proklamasi 17 Agustus 1945. (Pinterest)
Perjalanan Soekarno meraih kemerdekaan Indonesia diulas dari masa muda, pembentukan PNI, pengasingan, kerja sama dengan Jepang, hingga Proklamasi 17 Agustus 1945. (Pinterest)

JAKARTA - Perjalanan Soekarno meraih kemerdekaan Indonesia menjadi sorotan dalam sebuah tayangan yang mengulas kisah panjang Presiden pertama Republik Indonesia sejak masa muda hingga membacakan Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Video tersebut menampilkan perjalanan Bung Karno menghadapi penjajahan Belanda, masa pengasingan, kerja sama dengan Jepang, hingga dinamika politik yang mengantarkan Indonesia menuju kemerdekaan.

Tayangan itu juga memperlihatkan sisi lain perjalanan Soekarno yang penuh kontroversi. Selain dikenal sebagai sang proklamator, Bung Karno juga kerap dikaitkan dengan berbagai keputusan politik yang masih menjadi perdebatan, termasuk kerja samanya dengan Jepang selama Perang Dunia II dan keterlibatannya dalam propaganda romusha.

Baca Juga: Bonsai Santigi Seharga Rp1,5 Miliar Jadi Sorotan, Koleksi Langka 15 Tahun Ini Curi Perhatian di Pameran

Masa Kecil Soekarno dan Awal Munculnya Jiwa Nasionalisme

Video menjelaskan Soekarno lahir di Peneleh, Surabaya, pada 6 Juni 1902 dengan nama Kusno Sosrodihardjo. Ia merupakan putra Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai.

Berbeda dengan sebagian besar rakyat pribumi pada masa kolonial, Soekarno memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan di sekolah Belanda karena berasal dari keluarga priyayi.

Sejak kecil, Bung Karno dikenal sebagai anak yang berani dan memiliki sifat pemberontak. Masa kecilnya diisi dengan berbagai aktivitas seperti bermain, memancing, mandi di sungai, hingga menonton wayang.

Semangat nasionalismenya mulai tumbuh ketika melanjutkan pendidikan di Surabaya dan tinggal di rumah HOS Tjokroaminoto, pemimpin Sarekat Islam.

Belajar Politik di Rumah HOS Tjokroaminoto

Selama tinggal di rumah Tjokroaminoto, Soekarno berkesempatan bertemu banyak tokoh pergerakan nasional.

Rumah tersebut menjadi tempat berkumpul para aktivis untuk berdiskusi mengenai perjuangan melawan penjajahan. Soekarno muda kerap menyimak berbagai pembahasan yang membentuk cara pandangnya terhadap nasionalisme.

Selain mengikuti diskusi, ia juga mulai membaca berbagai buku mengenai nasionalisme, sosialisme, hingga marxisme.

Menurut tayangan tersebut, kemampuan berpidato Bung Karno juga banyak dipengaruhi oleh sosok Tjokroaminoto yang dikenal sebagai orator ulung.

Aktif Berorganisasi dan Menulis

Saat masih bersekolah, Soekarno mulai aktif dalam organisasi Tri Koro Dharmo yang mengusung semangat kebangsaan.

Ia juga gemar menulis mengenai diskriminasi pemerintah kolonial terhadap rakyat pribumi menggunakan nama samaran Bima di surat kabar Utusan Hindia.

Pada 1921, Soekarno melanjutkan pendidikan ke Bandung dan masuk Technische Hoogeschool yang kini menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB).

Di kota tersebut, Bung Karno bertemu sejumlah tokoh pergerakan seperti Ki Hajar Dewantara, Cipto Mangunkusumo, dan Douwes Dekker.

Baca Juga: Budidaya Ikan Lele di Galon Bekas Makin Praktis, Begini Cara Membuat Kolam Mini dengan Saluran Pembuangan

Lahirnya Marhaenisme

Dalam perjalanan ke sejumlah desa di Bandung, Soekarno bertemu seorang petani bernama Marhaen.

Pertemuan itu menjadi inspirasi lahirnya konsep Marhaenisme yang kemudian dikenal sebagai gagasan sosialisme khas Indonesia.

Menurut Soekarno, perjuangan melawan penjajahan harus berpihak kepada rakyat kecil yang hidup dalam tekanan sistem kolonial.

Meski mengaku sebagai seorang sosialis, Bung Karno menegaskan dirinya bukan seorang komunis.

Mendirikan Partai Nasional Indonesia

Pada 4 Juli 1927, Soekarno bersama sejumlah tokoh mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI).

Melalui partai tersebut, ia menggalang kekuatan politik untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia tanpa menggunakan cara yang sama seperti pemberontakan bersenjata.

PNI berkembang pesat dan berhasil menarik perhatian masyarakat. Bersama berbagai organisasi politik lain, Soekarno kemudian ikut membentuk Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI).

Dalam tayangan juga dijelaskan bahwa Kongres Pemuda II yang berlangsung pada 28 Oktober 1928 melahirkan Sumpah Pemuda sebagai tonggak penting persatuan bangsa.

Ditangkap dan Menyampaikan Indonesia Menggugat

Aktivitas politik Bung Karno membuat pemerintah kolonial Belanda semakin khawatir.

Pada Desember 1929, Soekarno bersama sejumlah anggota PNI ditangkap dan dipenjara di Bandung.

Saat menjalani persidangan, ia menyampaikan pidato pembelaan berjudul Indonesia Menggugat yang mengkritik keras sistem kolonial Belanda.

Pidato tersebut menjadi inspirasi bagi banyak aktivis pergerakan dan mendapat perhatian luas, termasuk dari media internasional.

Masa Pengasingan hingga Bertemu Fatmawati

Setelah bebas dari penjara, Soekarno kembali aktif dalam dunia politik.

Namun, pemerintah kolonial kemudian mengasingkannya ke Ende, Flores, sebelum akhirnya dipindahkan ke Bengkulu.

Selama berada di Bengkulu, Bung Karno mengajar di sekolah Muhammadiyah dan bertemu Fatmawati yang kelak menjadi istrinya.

Pada masa pengasingan itu pula, Soekarno disebut banyak merenung dan menuliskan berbagai gagasan mengenai dasar negara yang kemudian berkembang menjadi konsep Pancasila.

Kerja Sama dengan Jepang

Ketika Jepang menguasai Indonesia pada 1942, Bung Karno dihadapkan pada pilihan sulit.

Dalam video dijelaskan bahwa Soekarno memilih bekerja sama dengan pemerintah Jepang bersama Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan KH Mas Mansur.

Keputusan tersebut ditentang sejumlah tokoh muda seperti Sutan Sjahrir yang menganggap Jepang tetap merupakan penjajah.

Namun, Soekarno beranggapan kerja sama menjadi jalan paling realistis untuk mengurangi korban dan membuka peluang menuju kemerdekaan.

Polemik Romusha dan Pembentukan PETA

Video juga mengulas keterlibatan Bung Karno dalam propaganda romusha.

Soekarno mengakui bahwa dirinya ikut mengajak rakyat mengikuti kerja paksa karena menilai tidak ada pilihan lain di tengah kekuasaan militer Jepang.

Tayangan tersebut mengutip pengakuan Bung Karno dalam buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams mengenai beratnya keputusan tersebut.

Selain itu, Soekarno juga mendukung pembentukan Pembela Tanah Air (PETA) pada 3 Oktober 1943.

Menurutnya, pasukan tersebut kelak dapat menjadi cikal bakal kekuatan militer Indonesia setelah merdeka.

Lahirnya Pancasila dan Jalan Menuju Proklamasi

Pada 1 Juni 1945, Soekarno menyampaikan pidato mengenai dasar negara dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Pidato tersebut kemudian menjadi dasar lahirnya Pancasila.

Setelah BPUPKI dibubarkan, dibentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang diketuai Soekarno.

Ketika Jepang menyerah kepada Sekutu pada Agustus 1945, terjadi perbedaan pandangan antara golongan tua dan golongan muda mengenai waktu pelaksanaan proklamasi.

Peristiwa Rengasdengklok menjadi salah satu momen penting sebelum akhirnya Soekarno dan Mohammad Hatta kembali ke Jakarta untuk menyusun naskah proklamasi di rumah Laksamana Tadashi Maeda.

Membacakan Proklamasi Kemerdekaan

Pada pagi hari 17 Agustus 1945, Soekarno didampingi Mohammad Hatta membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta.

Momen tersebut menandai lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia setelah ratusan tahun berada di bawah penjajahan.

Di akhir tayangan, perjalanan Bung Karno digambarkan belum berakhir setelah proklamasi. Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk upaya Belanda untuk kembali menguasai tanah air.

Video juga menyinggung bahwa perjalanan pemerintahan Soekarno pada masa berikutnya akan diwarnai berbagai kebijakan yang menuai kontroversi, mulai dari penanganan pemberontakan hingga hubungan dengan kelompok oposisi. Meski demikian, dalam tayangan tersebut perjuangan Bung Karno membawa Indonesia menuju gerbang kemerdekaan tetap menjadi bagian paling penting dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia.

Editor : M. Helmi Nurhisam
Sumber : Matahatipemuda
PNI PPKI soekarno Perjuangan Soekarno Proklamasi Kemerdekaan