Solo Traveling Bukan Obat Utama Atasi Burnout, Psikolog Ingatkan Pentingnya Menyelesaikan Akar Masalah

Fajar Rahmad Ali Wardana • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 10:18 WIB
Psikolog Dahriyati Candrasari M.Psi : Solo traveling dapat menjadi cara melepas penat dan memulihkan energi, namun psikolog mengingatkan bahwa burnout tidak akan tuntas tanpa mengatasi akar penyebab stres dan tekanan di lingkungan kerja
Psikolog Dahriyati Candrasari M.Psi : Solo traveling dapat menjadi cara melepas penat dan memulihkan energi, namun psikolog mengingatkan bahwa burnout tidak akan tuntas tanpa mengatasi akar penyebab stres dan tekanan di lingkungan kerja

 

BLITAR KAWENTAR – Solo traveling belakangan menjadi tren di kalangan pekerja yang ingin melepaskan penat akibat tekanan pekerjaan. Tidak sedikit yang menganggap bepergian seorang diri mampu menjadi cara ampuh untuk mengatasi burnout. Namun, psikolog mengingatkan bahwa liburan hanya membantu memulihkan energi sementara dan bukan solusi utama untuk mengatasi kondisi tersebut.

Fenomena burnout semakin sering menjadi perbincangan di media sosial. Banyak pekerja membagikan pengalaman mengalami kelelahan fisik, mental, hingga emosional akibat tekanan pekerjaan yang berlangsung terus-menerus. Kondisi ini tidak lagi dipandang sebagai rasa lelah biasa setelah bekerja, melainkan gangguan yang dapat memengaruhi produktivitas, hubungan sosial, hingga kualitas hidup seseorang.

Di tengah tingginya tekanan tersebut, tren solo traveling semakin diminati. Aktivitas bepergian seorang diri dianggap mampu memberikan ruang untuk beristirahat dari rutinitas, menikmati suasana baru, sekaligus mengenal diri sendiri. Meski demikian, para ahli menilai manfaat tersebut hanya bersifat sementara apabila penyebab utama burnout tidak ikut diselesaikan.

Baca Juga: Poltekkes Kemenkes Malang Gembleng 42 Kader Baru di Kepanjenkidul, Perkuat Posyandu ILP dan Serahkan Timbangan Bayi

Psikolog Dahriyati Candrasari, M.Psi, menjelaskan bahwa burnout merupakan kondisi penurunan kesehatan mental dan emosional akibat paparan stres kronis yang berlangsung dalam waktu lama. Kondisi ini berbeda dengan rasa lelah biasa karena membutuhkan penanganan yang lebih menyeluruh.

Menurutnya, terdapat berbagai faktor yang dapat memicu burnout di lingkungan kerja. Mulai dari beban pekerjaan yang melebihi kapasitas, tuntutan untuk selalu produktif, jam kerja yang mengurangi waktu istirahat, hingga minimnya apresiasi dan dukungan dari lingkungan kerja.

Apabila situasi tersebut terus berlangsung tanpa adanya perubahan, seseorang berisiko mengalami kelelahan berkepanjangan yang pada akhirnya memengaruhi kesehatan mental maupun performa kerja sehari-hari.

Baca Juga: Slow Travel Jadi Tren Liburan Anak Muda, Jogja Masih Jadi Destinasi Favorit untuk Healing Tanpa Buru-buru

Menurut Dahriyati, melakukan perjalanan seorang diri memang memiliki sejumlah manfaat psikologis. Seseorang dapat mengambil jeda dari rutinitas yang melelahkan, menikmati waktu untuk diri sendiri, serta mengisi kembali energi emosional yang terkuras akibat aktivitas pekerjaan.

Selain itu, solo traveling juga memberi kesempatan bagi seseorang untuk lebih mengenal dirinya sendiri tanpa tekanan dari lingkungan sekitar. Pengalaman baru yang diperoleh selama perjalanan dapat membantu mengurangi stres dan memberikan perspektif berbeda terhadap berbagai persoalan yang dihadapi.

Namun, manfaat tersebut tidak boleh dimaknai sebagai penyembuhan total terhadap burnout. Liburan hanya menjadi salah satu bentuk self-care yang membantu proses pemulihan sementara.

Baca Juga: Rokok Ilegal Masih Marak, Ini Dua Fokus Program Satpol PP Kabupaten Blitar di Tahun 2026

Dahriyati menegaskan, apabila sumber utama burnout berasal dari beban kerja yang berlebihan atau budaya kerja yang tidak sehat (toxic), maka kondisi tersebut sangat mungkin muncul kembali setelah seseorang selesai berlibur.

Karena itu, penyelesaian burnout harus dimulai dari akar penyebabnya. Perusahaan maupun individu perlu mengevaluasi pola kerja, beban tugas, keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan, serta dukungan sosial yang tersedia di lingkungan kerja.

Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak ragu mencari bantuan profesional apabila mulai merasakan gejala burnout yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Konsultasi dengan psikolog dapat membantu menemukan strategi penanganan yang sesuai dengan kondisi masing-masing individu.

Dengan demikian, solo traveling dapat menjadi salah satu cara menjaga kesehatan mental, tetapi bukan satu-satunya solusi. Pemulihan yang berkelanjutan hanya dapat tercapai apabila penyebab utama stres berhasil diatasi dan individu mendapatkan dukungan yang memadai dalam kehidupan maupun pekerjaannya. (jar/sub)

Editor : Azahra Meilisani Salma
Solo Traveling Dahriyati Candrasari burnout kesehatan mental psikologi