Slow Traveling Jadi Tren Liburan Gen Z, Nikmati Momen Tanpa Ribet Kejar Target dan Lebih Menenangkan Pikiran

M. Luki Azhari • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 10:36 WIB
Bagi Yasin Nur : Menikmati alam tanpa dikejar target destinasi menjadi daya tarik slow traveling. Konsep liburan ini dinilai mampu menyegarkan pikiran, menghadirkan ketenangan, sekaligus memberi pengalaman yang lebih bermakna.
Bagi Yasin Nur : Menikmati alam tanpa dikejar target destinasi menjadi daya tarik slow traveling. Konsep liburan ini dinilai mampu menyegarkan pikiran, menghadirkan ketenangan, sekaligus memberi pengalaman yang lebih bermakna.

 

BLITAR  KAWENTAR – Slow traveling semakin diminati kalangan Generasi Z sebagai alternatif berlibur yang lebih santai dan bermakna.

Berbeda dengan konsep liburan yang padat jadwal demi mengejar banyak destinasi, slow traveling mengajak wisatawan menikmati setiap momen perjalanan tanpa terburu-buru.

Tren slow traveling dinilai mampu menjadi cara efektif untuk melepaskan penat setelah rutinitas pekerjaan maupun aktivitas sehari-hari.

Baca Juga: Solo Traveling Bukan Obat Utama Atasi Burnout, Psikolog Ingatkan Pentingnya Menyelesaikan Akar Masalah

Dengan ritme perjalanan yang lebih lambat, wisatawan memiliki kesempatan menikmati suasana sekitar, berinteraksi dengan alam, hingga menemukan pengalaman baru yang lebih berkesan.

Bagi Yasin Nur, pemuda asal Desa Gembongan, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, yang berkecimpung di bidang agensi media sosial branding, liburan bukan sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk berburu foto.

 Menurutnya, esensi perjalanan justru terletak pada pengalaman yang dirasakan selama berada di lokasi wisata.

Baca Juga: Tren Slow Travel Makin Digemari, Wisatawan Kini Pilih Pengalaman daripada Banyak Destinasi

Yasin mengatakan, slow traveling menjadi pilihan terbaik ketika ingin menyegarkan pikiran sekaligus mencari inspirasi baru.

Baginya, destinasi alam seperti kawasan pegunungan memiliki daya tarik tersendiri karena mampu menghadirkan ketenangan yang sulit ditemukan di tengah kesibukan sehari-hari.

Hamparan pepohonan hijau, udara yang sejuk, suara alam, hingga momen matahari terbit menjadi kombinasi yang mampu memberikan energi positif, baik secara mental maupun fisik.

"Slow traveling itu cara terbaik buat refresh diri dan mencari inspirasi baru. Gunung punya cara tersendiri untuk membumikan kita kembali dengan ketenangan jiwa," ujarnya.

Menurut pria berusia 25 tahun tersebut, berdiam lebih lama di satu lokasi wisata justru memberikan pengalaman yang jauh lebih bermakna dibanding harus berpindah-pindah tempat dalam waktu singkat.

Yasin menilai, banyak orang justru merasa kelelahan setelah menjalani liburan yang terlalu padat. Keinginan mengunjungi banyak destinasi dalam satu waktu sering kali membuat wisatawan kehilangan kesempatan menikmati suasana di setiap tempat.

Baca Juga: Poltekkes Kemenkes Malang Gembleng 42 Kader Baru di Kepanjenkidul, Perkuat Posyandu ILP dan Serahkan Timbangan Bayi

Sebaliknya, slow traveling memungkinkan seseorang menikmati setiap aktivitas tanpa tekanan waktu.

Mulai dari mendirikan tenda, menyaksikan matahari terbenam, hingga menikmati secangkir kopi pada pagi hari dapat dilakukan dengan lebih santai.

"Bedanya sama liburan kilat, kita jadi lebih dapat momennya. Bisa menikmati tiap detik di alam tanpa harus diburu jadwal ketat," katanya.

Baca Juga: Rokok Ilegal Masih Marak, Ini Dua Fokus Program Satpol PP Kabupaten Blitar di Tahun 2026

Selain menawarkan ketenangan, slow traveling juga tidak harus menguras kantong. Menurut Yasin, kunci utama perjalanan hemat terletak pada pengelolaan logistik yang baik.

Ia menyarankan wisatawan menyiapkan kebutuhan makanan sendiri dengan membeli bahan segar dari pasar tradisional di sekitar lokasi tujuan.

 Cara tersebut dinilai jauh lebih hemat dibanding harus membeli makanan siap saji selama perjalanan.

Baca Juga: Paman di Blitar Tega Cabuli Keponakan Laki-Laki Selama 3 Tahun, Terungkap Gara-Gara Hal Ini

Di sisi lain, pengalaman yang paling berkesan selama melakukan slow traveling justru berasal dari kebersamaan dengan teman-teman dan kesempatan menemukan kuliner lokal yang belum banyak diketahui wisatawan atau hidden gem.

Yasin juga mengajak generasi muda di Blitar memulai pengalaman slow traveling dari destinasi yang dekat dengan tempat tinggal.

Menurutnya, Kabupaten Blitar memiliki banyak kawasan alam yang menarik dan mudah dijangkau tanpa memerlukan biaya besar.

Baca Juga: Prabowo Reshuffle Pejabat Kejaksaan Agung, Kuntadi Resmi Jadi Jampidsus, Asep Nana Muliana Wakil Jaksa Agung

Beberapa lokasi yang direkomendasikan antara lain kawasan Gunung Kelud, Gunung Pegat, hingga Gunung Butak melalui jalur lokal.

Selain menawarkan panorama alam yang indah, akses menuju lokasi tersebut relatif mudah sehingga cocok bagi pemula yang ingin mencoba konsep slow traveling.

Ia berharap semakin banyak anak muda yang mulai menikmati perjalanan dengan ritme yang lebih santai.

Baca Juga: Lenovo IdeaPad Slim 3 Resmi Meluncur: Laptop Tipis Kencang Berbekal Intel Core i7 Generasi 13

 Sebab, tujuan utama liburan bukan sekadar mengumpulkan foto atau mengunjungi banyak tempat, melainkan memberikan kesempatan bagi tubuh dan pikiran untuk benar-benar beristirahat sebelum kembali menjalani aktivitas sehari-hari. (mg1/c1/sub)

Editor : Ratna Anggi Puspita Sari
Slow Traveling wisata alam blitar Gen Z gunung kelud liburan