BLITAR - Gunung Pegat di Desa Kawasan, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar kembali menjadi perhatian setelah sebuah penelusuran budaya dan spiritual mengungkap makna sebenarnya di balik nama yang selama ini identik dengan mitos perpisahan. Melalui penelusuran tersebut, para narasumber menegaskan bahwa filosofi Gunung Pegat bukan memisahkan hubungan, melainkan memutus segala bentuk bala, marabahaya, penyakit, dan hal-hal negatif dalam kehidupan.
Penelusuran dilakukan oleh Sat 76 Channel bersama pemerhati budaya dan tokoh spiritual pada Minggu Pon, 26 Mei 2024. Kegiatan diawali dengan menyusuri kawasan hutan menuju punden dan makam yang berada di kawasan Gunung Pegat untuk menggali sejarah serta filosofi yang diwariskan secara turun-temurun.
Selama ini nama Gunung Pegat kerap dikaitkan dengan mitos putusnya hubungan bagi pasangan yang datang ke lokasi tersebut. Namun, para narasumber menilai anggapan itu muncul karena masyarakat hanya mengenal cerita yang berkembang tanpa memahami latar belakang sejarah dan makna sebenarnya.
Baca Juga: Touring Blitar Wilis Club Berlangsung Meriah, Puskesmas Sukorejo Sampaikan Apresiasi kepada Peserta
Filosofi Gunung Pegat Bukan Tentang Perpisahan
Pembina Padepokan Gunung Pegat, Raden Agung Jo atau Mbah Joh, menjelaskan bahwa kata "pegat" memang memiliki arti putus. Namun, makna yang dimaksud bukan memutus hubungan antarmanusia.
Menurutnya, filosofi Gunung Pegat adalah memutus penyakit, menjauhkan bala, menghilangkan marabahaya, serta memisahkan seseorang dari segala bentuk energi negatif yang mengganggu kehidupan.
Ia menegaskan padepokan tersebut tidak pernah didirikan untuk tujuan memisahkan pasangan. Justru tempat itu dimaknai sebagai simbol harapan agar berbagai kesialan dan keburukan dapat diputus dari kehidupan seseorang.
Karena itu, ia berharap masyarakat tidak lagi memahami Gunung Pegat hanya dari cerita yang berkembang, tetapi juga melihat nilai budaya dan filosofi yang diwariskan para leluhur.
Mengungkap Sejarah Ki Ageng Kalijira
Dalam penelusuran tersebut, Mbah Joh juga menjelaskan keberadaan makam yang berada di kawasan Gunung Pegat.
Ia menyebut sosok yang dimakamkan dikenal sebagai Ki Ageng Kalijira, seorang tokoh yang memiliki peran penting pada masanya. Menurut penjelasannya, tokoh tersebut berkaitan dengan perjalanan penyebaran agama Islam di wilayah tersebut.
Nama Ki Ageng Kalijira, lanjutnya, selama ini tidak banyak diketahui masyarakat sehingga berbagai cerita mengenai makam tersebut berkembang dalam beragam versi.
Melalui penjelasan itu, masyarakat diharapkan dapat memahami bahwa kawasan Gunung Pegat juga menyimpan nilai sejarah yang penting untuk dikenali.
Menyusuri Kawasan yang Masih Alami
Perjalanan menuju kawasan Gunung Pegat dilakukan dengan menyusuri jalur hutan yang masih dipenuhi pepohonan rindang.
Suasana alam yang tenang, semilir angin, dan kondisi lingkungan yang masih alami menjadi bagian dari pengalaman selama penelusuran berlangsung.
Tim kemudian tiba di kawasan punden dan makam untuk mendengarkan penjelasan sejarah serta filosofi Gunung Pegat secara langsung dari para narasumber.
Baca Juga: Blitar Wilis Club Gelar Touring Bersama, Puskesmas Sukorejo Sampaikan Apresiasi kepada Peserta
Pemerhati Budaya Rasakan Suasana Positif
Ketua DPW Masyarakat Adat Nusantara Matra Jawa Timur sekaligus Ketua Perkumpulan Jowo Deles, Kanjeng Pangeran Panji Cipto Negoro, mengaku merasakan suasana yang berbeda ketika berada di lokasi.
Menurutnya, setiap situs sejarah memiliki karakter energi yang berbeda. Namun, selama berada di Gunung Pegat, ia justru merasakan ketenangan dan kenyamanan, bukan kesan menyeramkan sebagaimana yang sering digambarkan dalam berbagai cerita.
Ia juga menilai kawasan tersebut masih mempertahankan kondisi alam yang alami sehingga memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi.
Meluruskan Mitos Melalui Pelestarian Budaya
Para narasumber menilai sudah saatnya masyarakat mengenal Gunung Pegat dari sisi sejarah dan filosofi, bukan hanya berdasarkan mitos yang berkembang.
Mereka berharap penelusuran budaya seperti ini dapat menjadi sarana edukasi agar masyarakat memahami makna sebenarnya dari warisan leluhur.
Dengan memahami sejarah secara utuh, Gunung Pegat diharapkan tidak lagi dipandang sebagai simbol perpisahan, melainkan sebagai pengingat bahwa manusia perlu memutus segala bentuk keburukan, marabahaya, dan energi negatif dalam menjalani kehidupan.
Editor : M. Helmi NurhisamSumber : Satna76Chanel Reborn