BLITAR - Keindahan Telaga Rambut Monte tak hanya menjadi daya tarik wisata alam di Kabupaten Blitar, tetapi juga menyimpan kisah sejarah dan legenda yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Berada di Desa Krisik, Kecamatan Gandusari, telaga ini dikenal sebagai habitat ikan sengkaring atau ikan dewa yang menjadi bagian dari cerita rakyat setempat.
Lokasinya berada sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Blitar dengan akses jalan yang mudah dilalui berbagai jenis kendaraan. Hamparan pepohonan hijau, udara sejuk, dan kejernihan sumber mata air membuat kawasan ini menjadi destinasi favorit bagi wisatawan.
Di balik pesona alamnya, Telaga Rambut Monte memiliki nilai sejarah yang kuat. Kawasan ini disebut pernah menjadi tempat pemujaan agama Hindu, yang hingga kini masih ditandai dengan keberadaan sebuah candi suci di sekitar telaga.
Baca Juga: Gunung Pegat Blitar Ternyata Bukan Simbol Perpisahan, Penelusuran Ini Ungkap Filosofi Sebenarnya
Situs Bersejarah yang Masih Dijaga
Keberadaan candi di kawasan Telaga Rambut Monte menjadi salah satu bukti sejarah yang masih dipertahankan. Pada waktu-waktu tertentu, area tersebut ditutup untuk umum karena digunakan sebagai lokasi pelaksanaan ritual keagamaan.
Hal itu menunjukkan bahwa kawasan ini tidak hanya dipandang sebagai objek wisata, tetapi juga memiliki nilai budaya dan spiritual yang tetap dihormati masyarakat.
Kisah Mbah Monte dan Ikan Sengkaring
Legenda yang paling dikenal masyarakat berkaitan dengan sosok Mbah Monte atau Ratu Baka yang diyakini sebagai pembabat alas wilayah Krisik. Dari cerita yang berkembang, sumber mata air telaga dihuni oleh ikan sengkaring yang dipercaya memiliki hubungan dengan kisah tersebut.
Salah satu versi menyebut Mbah Monte pernah menghadapi Rahwana yang dibantu seekor naga. Pertarungan itu dimenangkan oleh Mbah Monte, sedangkan kekalahan Rahwana dilambangkan dengan batu yang menyerupai monyet berambut gimbal.
Cerita lain menyebut seorang pengikut Mbah Monte menolak menjaga kawasan tersebut hingga akhirnya dikutuk menjadi ikan sengkaring yang terus menghuni telaga.
Ada pula versi berbeda yang mengisahkan dua murid Mbah Monte menyalahgunakan ilmu yang telah dipelajari. Kemarahan sang guru membuat pepohonan di sekitar telaga terbakar dan dipercaya berubah menjadi ikan dewa, sementara kedua muridnya berubah menjadi sumber mata air.
Baca Juga: Momen HAN 2026, Anak Disabilitas Pukau Penumpang Kereta Api lewat Fashion Show di Stasiun Blitar
Mitos Pesugihan Masih Menjadi Perbincangan
Selain legenda asal-usulnya, Telaga Rambut Monte juga kerap dikaitkan dengan mitos pesugihan. Dalam video disebutkan masih ada orang yang datang membawa sesajen dan perlengkapan ritual dengan harapan memperoleh kekayaan secara instan.
Juru kunci mengungkapkan praktik tersebut masih sesekali ditemukan meski dilakukan secara diam-diam. Masyarakat sekitar justru mengingatkan bahwa tindakan tersebut diyakini dapat membawa akibat yang tidak baik bagi pelakunya.
Karena itu, kawasan Telaga Rambut Monte diharapkan tetap dijaga sebagai tempat wisata alam sekaligus situs budaya yang memiliki nilai sejarah.
Perpaduan Alam, Sejarah, dan Cerita Rakyat
Telaga Rambut Monte menawarkan pengalaman wisata yang berbeda dibandingkan destinasi lainnya di Kabupaten Blitar. Pengunjung tidak hanya menikmati panorama alam yang masih asri, tetapi juga dapat mengenal berbagai kisah yang telah hidup di tengah masyarakat selama bertahun-tahun.
Keberadaan situs bersejarah, legenda ikan dewa, hingga cerita yang berkembang menjadikan Telaga Rambut Monte memiliki daya tarik tersendiri. Perpaduan keindahan alam dan warisan budaya itulah yang membuat kawasan ini tetap menjadi salah satu destinasi wisata yang banyak dikunjungi di Blitar.
Editor : M. Helmi NurhisamSumber : Lakon Story