Legenda Lembu Suro dan Asal-usul Gunung Kelud, Kisah Sayembara Majapahit yang Melegenda Hingga Kini

M. Helmi Nurhisam • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 19:15 WIB
Legenda Lembu Suro dan Gunung Kelud mengisahkan sayembara Majapahit, sumpah Lembu Suro, hingga asal-usul Gunung Pegat yang dipercaya masyarakat. (Pinterest)
Legenda Lembu Suro dan Gunung Kelud mengisahkan sayembara Majapahit, sumpah Lembu Suro, hingga asal-usul Gunung Pegat yang dipercaya masyarakat. (Pinterest)

BLITAR - Legenda Lembu Suro dan asal-usul Gunung Kelud menjadi salah satu cerita rakyat paling dikenal di Jawa Timur. Kisah yang diwariskan secara turun-temurun ini menceritakan perjalanan seorang tokoh bernama Lembu Suro, sayembara Kerajaan Majapahit, hingga munculnya sumpah yang kemudian dikaitkan dengan Gunung Kelud dan Gunung Pegat.

Dalam cerita tersebut, Prabu Brawijaya menggelar sayembara untuk mencari pendamping bagi putrinya, Diah Ayu Pusparini. Syaratnya tidak mudah. Setiap peserta harus mampu merentangkan busur pusaka Kiai Garuda Yaksa sekaligus mengangkat Gong Kiai Sekar Delima. Banyak kesatria dan bangsawan dari berbagai daerah mencoba peruntungan, tetapi seluruhnya gagal memenuhi tantangan tersebut.

Di tengah sayembara, muncul sosok Lembu Suro yang digambarkan memiliki tubuh manusia dengan kepala lembu. Meski kehadirannya mengundang perhatian banyak orang, ia tetap diberi kesempatan mengikuti sayembara oleh Prabu Brawijaya.

Baca Juga: Gunung Pegat Blitar Simpan Filosofi yang Jarang Diketahui, Penelusuran Ini Bongkar Makna Sebenarnya

Lembu Suro Menjadi Pemenang Sayembara

Di hadapan seluruh peserta dan rakyat Majapahit, Lembu Suro berhasil merentangkan busur Kiai Garuda Yaksa tanpa kesulitan berarti. Keberhasilannya berlanjut saat ia mampu mengangkat Gong Kiai Sekar Delima, sesuatu yang sebelumnya tidak mampu dilakukan siapa pun.

Kemenangan itu membuat Lembu Suro dinyatakan sebagai pemenang sah sayembara. Berdasarkan aturan yang telah diumumkan sebelumnya, ia berhak mempersunting Diah Ayu Pusparini.

Namun keputusan tersebut justru membuat sang putri merasa terpukul. Ia belum siap menerima kenyataan harus menikah dengan Lembu Suro sehingga memilih mengurung diri dan mencari jalan agar pernikahan tidak terjadi.

Syarat Membangun Sumur di Puncak Gunung Kelud

Atas saran inang pengasuhnya, Diah Ayu Pusparini mengajukan syarat tambahan kepada Lembu Suro. Ia diminta membuat sebuah sumur di puncak Gunung Kelud hanya dalam waktu semalam sebelum fajar menyingsing.

Tanpa ragu, Lembu Suro menerima tantangan tersebut. Dengan kekuatan yang dimilikinya, ia mulai menggali sumur menggunakan tanduknya. Pekerjaan berlangsung sangat cepat hingga membuat rombongan kerajaan menyadari bahwa syarat itu kemungkinan besar akan berhasil diselesaikan.

Melihat kondisi tersebut, Diah Ayu Pusparini kembali memohon kepada Prabu Brawijaya agar menghentikan pekerjaan Lembu Suro. Sang raja akhirnya memerintahkan para pengawal menimbun sumur yang sedang digali menggunakan batu dan tanah.

 

Sumpah Lembu Suro Sebelum Menghilang

Saat berada di dalam lubang, Lembu Suro menyadari dirinya ditimbun hidup-hidup. Sebelum suaranya menghilang, ia mengucapkan sumpah yang kemudian menjadi bagian penting dari legenda masyarakat Jawa Timur.

Dalam sumpahnya disebutkan bahwa suatu hari Kediri akan menjadi sungai, Blitar menjadi daratan, dan Tulungagung berubah menjadi perairan sebagai balasan atas pengkhianatan yang diterimanya.

Sumpah tersebut dipercaya memiliki makna mendalam sehingga membuat Prabu Brawijaya bersama para penasihat kerajaan mencari cara untuk meredam dampaknya.

Baca Juga: Gunung Pegat Blitar Ternyata Bukan Simbol Perpisahan, Penelusuran Ini Ungkap Filosofi Sebenarnya

Gunung Pegat Dikaitkan dengan Upaya Menolak Bala

Menurut kisah yang berkembang, salah satu langkah yang dilakukan adalah membangun tanggul besar yang kemudian dikenal sebagai Gunung Pegat. Selain itu, kerajaan juga mengadakan ritual tolak bala dengan melarung sesaji ke kawah Gunung Kelud.

Tradisi tersebut kemudian dipercaya terus diwariskan oleh masyarakat sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur sekaligus permohonan keselamatan.

Dalam cerita rakyat yang berkembang, setiap aktivitas vulkanik Gunung Kelud sering dikaitkan dengan amarah Lembu Suro. Meski demikian, kisah tersebut merupakan bagian dari legenda yang diwariskan secara turun-temurun dan menjadi warisan budaya lisan masyarakat Jawa Timur.

Legenda Lembu Suro tidak hanya menceritakan asal-usul Gunung Kelud dan Gunung Pegat, tetapi juga menyampaikan pesan tentang pentingnya menepati janji, menjaga keadilan, serta mempertimbangkan setiap keputusan agar tidak menimbulkan penyesalan di kemudian hari.

Editor : M. Helmi Nurhisam
Sumber : Walking In Java
Legenda Lembu Suro Diah Ayu Pusparini prabu brawijaya gunung kelud gunung pegat