BLITAR - Legenda Lembu Suro dan Gunung Kelud menjadi salah satu cerita rakyat yang paling dikenal di Jawa Timur. Kisah ini mengangkat perjalanan seorang tokoh bernama Lembu Suro yang memenangkan sayembara Kerajaan Majapahit, tetapi akhirnya menjadi korban pengkhianatan hingga mengucapkan sumpah yang dipercaya masih dikenang masyarakat sampai sekarang.
Cerita bermula pada masa pemerintahan Prabu Brawijaya di Kerajaan Majapahit. Sang raja memiliki putri bernama Diah Ayu Pusparini yang dikenal memiliki paras cantik sehingga banyak pangeran dan bangsawan datang untuk melamarnya. Namun, sang putri belum menentukan pilihan.
Untuk mencari pendamping terbaik bagi putrinya, Prabu Brawijaya mengadakan sebuah sayembara. Setiap peserta diwajibkan merentangkan busur pusaka Kiai Garuda Yaksa dan mengangkat Gong Kiai Sekar Delima. Kedua pusaka itu dikenal sangat berat dan hanya dapat ditaklukkan oleh sosok yang memiliki kesaktian luar biasa.
Baca Juga: Gunung Pegat Blitar Simpan Filosofi yang Jarang Diketahui, Penelusuran Ini Bongkar Makna Sebenarnya
Lembu Suro Datang Saat Sayembara Hampir Berakhir
Sepanjang hari, puluhan peserta mencoba memenuhi syarat tersebut. Namun, tidak satu pun berhasil. Ketika sayembara hampir ditutup, datang seorang pemuda berkepala lembu yang memperkenalkan dirinya sebagai Lembu Suro.
Meski sempat dipandang sebelah mata, ia berhasil merentangkan busur pusaka dengan mudah. Keberhasilannya berlanjut saat mengangkat Gong Kiai Sekar Delima tanpa kesulitan berarti.
Kemenangan itu membuat Prabu Brawijaya tidak memiliki pilihan selain menetapkan Lembu Suro sebagai pemenang sayembara sesuai janji yang telah diumumkan kepada seluruh peserta.
Permintaan Terakhir Diah Ayu Pusparini
Diah Ayu Pusparini tidak menerima keputusan tersebut. Atas saran pengasuhnya, ia mengajukan syarat baru sebelum pernikahan dilangsungkan.
Lembu Suro diminta membuat sebuah sumur di puncak Gunung Kelud dalam waktu satu malam. Tantangan itu dianggap mustahil diselesaikan, tetapi Lembu Suro kembali menunjukkan kesaktiannya dengan menggali sumur menggunakan tanduknya.
Melihat pekerjaan hampir selesai sebelum fajar, Diah Ayu Pusparini meminta ayahnya menghentikan usaha tersebut.
Pengkhianatan Berujung Sumpah
Prabu Brawijaya kemudian memerintahkan para pengawal menimbun sumur yang sedang digali. Batu dan tanah dilemparkan ke dalam lubang hingga Lembu Suro terkubur hidup-hidup.
Sebelum menghilang, Lembu Suro mengucapkan sumpah yang menjadi bagian paling terkenal dalam legenda ini. Ia menyebut Kediri akan menjadi sungai, Blitar menjadi daratan, dan Tulungagung berubah menjadi perairan sebagai balasan atas pengkhianatan yang diterimanya.
Sumpah tersebut dipercaya membuat Prabu Brawijaya segera mencari cara untuk meredam akibatnya melalui berbagai upaya.
Baca Juga: Gunung Pegat Blitar Ternyata Bukan Simbol Perpisahan, Penelusuran Ini Ungkap Filosofi Sebenarnya
Asal-usul Gunung Pegat dalam Cerita Rakyat
Dalam legenda yang berkembang, kerajaan membangun tanggul besar yang kemudian dikenal sebagai Gunung Pegat. Selain itu dilakukan pula ritual tolak bala dengan melarung sesaji ke kawah Gunung Kelud sebagai bentuk permohonan keselamatan.
Tradisi tersebut disebut terus diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat di sekitar Gunung Kelud. Setiap kali gunung itu mengalami aktivitas vulkanik, sebagian masyarakat mengaitkannya dengan kisah Lembu Suro sebagai bagian dari warisan budaya dan legenda yang hidup hingga sekarang.
Terlepas dari berbagai versi cerita yang beredar, legenda Lembu Suro tetap menjadi salah satu kisah rakyat paling populer di Jawa Timur. Cerita ini tidak hanya menjelaskan asal-usul sejumlah tempat yang dikenal masyarakat, tetapi juga menyampaikan pesan tentang pentingnya menepati janji, menjunjung keadilan, dan menghindari pengkhianatan.
Editor : M. Helmi NurhisamSumber : Walking In Java