BLITAR KAWENTAR – Sistem budidaya ikan berbasis probiotik mulai didorong sebagai solusi untuk meningkatkan efisiensi usaha perikanan air tawar di Kabupaten Blitar. Dibandingkan sistem kocor yang selama ini masih banyak digunakan pembudidaya, metode probiotik dinilai mampu menghemat penggunaan air, menekan konsumsi listrik, sekaligus menjaga kualitas lingkungan kolam.
Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Blitar terus mengedukasi para pembudidaya ikan agar beralih ke sistem budidaya ikan berbasis probiotik. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya meningkatkan produktivitas perikanan sekaligus menekan biaya operasional yang selama ini menjadi salah satu tantangan utama bagi pembudidaya.
Kepala Bidang Perikanan Budidaya Disnakkan Kabupaten Blitar, Deki Nusa Asmara, menjelaskan bahwa sistem kocor masih menjadi pilihan sebagian besar pembudidaya karena dianggap sederhana dan mudah diterapkan. Namun, metode tersebut memiliki sejumlah kelemahan yang berdampak terhadap efisiensi usaha.
Sistem Kocor Dinilai Boros Air dan Energi
Menurut Deki, sistem kocor membutuhkan pergantian air secara berkala bahkan terus-menerus. Kondisi tersebut membuat kebutuhan air meningkat cukup besar dan berdampak pada tingginya konsumsi energi listrik akibat penggunaan pompa air yang berlangsung dalam waktu lama.
"Sistem kocor memang mudah diterapkan, tetapi kebutuhan air dan energi menjadi jauh lebih besar karena pergantian air dilakukan secara terus-menerus atau berkala. Hal ini tentu berpengaruh terhadap biaya operasional pembudidaya," ujarnya.
Selain meningkatkan biaya listrik, penggunaan sistem kocor juga menyebabkan banyak nutrisi dalam kolam ikut terbuang bersama air buangan. Akibatnya, nilai Feed Conversion Ratio (FCR) menjadi lebih tinggi sehingga penggunaan pakan menjadi kurang efisien.
Disnakkan juga menilai sistem tersebut memiliki risiko lebih besar terhadap penyebaran penyakit. Air yang berasal dari sumber luar berpotensi membawa patogen masuk ke dalam kolam sehingga meningkatkan peluang ikan terserang penyakit.
Tidak hanya itu, perubahan kualitas air yang terjadi secara cepat akibat pergantian air juga dapat memicu stres pada ikan. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu metabolisme, menurunkan pertumbuhan, hingga memengaruhi produktivitas budidaya.
Probiotik Jaga Kualitas Air Kolam
Sebagai alternatif, Disnakkan Kabupaten Blitar mendorong penggunaan sistem budidaya berbasis probiotik. Metode ini memanfaatkan bakteri baik yang berfungsi mengurai limbah organik sekaligus menjaga kualitas air tetap stabil.
Dengan kualitas air yang lebih terjaga, kebutuhan pergantian air menjadi jauh lebih sedikit. Dampaknya, penggunaan air dapat ditekan, konsumsi listrik untuk pompa berkurang, serta biaya operasional budidaya menjadi lebih efisien.
Selain memberikan keuntungan ekonomi bagi pembudidaya, sistem probiotik juga dinilai lebih ramah terhadap lingkungan. Air kolam tidak perlu sering dibuang sehingga limbah organik yang berpotensi mencemari lingkungan sekitar dapat diminimalkan.
Baca Juga: Telaga Rambut Monte Blitar, Mengungkap Mitos Pesugihan dan Legenda Ikan Dewa Sengkaring
"Melalui sistem probiotik, penggunaan air dan energi dapat ditekan, sementara kualitas lingkungan kolam tetap terjaga. Karena itu kami terus mendorong pembudidaya di Kabupaten Blitar untuk mulai menerapkan teknologi budidaya yang lebih efisien dan berkelanjutan," tambah Deki.
Dorong Budidaya Perikanan Berkelanjutan
Disnakkan berharap semakin banyak pembudidaya ikan air tawar di Kabupaten Blitar mulai menerapkan sistem probiotik dalam kegiatan budidaya mereka. Selain mampu meningkatkan efisiensi produksi, teknologi tersebut juga menjadi bagian dari upaya mewujudkan sektor perikanan yang lebih berkelanjutan.
Melalui edukasi yang terus dilakukan, pemerintah daerah optimistis pembudidaya dapat beradaptasi dengan metode budidaya yang lebih modern tanpa mengurangi produktivitas usaha. Dengan demikian, daya saing sektor perikanan Kabupaten Blitar diharapkan semakin meningkat sekaligus mendukung pelestarian lingkungan di masa mendatang.
Editor : Regina Gavin Agata