Anak Binaan LPKA Blitar Tekuni Barber dan Barista, Simpan Mimpi Buka Usaha hingga Ingin Minta Maaf kepada Ibu

Regina Gavin Agata • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 14:00 WIB
Seorang anak binaan LPKA Blitar berlatih memangkas rambut rekannya sebagai bagian dari pembinaan keterampilan. Selain menguasai barber, ia juga belajar menjadi barista sebagai bekal membuka usaha mandiri setelah bebas nanti.
Seorang anak binaan LPKA Blitar berlatih memangkas rambut rekannya sebagai bagian dari pembinaan keterampilan. Selain menguasai barber, ia juga belajar menjadi barista sebagai bekal membuka usaha mandiri setelah bebas nanti.

BLITAR KAWENTAR – Kisah inspiratif anak binaan LPKA Blitar kembali menjadi bukti bahwa pembinaan di balik jeruji tak selalu berakhir dengan keputusasaan. Melalui berbagai program pelatihan keterampilan, seorang anak binaan berinisial A berhasil mengasah kemampuan sebagai barber sekaligus barista. Bekal itu menjadi modal untuk menyongsong masa depan yang lebih baik setelah bebas nanti.

Anak binaan LPKA Blitar tersebut tidak hanya belajar memangkas rambut, tetapi juga meracik kopi layaknya seorang barista. Di balik keterampilan yang kini mulai dikuasainya, tersimpan harapan besar untuk membuka usaha mandiri serta meminta maaf kepada sang ibu saat kembali berkumpul bersama keluarga.

Remaja berusia 16 tahun asal Madura itu telah menjalani masa pembinaan selama satu tahun sembilan bulan dari total hukuman enam tahun. Meski jauh dari kampung halaman, ia memilih memanfaatkan waktunya untuk terus belajar dan memperbaiki diri melalui berbagai pelatihan yang disediakan LPKA Blitar.

Baca Juga: Remisi Anak Nasional 2026 di LPKA Blitar, 7 Anak Binaan Belum Terima SK karena Kendala Berkas

Dari Hobi Voli Beralih Menjadi Barber

Suara mesin cukur terdengar memenuhi salah satu sudut ruang pameran karya saat peringatan Hari Anak beberapa waktu lalu. Dengan penuh ketelitian, A memangkas rambut salah seorang temannya. Gerakannya terlihat percaya diri meski ia baru mengenal dunia barber kurang dari dua tahun.

A mengaku sebelumnya sama sekali tidak memiliki pengalaman mencukur rambut. Bahkan, hobi yang selama ini digelutinya adalah olahraga voli. Ketertarikannya terhadap dunia barber muncul setelah mengikuti program pembinaan keterampilan di LPKA.

Baca Juga: 73 Anak Binaan LPKA Blitar Diusulkan Terima Remisi Hari Anak Nasional 2026

Setelah menyelesaikan kegiatan pembinaan setiap pagi hingga siang, ia rutin mengikuti pelatihan barber satu hingga dua kali dalam sepekan. Awalnya ia kesulitan memegang gunting maupun menentukan teknik potongan yang tepat.

Namun berkat ketekunan berlatih dan terus memperhatikan arahan instruktur, kemampuannya berkembang pesat. Bagian paling sulit menurutnya adalah merapikan rambut bagian atas menggunakan gunting manual karena membutuhkan ketelitian tinggi agar hasil potongan tetap rapi.

Kini, hasil kerjanya mulai dipercaya teman-teman sesama anak binaan. Setiap kesempatan memangkas rambut dimanfaatkannya sebagai ajang latihan sekaligus mencoba berbagai model potongan baru.

Dapat Remisi, Semangat Belajar Makin Tinggi

Kesungguhan A mengikuti seluruh program pembinaan membuahkan hasil. Ia memperoleh remisi Hari Anak Nasional selama enam bulan berkat kedisiplinan dan keaktifannya mengikuti berbagai kegiatan.

Remisi tersebut menjadi motivasi baru baginya untuk terus memperbaiki diri. Ia ingin keluar dari LPKA dengan bekal keterampilan yang benar-benar bisa digunakan untuk mencari nafkah secara mandiri.

Selain pelatihan barber, A juga aktif mengikuti pelatihan meracik kopi. Sedikit demi sedikit ia mempelajari teknik menyeduh kopi hingga mampu membuat berbagai minuman layaknya seorang barista profesional.

Baca Juga: Cegah Peredaran Narkoba, LPKA Kelas I Blitar Tes Urin Petugas hingga Geledah Kamar Warga Binaan

Menurutnya, setiap ilmu yang diperoleh selama menjalani pembinaan akan menjadi bekal berharga ketika kembali ke tengah masyarakat.

Bermimpi Membuka Barbershop dan Kafe

A memiliki cita-cita sederhana namun penuh makna. Setelah bebas nanti, ia ingin membuka usaha barbershop yang dipadukan dengan kedai kopi. Dengan usaha tersebut, ia berharap bisa hidup mandiri tanpa mengulangi kesalahan di masa lalu.

Baginya, masa pembinaan bukanlah akhir dari perjalanan hidup, melainkan kesempatan kedua untuk memperbaiki masa depan. Ia percaya keterampilan yang dimiliki dapat menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih baik.

Di balik seluruh impian tersebut, ada satu keinginan yang paling ingin diwujudkan. Ia ingin segera bertemu kedua orang tuanya, terutama sang ibu, untuk meminta maaf atas kesalahan yang telah dilakukan.

Harapan itu menjadi penyemangat terbesar selama menjalani masa pembinaan. Ia ingin kembali sebagai pribadi yang lebih dewasa, bertanggung jawab, serta mampu membanggakan keluarga melalui usaha yang dibangunnya sendiri.

Kisah A menjadi gambaran bahwa program pembinaan di LPKA Blitar tidak hanya berfokus pada pembinaan karakter, tetapi juga membekali anak binaan dengan keterampilan praktis agar siap kembali ke masyarakat. Dengan bekal kemampuan barber dan barista, ia berharap dapat membuka lembaran baru dalam kehidupannya setelah menyelesaikan masa pembinaan.

Editor : Regina Gavin Agata
anak binaan LPKA barber blitar LPKA Blitar barista kisah inspiratif