BLITAR KAWENTAR – SMKN 1 Kademangan kembali menghadirkan inovasi di bidang pendidikan vokasi melalui peluncuran Smart Fish Incubator (SmaFIn), alat penetasan telur ikan berbasis Internet of Things (IoT).
Teknologi tersebut dirancang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus menjawab tantangan dalam proses pembenihan ikan yang selama ini masih dilakukan secara konvensional.
Inovasi SmaFIn menjadi salah satu bentuk implementasi pembelajaran berbasis teknologi di lingkungan sekolah kejuruan. Dengan memanfaatkan sistem pemantauan digital, alat ini mampu menjaga kondisi inkubasi telur ikan secara otomatis sehingga tingkat keberhasilan penetasan dapat mencapai lebih dari 90 persen.
Pengembangan SmaFIn dilakukan oleh Program Keahlian Agribisnis Perikanan Air Tawar SMKN 1 Kademangan sebagai upaya mencetak lulusan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri perikanan modern.
Menjawab Kendala Penetasan Telur Ikan
Selama ini, proses penetasan telur ikan masih dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari perubahan suhu, kualitas air, hingga pemantauan yang dilakukan secara manual. Kondisi tersebut membuat tingkat keberhasilan penetasan sering kali belum maksimal.
Melalui SmaFIn, berbagai kendala tersebut diminimalkan dengan penggunaan sistem inkubator berbentuk corong yang dilengkapi sirkulasi air. Aliran air yang terus bergerak membuat telur tidak saling menempel maupun menggumpal sehingga kebutuhan oksigen tetap tercukupi.
Baca Juga: Lima Siswa SMKN 1 Kademangan Blitar Borong Beasiswa Petani Muda saat Ikuti Petro Agrifood Expo 2026
Sistem tersebut juga menjaga kondisi lingkungan inkubasi tetap stabil sehingga peluang telur menetas menjadi lebih tinggi dibanding metode konvensional.
Inovasi ini diharapkan dapat membantu meningkatkan produktivitas pembenihan ikan sekaligus memperkenalkan teknologi modern kepada para siswa sejak di bangku sekolah.
Dilengkapi Berbagai Sensor Pintar
Keunggulan utama SmaFIn terletak pada penerapan teknologi IoT yang memungkinkan seluruh proses dipantau secara real time melalui aplikasi Android.
Alat ini dilengkapi berbagai sensor untuk mengukur suhu air, tingkat keasaman (pH), Total Dissolved Solid (TDS), kadar amonia, kamera pemantau proses pengadukan telur, hingga penghitung jumlah larva yang berhasil menetas.
Selain itu, sistem mampu mengatur suhu air secara otomatis pada kisaran ideal 28–30 derajat Celsius sehingga proses inkubasi berlangsung dalam kondisi optimal.
Semua data tersebut dapat dipantau melalui aplikasi SmaFIn-Ku menggunakan telepon pintar sehingga pengguna tidak perlu melakukan pemeriksaan secara manual setiap saat.
Media Pembelajaran Berbasis Industri
Guru Produktif Agribisnis Perikanan Air Tawar SMKN 1 Kademangan, Anik Susiantutik SPi, menjelaskan bahwa SmaFIn bukan hanya menjadi alat praktik, tetapi juga media pembelajaran yang menggabungkan ilmu perikanan dengan teknologi digital.
Melalui inovasi tersebut, siswa tidak hanya belajar teknik pembenihan ikan, tetapi juga memahami cara membaca data sensor, mengoperasikan perangkat IoT, hingga melakukan monitoring melalui aplikasi berbasis Android.
Baca Juga: SMKN 1 Kademangan Blitar Kembali Gelar Job Fair 2026, Buka Ribuan Lowongan Pekerjaan
Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kompetensi lulusan agar lebih siap memasuki dunia kerja maupun mengembangkan usaha mandiri di sektor perikanan berbasis teknologi.
Dukung Smart Aquaculture dan Ketahanan Pangan
Lebih dari sekadar sarana pembelajaran, SmaFIn juga menjadi bagian dari upaya SMKN 1 Kademangan mendukung pengembangan smart aquaculture di Indonesia.
Inovasi ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas benih ikan sehingga ikut mendukung program ketahanan pangan nasional. Hingga saat ini, SmaFIn telah dimanfaatkan sebagai media praktik di laboratorium Agribisnis Perikanan Air Tawar sekaligus menghasilkan modul pembelajaran yang memadukan ilmu perikanan, teknologi informasi, dan kewirausahaan.
Melalui inovasi tersebut, sekolah berharap dapat mencetak lulusan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi sekaligus mampu bersaing di industri perikanan modern yang semakin mengandalkan sistem digital. (*)
Editor : Aprillita Saskia Azzahrah Putri Kurniawan