Cerita Jualan Helm Lawas, Warga Blitar Raup Cuan hingga 30 Unit Sebulan, Kolektor dari Jakarta hingga Bali Berebut

M. Subchan Abdullah • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 14:00 WIB
Berawal dari hobi, kini jadi sumber cuan. Arik Agung, warga Sanankulon, Kabupaten Blitar, sukses mengembangkan usaha jual beli dan restorasi helm lawas dengan penjualan mencapai 30 unit per bulan.
Berawal dari hobi, kini jadi sumber cuan. Arik Agung, warga Sanankulon, Kabupaten Blitar, sukses mengembangkan usaha jual beli dan restorasi helm lawas dengan penjualan mencapai 30 unit per bulan.

BLITAR KAWENTAR – Jualan helm lawas masih menjadi peluang usaha yang menjanjikan di tengah maraknya tren barang vintage. Hal itu dibuktikan Arik Agung Prasetyo Budi, warga Desa Kalipucung, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar, yang sukses meraup keuntungan dari bisnis jual beli sekaligus restorasi helm jadul. Dalam sebulan, dia mampu menjual rata-rata 30 unit helm kepada para kolektor dari berbagai daerah di Indonesia.

Permintaan helm lawas terus meningkat seiring bertambahnya jumlah komunitas pecinta motor klasik. Kondisi tersebut membuat usaha yang dirintis Arik sejak 2016 berkembang pesat hingga menjadi mata pencaharian utama.

Berbekal hobi mengoleksi helm jadul, Arik awalnya hanya mencoba menjual sebagian koleksi pribadinya melalui media sosial. Tak disangka, respons pasar sangat positif. Banyak kolektor yang tertarik membeli helm-helm tersebut karena dianggap memiliki nilai sejarah sekaligus estetika.

Baca Juga: Review Polytron Fox 200, Motor Listrik Mungil dengan Cruise Control dan Bagasi Helm Full Face, Cocok Buat Harian?

"Dulu saya coba jual helm koleksi pribadi lewat media sosial dan ternyata laku. Dari situ, saya melihat ternyata ada pasarnya," ujarnya.

Melihat peluang tersebut, Arik mulai serius menekuni bisnis restorasi helm lawas. Rumah orang tuanya kini disulap menjadi tempat restorasi sekaligus showroom sederhana. Ratusan helm berbagai model tersusun rapi di rak-rak ruang tamu. Sebagian lainnya masih dalam tahap perbaikan sebelum dipasarkan kembali.

Berburu Helm Bekas dari Berbagai Daerah

Baca Juga: Pembalap Indonesia Tampil Heroik di Balapan Berat, Duel Lawan Helmina dan Nakarin Berlangsung Sengit hingga Akhir Race

Untuk memenuhi permintaan pasar, Arik aktif mencari helm lawas dari komunitas pecinta barang vintage hingga para pengepul barang bekas. Helm yang didapat kemudian dibersihkan, diperbaiki, bahkan dicat ulang apabila diperlukan agar tampil lebih menarik tanpa menghilangkan karakter aslinya.

Harga beli helm bekas berkisar Rp75 ribu per unit. Setelah melalui proses restorasi, helm tersebut dijual kembali dengan harga Rp150 ribu hingga Rp300 ribu. Nilai jualnya bergantung pada kondisi fisik, tingkat orisinalitas, serta jenis helm yang ditawarkan.

Menurut Arik, helm dengan kondisi asli tetap menjadi incaran utama para kolektor. Semakin lengkap komponen bawaan pabrik, semakin tinggi pula harga jualnya.

Helm Chips Jadi Buruan Kolektor

Salah satu model yang paling diminati adalah helm jenis chips. Helm ini memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan model lainnya, terutama jika cat dan stikernya masih orisinal.

"Kalau yang masih orisinal, harganya memang lebih tinggi. Kolektor biasanya mencari helm dengan kondisi asli atau hasil restorasi yang rapi," katanya.

Tak jarang, harga helm chips yang masih mempertahankan kondisi aslinya bisa mencapai Rp350 ribu per unit. Bahkan untuk tipe tertentu yang mulai langka, harganya dapat terus meningkat mengikuti permintaan pasar.

Baca Juga: Tak Gunakan Helm-Sabuk Pengamanan Dominasi Pelanggaran Operasi Zebra Semeru 2025 di Blitar, Segini Jumlahnya

Menurutnya, para kolektor tidak hanya membeli helm sebagai pelengkap kendaraan klasik, tetapi juga menjadikannya bagian dari koleksi pribadi. Karena itu, aspek keaslian menjadi pertimbangan utama sebelum melakukan transaksi.

Pembeli Didominasi Luar Jawa Timur

Meski usaha tersebut berada di Kabupaten Blitar, mayoritas pembelinya justru berasal dari luar Jawa Timur. Jakarta, Jawa Barat, hingga Bali menjadi daerah dengan permintaan tertinggi karena memiliki komunitas motor klasik yang cukup besar.

Baca Juga: ⁠Hasil Operasi Patuh Semeru 2025 Polres Blitar Kota, Pemotor Tak Pakai Helm Dominasi

Arik memanfaatkan media sosial dan jaringan komunitas sebagai sarana promosi. Cara tersebut dinilai efektif memperluas pasar tanpa harus membuka toko besar.

"Dalam sebulan rata-rata bisa terjual sekitar 30 unit. Paling banyak pembeli dari Jakarta, Jawa Barat, dan Bali karena komunitas motornya cukup besar," ungkapnya.

Bisnis helm lawas yang dijalankannya membuktikan bahwa barang-barang lama masih memiliki nilai ekonomi tinggi apabila dirawat dan dipasarkan dengan tepat. Selain menjadi sumber penghasilan, usaha tersebut juga ikut membantu melestarikan perlengkapan otomotif klasik yang kini semakin sulit ditemukan.

Meningkatnya minat masyarakat terhadap motor klasik diperkirakan akan terus mendorong permintaan helm lawas dalam beberapa tahun ke depan. Kondisi itu membuka peluang bagi pelaku usaha lain untuk mengembangkan bisnis serupa, terutama bagi mereka yang memiliki ketertarikan terhadap dunia otomotif dan barang-barang vintage.

Editor : Regina Gavin Agata
jualan helm lawas helm lawas blitar restorasi helm kolektor helm jadul usaha UMKM blitar