Barongan Kucingan Blitar Tetap Eksis, Maestro 91 Tahun Tampil Memukau dan Bupati Rijanto Dorong Jadi Warisan Budaya Nasional

M. Subchan Abdullah • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 11:00 WIB
Malam di kawasan Lodoyo, Blitar, mendadak bergetar oleh ritme kendang yang membahana. Di tengah remang lampu panggung dan riuh sorak ribuan pasang mata, puluhan pembarong kucingan bersiap menggebrak  Sabtu (1/8) malam warga.
Malam di kawasan Lodoyo, Blitar, mendadak bergetar oleh ritme kendang yang membahana. Di tengah remang lampu panggung dan riuh sorak ribuan pasang mata, puluhan pembarong kucingan bersiap menggebrak Sabtu (1/8) malam warga.

 

BLITAR KAWENTAR – Barongan Kucingan Blitar kembali membuktikan eksistensinya sebagai salah satu kesenian tradisional khas Bumi Penataran.

 Pergelaran kolosal yang digelar di depan Alun-Alun Lodoyo, Kabupaten Blitar, Sabtu (1/8) malam, menyedot perhatian ribuan warga sekaligus menjadi momentum penguatan identitas budaya lokal menjelang peringatan Hari Jadi ke-702 Blitar.

Atraksi tersebut tidak hanya menghadirkan puluhan seniman, tetapi juga menampilkan sosok maestro Barongan Kucingan Blitar berusia 91 tahun yang masih mampu memperagakan tarian barong di hadapan masyarakat.

Baca Juga: Dua Hari Tak Terlihat, Pria di Talun Ditemukan Meninggal Membusuk dalam Kamar, Polisi Pastikan Tak Ada Tanda Kekerasan

 Penampilannya menjadi simbol bahwa seni tradisi tetap hidup berkat dedikasi para pelaku budaya lintas generasi.

Pergelaran budaya ini sengaja dikemas secara kolosal dengan menghadirkan 70 pembarong kucingan, didampingi satu maestro dan satu pelestari seni.

Jumlah tersebut dipilih sebagai simbol dalam rangka menyambut Hari Jadi ke-702 Blitar sekaligus menunjukkan kekuatan komunitas seni tradisional yang masih bertahan hingga kini.

Baca Juga: KPU Kota Blitar Masih Tunggu Regulasi Pusat soal Pembiayaan Pilkada, Skemanya Bakal Dibahas Pemkot dan DPRD

Malam itu, kawasan Lodoyo dipenuhi dentuman kendang yang berpadu dengan sorak penonton.

Puluhan pembarong tampil serempak membawakan atraksi khas Barongan Kucingan yang dikenal memiliki gerakan lincah menyerupai tingkah laku seekor kucing.

Ketua Panitia Pergelaran Barongan Kucingan, Dhimas Prakoso, mengatakan para seniman memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga keberlangsungan kebudayaan daerah.

 Menurutnya, pertunjukan tersebut menjadi bukti bahwa komunitas jaranan dan Barongan Kucingan di Blitar masih aktif berkarya dan terus berkembang.

Suasana haru muncul ketika sang maestro Barongan Kucingan memasuki arena pertunjukan dengan dipandu seniman muda menggunakan kereta panggul.

 Meski telah berusia 91 tahun, ia masih memperlihatkan semangat luar biasa saat mengenakan topeng barongan dan memperagakan sejumlah gerakan di hadapan ribuan penonton.

Baca Juga: Dana Pilkada 2029 Mulai Disiapkan Pemkot Blitar, Rp 10 Miliar Diusulkan Masuk APBD 2027 tapi Terganjal Aturan

Walaupun beberapa kali harus berhenti sejenak untuk mengatur napas sebelum mengangkat barongan yang cukup berat, penampilannya tetap menuai tepuk tangan panjang dari masyarakat.

 Dedikasinya menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus melestarikan kesenian tradisional Blitar.

Panitia juga menegaskan bahwa semangat para seniman muda menjadi modal penting untuk membawa Barongan Kucingan naik kelas melalui inovasi tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi yang diwariskan para pendahulu.

Baca Juga: Oppo Reno 14 5G Buktikan Kualitas Kamera, Hasil Rekaman 4K 60 FPS Jadi Sorotan di Kelas Rp6 Jutaan

Barongan Kucingan merupakan salah satu seni tradisional khas Blitar yang memiliki karakter berbeda dibandingkan seni barong dari daerah lain.

 Gerakannya yang meniru kelincahan kucing dipadukan dengan topeng kayu berciri khas menjadikan pertunjukan ini memiliki identitas budaya yang kuat.

Keunikan tersebut membuat Barongan Kucingan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Lodoyo sekaligus memperkaya ragam kesenian tradisional di Kabupaten Blitar.

Baca Juga: Legenda Gunung Kelut, Pengkhianatan Dewi Kilisuci kepada Lembu Suro Berujung Kutukan yang Melegenda

Bupati Blitar Rijanto yang hadir dalam pergelaran tersebut menegaskan bahwa berbagai tradisi di wilayah Blitar telah memperoleh pengakuan pemerintah pusat sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB), di antaranya Siraman Gong Kyai Pradah dan Jaranan.

Karena itu, Barongan Kucingan juga diharapkan terus berkembang agar tidak punah oleh perkembangan zaman.

Menurut Rijanto, pelestarian budaya tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.

Baca Juga: Rabundo Bawa Cita Rasa Bumbu Rendang asli Minang Tembus Pasar Nasional melalui Pemberdayaan BRI, Begini Kisahnya

Ribuan pengunjung yang hadir dinilai ikut menggerakkan sektor usaha mikro, pedagang kaki lima, hingga pelaku UMKM di sekitar lokasi pertunjukan.

Ia berharap kegiatan budaya yang dikemas secara kreatif dapat terus diselenggarakan sehingga seni tradisional Blitar semakin dikenal luas, sekaligus menjadi daya tarik wisata budaya yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah Blitar selatan. (*/c1/ady)

Editor : Ratna Anggi Puspita Sari
Seni Budaya Blitar Barongan Kucingan Blitar Maestro Barongan hari jadi blitar Rijanto