BLITAR KAWENTAR – Persentase balita stunting di Kota Blitar masih menjadi perhatian Dinas Kesehatan (Dinkes).
Berdasarkan data Elektronik-Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPGBM) dari penimbangan rutin di posyandu setiap bulan, pada Juni terdapat 440 balita stunting atau berada di angka 5,9 persen.
Jumlah balita stunting tersebut mengalami fluktuasi dari bulan ke bulan. Perubahan angka tersebut mengacu pada hasil pencatatan dan pengukuran balita di wilayah Kota Blitar.
Karena itu, angka stunting tidak selalu menunjukkan jumlah yang sama setiap bulannya.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Blitar Endang Purwoko menjelaskan, perubahan angka prevalensi stunting berkaitan dengan hasil pengukuran pertumbuhan balita.
Apabila jumlah balita stunting menurun, artinya terdapat balita yang sebelumnya masuk dalam pencatatan stunting kemudian pertumbuhan fisik dan mentalnya telah sesuai dengan usia.
Sebaliknya, jumlah balita yang tercatat stunting dapat bertambah ketika berdasarkan beberapa kali pengukuran terdapat balita yang masuk kategori pendek maupun sangat pendek sesuai usianya.
Selain berdasarkan data E-PPGBM, angka stunting juga tercatat dalam survei nasional.
Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), angka stunting Kota Blitar pada 2024 tercatat sebesar 11,4 persen.
Pemerintah pusat sendiri menetapkan angka 18 persen sebagai batas target stunting nasional pada 2029.
Untuk menekan kasus stunting, Dinkes Kota Blitar menjalankan upaya pencegahan secara komprehensif.
Langkah tersebut tidak hanya dilakukan ketika anak sudah lahir, tetapi dimulai dari masa remaja hingga kehamilan.
Baca Juga: Oppo Reno 14 5G Tunjukkan Kualitas Kamera Kelas Atas, Review Ungkap Hasil 4K 60 FPS dan Zoom 120x
Salah satu upaya dari hulu dilakukan melalui sekolah dengan pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya mempersiapkan kesehatan calon ibu sejak usia remaja.
Dinkes juga menggandeng Kementerian Agama (Kemenag) untuk memberikan bimbingan konseling kepada calon pengantin.
Materi yang diberikan berkaitan dengan persiapan kehamilan sehat serta cara menjaga kesehatan ibu dan anak.
Setelah memasuki masa kehamilan, ibu hamil diwajibkan melakukan pemeriksaan secara rutin sebanyak delapan kali, termasuk pemeriksaan antenatal care (ANC).
Pemeriksaan menyeluruh, termasuk USG, dapat dilakukan di puskesmas induk maupun puskesmas pembantu (pustu).
Baca Juga: Natasha Wilona Kembali Disorot, Pengakuannya soal Verrell Bramasta dan Ramalan Tarot Tuai Perhatian
Pemkot Blitar juga memberikan dukungan terhadap pemenuhan gizi ibu hamil melalui program Berkah Bumil.
Program tersebut memanfaatkan alokasi anggaran fiskal dari pemerintah pusat.
Melalui Berkah Bumil, seluruh ibu hamil, baik yang masuk kategori risiko rendah, tinggi, maupun sangat tinggi, mendapatkan bantuan pemenuhan gizi berupa telur dan susu.
Baca Juga: Natasha Wilona Jadi Sorotan, Hubungannya dengan Verrell Bramasta dan Ramalan Tarot Bikin Heboh
Bantuan diberikan setiap dua minggu sekali melalui pustu. Pada minggu pertama dan ketiga, setiap ibu hamil memperoleh bantuan telur mentah sebanyak 2 kilogram.
Jumlah tersebut disebut setara dengan konsumsi dua butir telur setiap hari. Selain telur, ibu hamil juga memperoleh bantuan susu.
Mekanisme pengambilan bantuan di pustu sekaligus mendorong ibu hamil untuk rutin melakukan pemeriksaan kehamilan.
Baca Juga: Legenda Gunung Kelud, Kisah Lembu Suro Menangkan Sayembara hingga Dikhianati Dewi Kilisuci
Dinkes mengingatkan bahwa hasil penanganan stunting tidak dapat terlihat secara langsung. Deteksi stunting pada anak dapat dilihat secara lebih lengkap setelah anak berusia dua tahun.
Dinkes Kota Blitar juga memetakan tiga faktor utama yang dapat memicu munculnya kasus stunting pada balita. Ketiganya adalah pola asuh, status ekonomi, dan penyakit bawaan.
Melalui berbagai intervensi tersebut, Dinkes Kota Blitar berharap kasus balita stunting dapat dicegah sedini mungkin.
Baca Juga: Real Madrid Indonesia Tetap Solid, Madridista Tanah Air Perkuat Kebersamaan di Musim 2026
Upaya yang dilakukan mulai dari pemberian tablet tambah darah kepada remaja putri, pendampingan calon pengantin, pemeriksaan kehamilan, hingga pemenuhan gizi ibu hamil melalui Berkah Bumil.
Dinkes berharap rangkaian pencegahan tersebut dapat membantu menekan kasus stunting secara signifikan pada tahun-tahun berikutnya. (mg1/c1/ady)
Editor : Ratna Anggi Puspita Sari