Asal Usul Nama Blitar Terungkap, Peneliti UGM Sebut Bukan Berasal dari Prasasti Balitar I

Anggi Septian A.P. • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 17:29 WIB
Foto Prasasti Kinewu(kiri), dan foto Fransiskus Asisi Maria Beniyoga Puntoadhi. (DOK. PRIBADI)
Foto Prasasti Kinewu(kiri), dan foto Fransiskus Asisi Maria Beniyoga Puntoadhi. (DOK. PRIBADI)

BLITAR – Asal usul nama Blitar kembali menjadi perhatian menjelang peringatan Hari Jadi Kabupaten Blitar. Selama ini banyak masyarakat menganggap nama Blitar berasal dari Prasasti Balitar I.

Namun, kajian terbaru justru menunjukkan bahwa toponim atau nama wilayah Balitar pertama kali dapat dibuktikan secara jelas melalui Kakawin Nagarakretagama, bukan dari Prasasti Balitar I.

(gaṇamūrti) Prasasti Waringin Pitu I, Mleri
Gaṇamūrti merupakan lanchana atau lambang dengan wujud arca Ganesha. Lanchana ini
merupakan lanchana dari Raja Aryeswara, raja ke-5 dari Kerajaan Kadiri/Panjalu.
Prasasti dalam foto adalah prasasti yang saat ini berada di Kekunooan Mleri, Srengat.
Prasasti ini diterbitkan pada 1091 Śaka / 3 September 1169 Masehi. (DOK. PRIBADI)
(gaṇamūrti) Prasasti Waringin Pitu I, Mleri Gaṇamūrti merupakan lanchana atau lambang dengan wujud arca Ganesha. Lanchana ini merupakan lanchana dari Raja Aryeswara, raja ke-5 dari Kerajaan Kadiri/Panjalu. Prasasti dalam foto adalah prasasti yang saat ini berada di Kekunooan Mleri, Srengat. Prasasti ini diterbitkan pada 1091 Śaka / 3 September 1169 Masehi. (DOK. PRIBADI)

Hal itu disampaikan mahasiswa Semester V Program Studi S1 Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM), Fransiskus Asisi Maria Beniyoga Puntoadhi.

Menurutnya, penelusuran asal usul nama Blitar harus didasarkan pada sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, seperti prasasti, naskah kuno, maupun tinggalan arkeologi.

(garuḍamukha) Lanchana Prasasti Talan Garuḍamukha merupakan lanchana atau lambang berwujud garuda. Lambang ini dipakai oleh beberapa raja, yakni Airlangga dalam Prasasti Baru, Samarotsaha dalam Prasasti Sumengka dan Jayabhaya dalam Prasasti Talan. Prasasti dalam foto adalah Prasasti Talan yang saat ini berada di Wlingi. Prasasti ini diterbitkan pada 1058 Śaka / 24 Agustus 1136 Masehi.
(garuḍamukha) Lanchana Prasasti Talan Garuḍamukha merupakan lanchana atau lambang berwujud garuda. Lambang ini dipakai oleh beberapa raja, yakni Airlangga dalam Prasasti Baru, Samarotsaha dalam Prasasti Sumengka dan Jayabhaya dalam Prasasti Talan. Prasasti dalam foto adalah Prasasti Talan yang saat ini berada di Wlingi. Prasasti ini diterbitkan pada 1058 Śaka / 24 Agustus 1136 Masehi.

Ia menjelaskan, nama suatu wilayah merupakan bagian dari identitas budaya yang terbentuk melalui proses sejarah yang panjang.

Karena itu, penelitian mengenai toponim tidak cukup hanya mengandalkan cerita turun-temurun, melainkan harus merujuk pada sumber primer yang autentik.

Angka Tahun Candi Kotes Candi Kotes merupakan kompleks candi yang terdiri dari dua buah candi dengan angka tahun yang berbeda. Dalam foto, angka tahun yang terbaca adalah 1223 Saka (1301 Masehi).
Angka Tahun Candi Kotes Candi Kotes merupakan kompleks candi yang terdiri dari dua buah candi dengan angka tahun yang berbeda. Dalam foto, angka tahun yang terbaca adalah 1223 Saka (1301 Masehi).

Prasasti Balitar I Jadi Dasar Hari Jadi Blitar

Fransiskus menjelaskan, Prasasti Balitar I memang menjadi dasar penetapan Hari Jadi Kabupaten Blitar. Sayangnya, keberadaan prasasti tersebut kini sudah tidak diketahui lagi.

Berdasarkan catatan R.D.M. Verbeek pada 1891, prasasti itu berasal dari kawasan Candi Pertapan di Gunung Pegat sebelum akhirnya dipindahkan ke Pendopo Kabupaten Blitar.

Dari lokasi penyimpanan inilah kemudian muncul penyebutan Prasasti Balitar I.

 

Ganesha di Boro Ganesha di Boro merupakan arca Ganesha dengan dua wajah, sisi depan adalah Ganesha sedangkan lapiknya atau sisi belakang dipahatkan wajah kala. Arca ini memiliki candrasengkala yang berbunyi Hana Gana Hana Bumi yang setara dengan 1161 Saka.
Ganesha di Boro merupakan arca Ganesha dengan dua wajah, sisi depan adalah Ganesha sedangkan lapiknya atau sisi belakang dipahatkan wajah kala. Arca ini memiliki candrasengkala yang berbunyi Hana Gana Hana Bumi yang setara dengan 1161 Saka.

Lihat juga: 3d Model Ganesha di Boro

Prasasti tersebut pernah dibaca sejumlah epigraf. J.L.A. Brandes pada 1913 membaca angka tahunnya sebagai 1236 Saka. 

Namun, pembacaan itu kemudian dikoreksi oleh L.C. Damais pada 1955 menjadi 1246 Saka atau bertepatan dengan 5 Agustus 1324 Masehi.

"Dalam pembacaan terakhir, Prasasti Balitar I hanya memuat informasi mengenai tahun penerbitan, nama raja Jayanagara, serta penerima perintah. Nama Balitar sendiri justru tidak disebutkan secara eksplisit," terang Fransiskus.

Penghormatan pada Candi Simping. Candi Simping merupakan candi pendharmaan Raden Wijaya (Śrī Mahārājā Kṛtarājasa Jayawarddhana) yang kini tersisa bagian kaki dan ornamennya. Pada foto, tampak lapik arca dengan sesajian dari umat Hindu yang selesai sembahyang.
Penghormatan pada Candi Simping. Candi Simping merupakan candi pendharmaan Raden Wijaya (Śrī Mahārājā Kṛtarājasa Jayawarddhana) yang kini tersisa bagian kaki dan ornamennya. Pada foto, tampak lapik arca dengan sesajian dari umat Hindu yang selesai sembahyang.

Nama Balitar Muncul di Kakawin Nagarakretagama

Menurut Fransiskus, catatan tertua yang secara jelas menyebut nama Balitar terdapat dalam Kakawin Nagarakretagama karya Mpu Prapanca yang selesai ditulis pada 1365 Masehi.

Dalam naskah sastra Jawa Kuno tersebut, nama Balitar disebut berulang kali pada Pupuh 17, Pupuh 61, dan Pupuh 73.

Pada Pupuh 17, Balitar disebut sebagai salah satu daerah yang dikunjungi Raja Hayam Wuruk setelah bersembah bakti kepada Hyang Acalapati.

Prasasti Gunung Nyamil merupakan prasasti yang saat ini berada di Kantor Perkebunan Gunung Nyamil. Berdasarkan bentuk aksaranya, prasasti ini masuk pada masa Kerajaan Majapahit.
Prasasti Gunung Nyamil merupakan prasasti yang saat ini berada di Kantor Perkebunan Gunung Nyamil. Berdasarkan bentuk aksaranya, prasasti ini masuk pada masa Kerajaan Majapahit.

Perjalanan kerajaan kemudian dilanjutkan menuju Jimur dan sejumlah wilayah lain di Jawa Timur.

Sementara pada Pupuh 61, Balitar kembali disebut ketika Hayam Wuruk melakukan perjalanan menuju Candi Penataran.

Dari Balitar, rombongan kerajaan melanjutkan perjalanan ke wilayah selatan hingga kawasan Lodaya.

 

Prasasti Kinewu merupakan prasasti yang dipahatkan pada bagian belakaang atau stela dari arca ganesha. Prasasti ini diterbitkan pada 20 November 907 Masehi oleh Dyah Balitung, raja Mataram Kuno dan berisi pengurangan dan pembebasan pajak.
Prasasti Kinewu merupakan prasasti yang dipahatkan pada bagian belakaang atau stela dari arca ganesha. Prasasti ini diterbitkan pada 20 November 907 Masehi oleh Dyah Balitung, raja Mataram Kuno dan berisi pengurangan dan pembebasan pajak.

Adapun pada Pupuh 73, Balitar tercantum dalam daftar kawasan yang memiliki candi pendharmaan bersama sejumlah wilayah penting lain, seperti Kidal, Jajaghu, dan Sila Petak.

"Penyebutan yang berulang menunjukkan bahwa Balitar merupakan wilayah yang memiliki posisi penting dalam struktur politik, keagamaan, dan administrasi Kerajaan Majapahit," jelasnya.

Candi Pertapan di Gunung Pegat, Srengat, diperkirakan dibangun pada masa Kertajaya (raja terakhir Kerajaan Kadiri) berdasarkan Prasasti Subhasita. Saat ini, sisa struktur yang dapat dijumpai hanya berupa bagian kaki candi, kala, dan yoni.
Candi Pertapan di Gunung Pegat, Srengat, diperkirakan dibangun pada masa Kertajaya (raja terakhir Kerajaan Kadiri) berdasarkan Prasasti Subhasita. Saat ini, sisa struktur yang dapat dijumpai hanya berupa bagian kaki candi, kala, dan yoni.

Blitar Sudah Dihuni Sejak Abad ke-9

Meski nama Balitar baru ditemukan dalam sumber tertulis abad ke-14, Fransiskus menegaskan bukan berarti wilayah Blitar baru berkembang pada masa Majapahit.

Menurutnya, sejumlah prasasti yang ditemukan di wilayah Blitar membuktikan daerah ini telah menjadi kawasan permukiman sekaligus pusat aktivitas pemerintahan sejak abad ke-9 Masehi.

3D model

  1. Prasasti Gunung Nyamil: https://skfb.ly/pFvyr
  2. Ganesha Boro: https://skfb.ly/pG8MN
  3. Yoni dari Candi Pertapan: https://skfb.ly/pMuKR

Beberapa di antaranya adalah Prasasti Rampal, Prasasti Suru, dan Prasasti Kinewu yang diterbitkan pada masa Kerajaan Mataram Kuno, termasuk masa pemerintahan Dyah Balitung.

Selain itu, sejumlah nama tempat kuno masih bertahan hingga sekarang, meski mengalami sedikit perubahan pengucapan.

Misalnya Wleri menjadi Mleri, Plumbangan menjadi Penumbangan, serta Lawang Wentar yang kini dikenal sebagai Sawentar.

"Kesinambungan toponim tersebut menunjukkan bahwa kawasan yang sekarang dikenal sebagai Blitar telah memiliki aktivitas hunian sejak abad ke-9 Masehi.

Sementara nama Balitar sendiri baru dapat dipastikan muncul dalam Kakawin Nagarakretagama pada abad ke-14," pungkas Fransiskus.

Kajian tersebut memperlihatkan bahwa sejarah Blitar tidak hanya ditopang oleh satu prasasti, melainkan juga diperkuat oleh berbagai sumber arkeologis dan naskah klasik yang saling melengkapi dalam menjelaskan perjalanan panjang terbentuknya identitas Kabupaten Blitar.(*)

Editor : Anggi Septian A.P.
Prasasti Balitar I Kakawin Nagarakretagama majapahit sejarah blitar Asal usul Nama Blitar