BLITAR KAWENTAR – Asal-usul nama Blitar hingga kini masih menjadi perhatian para pemerhati sejarah.
Penelusuran mengenai toponim atau nama wilayah tersebut tidak cukup hanya mengandalkan cerita turun-temurun, tetapi harus didukung oleh bukti sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Prasasti, naskah kuno, dan tinggalan arkeologis menjadi sumber utama dalam mengungkap jejak sejarah lahirnya nama Blitar.
Baca Juga: Hari Jadi ke-702 Kabupaten Blitar, Mbangun Blitar Tak Sekadar Infrastruktur, tapi Juga Peradaban
Dalam kajian sejarah, nama suatu wilayah merupakan bagian dari identitas budaya yang terbentuk melalui perjalanan panjang sebuah peradaban.
Oleh karena itu, penelitian mengenai asal-usul nama Blitar dilakukan dengan mengacu pada sumber-sumber primer yang berasal dari masa lampau, terutama prasasti dan naskah kuno.
Prasasti memiliki posisi yang sangat penting karena merupakan dokumen resmi yang diterbitkan oleh raja atau pejabat pada zamannya.
Baca Juga: Ramalan Zodiak Agustus 2026 Gemini Memprediksi Kebahagiaan dan Rezeki Melimpah
Melalui prasasti, para peneliti dapat mengetahui keberadaan suatu wilayah, fungsi pemerintahan, hingga kondisi sosial yang berkembang pada masa itu.
Salah satu tinggalan sejarah yang memiliki peran penting dalam perjalanan Kabupaten Blitar adalah Prasasti Balitar I. Prasasti inilah yang dijadikan dasar penetapan Hari Jadi Kabupaten Blitar.
Meski demikian, keberadaan fisik Prasasti Balitar I saat ini sudah tidak diketahui. Berdasarkan catatan Veerbeek pada tahun 1891, prasasti tersebut berasal dari Candi Pertapan di kawasan Gunung Pegat.
Selanjutnya, prasasti dipindahkan ke Pendopo Kabupaten Blitar sehingga kemudian dikenal dengan nama Prasasti Balitar I.
Prasasti tersebut telah dikaji oleh sejumlah ahli. Salah satunya J.L.A. Brandes yang pada tahun 1913 membaca angka tahun prasasti sebagai 1236 Saka. Kajian tersebut kemudian diperbarui oleh L.C. Damais pada tahun 1955.
Damais memperbaiki pembacaan angka tahun menjadi 1246 Saka dan menetapkan tanggal pasti prasasti tersebut, yakni 5 Agustus 1324 Masehi.
Dalam pembacaannya juga disebutkan bahwa perintah dalam prasasti berasal dari Raja Jayanagara, raja kedua Kerajaan Majapahit, melalui nama regnal Śrī Sundarapandyadewa.
Namun demikian, hasil pembacaan tersebut juga menunjukkan bahwa nama Balitar maupun Blitar tidak tercantum secara eksplisit dalam isi Prasasti Balitar I.
Informasi yang berhasil dibaca hanya meliputi tahun penerbitan prasasti, nama raja, serta penerima perintah kerajaan.
Baca Juga: Persib Bandung Terbaru Hadapi Persija di Semifinal Piala Presiden, Laga Digelar Tanpa Penonton
Catatan tertua yang secara jelas menyebut nama Balitar justru ditemukan dalam Kakawin Nagarakṛtāgama atau Kakawin Deśavarṇana karya Mpu Prapanca.
Naskah sastra Jawa Kuno tersebut diselesaikan sekitar September hingga Oktober 1365 Masehi pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk.
Kakawin Nagarakṛtāgama memuat gambaran mengenai kondisi pemerintahan Majapahit beserta daftar wilayah yang berada dalam kekuasaannya.
Baca Juga: Koperasi Merah Putih Mulai Berkembang, Sediakan Sembako Murah hingga Produk UMKM untuk Warga
Berdasarkan hasil transliterasi dan terjemahan kakawin tersebut, nama Balitar disebutkan sedikitnya pada Pupuh 17, Pupuh 61, dan Pupuh 73.
Penyebutan yang berulang ini menunjukkan bahwa Balitar telah dikenal sebagai salah satu wilayah penting pada masa Kerajaan Majapahit.
Keberadaan nama Balitar dalam naskah kuno tersebut menjadi salah satu bukti sejarah penting dalam menelusuri identitas wilayah yang kini dikenal sebagai Kabupaten Blitar.
Baca Juga: Asal Usul Nama Blitar Terungkap, Peneliti UGM Sebut Bukan Berasal dari Prasasti Balitar I
Hal ini juga menunjukkan bahwa kajian sejarah mengenai asal-usul nama daerah harus bertumpu pada sumber-sumber primer yang dapat diverifikasi, sehingga menghasilkan pemahaman sejarah yang lebih akurat.
Melalui bukti prasasti dan naskah klasik tersebut, penelusuran asal-usul nama Blitar tidak hanya memperkaya pengetahuan sejarah lokal, tetapi juga memperkuat identitas budaya daerah yang telah berkembang selama berabad-abad. (*)
Editor : Ratna Anggi Puspita Sari