BLITAR – Candi Penataran menjadi salah satu destinasi wisata sejarah paling ikonik di Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Kompleks candi bercorak Hindu ini dikenal sebagai kompleks candi terluas di Jawa Timur dengan luas mencapai sekitar 13.000 meter persegi. Selain menyimpan nilai sejarah tinggi, Candi Penataran juga memiliki kaitan erat dengan Gunung Kelud yang menjadi latar pembangunan kawasan suci tersebut.
Dalam sejarahnya, Candi Penataran dibangun sebagai tempat pelaksanaan upacara keagamaan sekaligus pemujaan untuk menangkal bahaya letusan Gunung Kelud. Gunung berapi yang berada tidak jauh dari kawasan candi itu pernah beberapa kali meletus dan menimbulkan kerusakan besar di wilayah sekitarnya pada masa lampau.
Kompleks Candi Penataran berada di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Lokasinya sekitar 12 kilometer dari pusat Kota Blitar sehingga mudah dijangkau wisatawan. Hingga kini, kawasan cagar budaya tersebut masih menjadi tujuan utama wisata sejarah sekaligus edukasi.
Baca Juga: Hari Minggu untuk Potong Rambut dan Kuku: Benarkah Bisa Menghilangkan Keberkahan Menurut Tradisi?
Dibangun Sejak Era Kerajaan Kediri
Berdasarkan catatan sejarah, pembangunan Candi Penataran dimulai sekitar abad ke-12 pada masa Kerajaan Kediri, tepatnya ketika Raja Srengga berkuasa. Pembangunannya kemudian berlanjut hingga masa Kerajaan Majapahit sehingga menghasilkan kompleks candi yang sangat luas.
Karena dikerjakan lintas kerajaan dan lintas generasi, berbagai bangunan dengan fungsi berbeda dapat ditemukan dalam satu kawasan. Mulai dari gerbang, balai pertemuan, candi utama, petirtaan hingga sejumlah bangunan pendukung lainnya.
Di pintu masuk kompleks, pengunjung langsung disambut dua Arca Dwarapala berukuran besar. Dalam tradisi Hindu dan Buddha, arca tersebut dipercaya sebagai penjaga kawasan suci sekaligus pelindung dari berbagai gangguan.
Banyak Bangunan Bersejarah dalam Satu Kompleks
Memasuki kawasan candi, wisatawan dapat menemukan Balai Agung yang dahulu digunakan sebagai tempat musyawarah para pendeta. Bangunan ini juga dihiasi relief yang menceritakan kisah Ramayana.
Tidak jauh dari Balai Agung terdapat Candi Ganesha yang dibangun pada tahun 1291 Saka atau 1369 Masehi. Di dalam biliknya masih tersimpan Arca Ganesha yang menjadi ciri utama bangunan tersebut.
Kompleks ini juga memiliki Candi Naga yang unik karena bagian luarnya dihiasi pahatan naga yang melilit bangunan serta sembilan tokoh berpakaian bangsawan. Sementara bagian dalam candi dibuat tanpa atap sehingga langsung terbuka ke langit.
Bangunan paling mencolok adalah Candi Induk Penataran yang memiliki tiga teras bertingkat. Dinding tingkat pertama dipenuhi relief kisah Ramayana, sedangkan tingkat kedua menampilkan relief Krishnayana yang menjadi salah satu karya seni pahat terbaik pada masa Hindu Jawa Timur.
Memiliki Petirtaan yang Tak Pernah Kering
Di bagian belakang kompleks terdapat petirtaan yang hingga kini masih mengalir dengan air jernih. Air tersebut dipercaya berasal dari sumber alami dan tidak pernah mengering meski memasuki musim kemarau.
Sebagian masyarakat meyakini air petirtaan memiliki nilai spiritual. Ada yang menggunakannya untuk membasuh wajah sebagai simbol awet muda, sementara sebagian lainnya membawa pulang air tersebut sebagai bagian dari tradisi dan kepercayaan lokal.
Selain petirtaan utama, terdapat satu petirtaan lain yang berjarak sekitar 500 meter dari kawasan candi sehingga masih dapat dikunjungi wisatawan.
Baca Juga: Hari Rabu untuk Potong Rambut dan Kuku: Benarkah Bisa Memengaruhi Sifat Menurut Tradisi?
Destinasi Wisata Edukasi yang Terawat
Saat ini Candi Penataran dikelola sebagai situs cagar budaya yang terawat dengan baik. Pengunjung diwajibkan menjaga kebersihan serta dilarang merusak, mencoret, memindahkan maupun mengambil bagian dari bangunan candi.
Larangan tersebut bukan tanpa alasan. Sebagai situs cagar budaya nasional, tindakan perusakan dapat dikenai sanksi pidana sesuai peraturan yang berlaku.
Menariknya, wisatawan tidak dikenakan biaya tiket masuk untuk menikmati kawasan Candi Penataran. Kompleks ini dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB.
Dengan perpaduan sejarah Kerajaan Kediri dan Majapahit, relief yang masih terjaga, serta panorama alam di kaki Gunung Kelud, Candi Penataran menjadi destinasi wisata sejarah yang menawarkan pengalaman edukasi sekaligus rekreasi bagi masyarakat maupun wisatawan dari berbagai daerah.
Editor : M. Helmi NurhisamSumber : Arafat Kiki