Candi Penataran Jadi Saksi Sejarah Blitar, Dibangun sebagai Benteng Spiritual Hadapi Letusan Gunung Kelud

M. Helmi Nurhisam • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 17:45 WIB
Candi Penataran di Blitar menyimpan sejarah panjang sejak Kerajaan Kediri hingga Majapahit. Dibangun sebagai tempat ritual menghadapi ancaman letusan Gunung Kelud. (Pinterest)
Candi Penataran di Blitar menyimpan sejarah panjang sejak Kerajaan Kediri hingga Majapahit. Dibangun sebagai tempat ritual menghadapi ancaman letusan Gunung Kelud. (Pinterest)

BLITARCandi Penataran bukan sekadar bangunan kuno peninggalan masa lampau. Situs bersejarah yang berada di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, ini menyimpan kisah panjang perjalanan Kerajaan Kediri hingga Majapahit. Tak hanya itu, pembangunan kompleks candi ini juga diyakini berkaitan erat dengan upaya masyarakat zaman dahulu untuk meredam ancaman letusan Gunung Kelud.

Sebagai kompleks candi Hindu terbesar di Jawa Timur dengan luas sekitar 13.000 meter persegi, Candi Penataran menjadi salah satu destinasi wisata sejarah paling populer di Blitar. Keberadaannya masih terawat hingga kini dan menjadi saksi perkembangan peradaban Nusantara selama berabad-abad.

Kompleks candi ini dibangun secara bertahap sejak abad ke-12 pada masa Kerajaan Kediri dan terus dikembangkan hingga era Kerajaan Majapahit. Berbagai raja dari dua kerajaan besar tersebut disebut ikut berperan dalam penyempurnaan kawasan candi sehingga memiliki banyak bangunan dengan fungsi berbeda.

Baca Juga: Hari Minggu untuk Potong Rambut dan Kuku: Benarkah Bisa Menghilangkan Keberkahan Menurut Tradisi?

Berawal dari Ancaman Letusan Gunung Kelud

Menurut sejarah, salah satu tujuan utama pembangunan Candi Penataran adalah sebagai tempat penyelenggaraan upacara keagamaan untuk memohon keselamatan dari ancaman letusan Gunung Kelud.

Gunung Kelud dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di Jawa Timur. Pada masa lalu, letusannya beberapa kali menyebabkan kerusakan di berbagai wilayah sekitar, termasuk kawasan yang kini menjadi Kabupaten Blitar dan Kediri.

Karena itulah, kerajaan membangun tempat suci yang digunakan sebagai pusat ritual keagamaan agar bencana alam tersebut dapat diredam melalui doa dan persembahan kepada para dewa sesuai kepercayaan Hindu pada masa itu.

Kompleks Candi dengan Banyak Bangunan Bersejarah

Memasuki kawasan Candi Penataran, wisatawan akan disambut dua Arca Dwarapala berukuran besar yang berdiri kokoh di pintu masuk. Dalam tradisi Hindu dan Buddha, arca tersebut berfungsi sebagai penjaga kawasan suci.

Di bagian dalam terdapat Balai Agung yang dipercaya menjadi tempat berkumpul dan bermusyawarah para pendeta. Bangunan ini juga dihiasi relief yang mengisahkan epos Ramayana.

Tak jauh dari sana berdiri Candi Ganesha yang menyimpan arca Dewa Ganesha di dalam biliknya. Selain itu terdapat Candi Naga yang memiliki ciri khas berupa pahatan naga yang mengelilingi bangunan serta deretan tokoh berpakaian bangsawan.

Sementara bangunan terbesar di kawasan ini adalah Candi Induk Penataran yang memiliki tiga teras bertingkat. Relief pada tingkat pertama menggambarkan kisah Ramayana, sedangkan tingkat kedua menampilkan cerita Krishnayana yang dipahat dengan detail tinggi.

Petirtaan yang Masih Mengalir Hingga Kini

Salah satu bagian menarik dari kompleks Candi Penataran adalah petirtaan kuno yang berada di bagian belakang kawasan.

Air di petirtaan tersebut berasal dari mata air alami yang dipercaya tidak pernah mengering meski memasuki musim kemarau. Kondisinya juga sangat jernih dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Sebagian masyarakat masih meyakini air petirtaan memiliki nilai spiritual. Ada yang menggunakannya untuk membasuh wajah, sementara sebagian lainnya membawa pulang air tersebut sebagai bagian dari tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

Baca Juga: Hari Rabu untuk Potong Rambut dan Kuku: Benarkah Bisa Memengaruhi Sifat Menurut Tradisi?

Menjadi Destinasi Wisata Edukasi

Selain menawarkan nilai sejarah, Candi Penataran juga menjadi lokasi wisata edukasi yang ramai dikunjungi pelajar maupun wisatawan umum.

Pengunjung dapat mempelajari sejarah Kerajaan Kediri dan Majapahit melalui berbagai relief, arca, hingga struktur bangunan yang masih berdiri kokoh.

Seluruh kawasan juga dijaga sebagai situs cagar budaya. Pengunjung dilarang mencoret, merusak, memindahkan maupun mengambil bagian bangunan candi karena tindakan tersebut dapat dikenai sanksi sesuai ketentuan hukum.

Lokasi Candi Penataran hanya sekitar 12 kilometer dari pusat Kota Blitar sehingga mudah dijangkau menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi umum. Menariknya lagi, wisatawan dapat menikmati seluruh kawasan tanpa dikenai biaya tiket masuk.

Dengan kekayaan sejarah, arsitektur yang megah, serta panorama alam di kaki Gunung Kelud, Candi Penataran tetap menjadi salah satu destinasi wisata sejarah unggulan di Blitar yang layak dikunjungi untuk mengenal lebih dekat jejak kejayaan kerajaan-kerajaan besar di Nusantara.

Editor : M. Helmi Nurhisam
Sumber : Arafat Kiki
candi penataran blitar wisata sejarah gunung kelud kerajaan majapahit