Candi Penataran Blitar, Kompleks Candi Terbesar di Jawa Timur yang Dibangun untuk Hadapi Ancaman Gunung Kelud

M. Helmi Nurhisam • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 17:50 WIB
Candi Penataran di Blitar menjadi kompleks candi terbesar di Jawa Timur. Dibangun sejak era Kediri hingga Majapahit sebagai pusat ritual menghadapi ancaman Gunung Kelud. (Pinterest)
Candi Penataran di Blitar menjadi kompleks candi terbesar di Jawa Timur. Dibangun sejak era Kediri hingga Majapahit sebagai pusat ritual menghadapi ancaman Gunung Kelud. (Pinterest)

BLITARCandi Penataran menjadi bukti kejayaan peradaban Hindu di Jawa Timur yang masih berdiri kokoh hingga sekarang. Berlokasi di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, kompleks candi ini tidak hanya dikenal sebagai situs bersejarah terbesar di Jawa Timur, tetapi juga menyimpan kisah menarik tentang hubungan erat antara kerajaan-kerajaan kuno dengan aktivitas Gunung Kelud.

Kompleks Candi Penataran memiliki luas sekitar 13.000 meter persegi dan terdiri atas sejumlah bangunan yang dibangun secara bertahap selama ratusan tahun. Sejarah mencatat, pembangunan kawasan suci ini dimulai pada masa Kerajaan Kediri, kemudian dilanjutkan hingga mencapai puncak kemegahannya pada era Kerajaan Majapahit.

Selain menjadi pusat kegiatan keagamaan umat Hindu, candi ini diyakini dibangun sebagai tempat pelaksanaan ritual untuk memohon perlindungan dari letusan Gunung Kelud yang sejak dahulu dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di Pulau Jawa.

Baca Juga: Hari Minggu untuk Potong Rambut dan Kuku: Benarkah Bisa Menghilangkan Keberkahan Menurut Tradisi?

Dibangun Bertahap Selama Beberapa Generasi Raja

Pembangunan Candi Penataran tidak dilakukan dalam waktu singkat. Sejumlah raja dari Kerajaan Kediri hingga Majapahit tercatat ikut menyempurnakan kawasan tersebut.

Karena proses pembangunannya berlangsung lintas generasi, kompleks candi memiliki berbagai bangunan dengan fungsi berbeda. Hal itu pula yang menjadikan Candi Penataran sebagai kompleks candi terluas di Jawa Timur.

Saat memasuki kawasan, pengunjung akan menemukan dua Arca Dwarapala berukuran besar yang berdiri di gerbang utama. Arca tersebut dipercaya sebagai simbol penjaga kawasan suci sekaligus pelindung dari berbagai gangguan.

Menyimpan Relief Ramayana hingga Krishnayana

Di dalam kompleks terdapat Balai Agung yang dahulu digunakan sebagai tempat pertemuan para pendeta. Bangunan tersebut masih mempertahankan bentuk aslinya dan menjadi salah satu bagian penting dalam kawasan candi.

Tidak jauh dari Balai Agung berdiri Candi Ganesha yang di dalamnya terdapat Arca Ganesha. Sementara di sisi lain terdapat Candi Naga yang memiliki ornamen naga melilit di bagian luar bangunan serta dihiasi sembilan tokoh berbusana bangsawan.

Bangunan paling megah adalah Candi Induk Penataran yang memiliki tiga tingkat. Pada bagian bawah terpahat relief kisah Ramayana, sedangkan tingkat berikutnya menampilkan cerita Krishnayana yang dipahat dengan detail tinggi.

Relief-relief tersebut menjadi sumber informasi penting mengenai seni, budaya, dan kehidupan masyarakat pada masa kerajaan Hindu di Nusantara.

Petirtaan Menjadi Daya Tarik Wisatawan

Selain bangunan candi, kawasan Penataran juga memiliki petirtaan kuno yang hingga kini masih dialiri air jernih dari sumber alami.

Air di petirtaan dipercaya tidak pernah mengering meskipun musim kemarau melanda. Kondisi tersebut membuat lokasi ini menjadi salah satu titik favorit wisatawan saat mengunjungi kompleks candi.

Sebagian masyarakat masih mempercayai air petirtaan memiliki nilai spiritual. Ada yang membasuh wajah menggunakan air tersebut, sementara lainnya membawa pulang air sebagai bagian dari tradisi yang berkembang di masyarakat.

Baca Juga: Hari Rabu untuk Potong Rambut dan Kuku: Benarkah Bisa Memengaruhi Sifat Menurut Tradisi?

Wisata Sejarah Gratis di Blitar

Candi Penataran kini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah unggulan di Kabupaten Blitar. Selain menawarkan panorama kawasan yang asri, pengunjung juga dapat mempelajari perjalanan panjang Kerajaan Kediri dan Majapahit melalui bangunan serta relief yang masih terawat.

Pengelola menerapkan aturan ketat untuk menjaga kelestarian situs cagar budaya ini. Pengunjung dilarang mencoret, memindahkan, maupun merusak bagian bangunan karena seluruh kawasan merupakan peninggalan sejarah yang dilindungi undang-undang.

Lokasi candi berjarak sekitar 12 kilometer dari pusat Kota Blitar dan dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi maupun umum. Menariknya, wisatawan tidak dipungut biaya tiket masuk sehingga dapat menikmati keindahan kompleks candi secara gratis.

Dengan perpaduan nilai sejarah, arsitektur kuno, serta kisah tentang upaya masyarakat masa lampau menghadapi ancaman Gunung Kelud, Candi Penataran tetap menjadi destinasi yang layak dikunjungi. Situs ini bukan hanya menjadi kebanggaan masyarakat Blitar, tetapi juga warisan budaya Indonesia yang terus dijaga kelestariannya hingga kini.

Editor : M. Helmi Nurhisam
Sumber : Arafat Kiki
Wisata Cagar Budaya candi penataran blitar gunung kelud sejarah Majapahit