BLITAR – Candi Penataran bukan sekadar destinasi wisata sejarah di Kabupaten Blitar. Kompleks candi Hindu terbesar di Jawa Timur ini menyimpan kisah panjang tentang perjalanan tiga kerajaan besar Nusantara sekaligus dipercaya menjadi pusat ritual spiritual untuk menghadapi ancaman letusan Gunung Kelud.
Berlokasi di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Candi Penataran berdiri di lereng barat Gunung Kelud pada ketinggian sekitar 450 meter di atas permukaan laut. Kompleks seluas hampir 13 ribu meter persegi itu menjadi salah satu peninggalan sejarah paling lengkap dari masa Kerajaan Kediri hingga Majapahit.
Hingga kini, kawasan cagar budaya tersebut masih ramai dikunjungi wisatawan yang ingin menikmati keindahan arsitektur kuno sekaligus mempelajari sejarah panjang peradaban Hindu di Jawa Timur.
Baca Juga: Hari Minggu untuk Potong Rambut dan Kuku: Benarkah Bisa Menghilangkan Keberkahan Menurut Tradisi?
Menjadi Pusat Keagamaan Sejak Abad ke-12
Pembangunan Candi Penataran diperkirakan dimulai pada masa Kerajaan Kediri sekitar abad ke-12. Proses pembangunannya kemudian berlanjut pada era Kerajaan Singasari dan terus disempurnakan ketika Majapahit mencapai masa kejayaannya.
Keberadaan candi ini bahkan tercatat dalam Kitab Negarakertagama yang ditulis pada tahun 1365 Masehi. Dalam naskah tersebut disebutkan bahwa Raja Hayam Wuruk beberapa kali melakukan kunjungan ke Candi Penataran untuk menjalankan upacara keagamaan.
Hal itu menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki kedudukan penting sebagai candi negara sekaligus pusat spiritual Kerajaan Majapahit.
Dipercaya Meredam Murka Gunung Kelud
Salah satu keunikan Candi Penataran adalah lokasinya yang berada tidak jauh dari Gunung Kelud, salah satu gunung api paling aktif di Indonesia.
Pada masa kerajaan, masyarakat mempercayai bahwa berbagai ritual keagamaan yang dilakukan di kompleks candi bertujuan memohon keselamatan sekaligus meredam ancaman letusan Gunung Kelud.
Karena itulah, selain menjadi tempat pemujaan kepada Dewa Siwa, kawasan ini juga dikenal sebagai pusat ritual penolak bencana alam yang dilakukan oleh para raja dan pendeta.
Kepercayaan tersebut berkembang turun-temurun dan masih menjadi bagian dari cerita sejarah yang dikenal masyarakat hingga sekarang.
Memiliki Kompleks Terluas di Jawa Timur
Candi Penataran memiliki luas sekitar 12.946 meter persegi dengan tiga halaman utama yang masing-masing menyimpan bangunan bersejarah.
Di halaman depan terdapat pelataran luas, umpak batu, serta berbagai relief yang masih terawat. Pengunjung juga akan menemukan kepala naga yang menghiasi tangga menuju pelataran sebagai bagian dari ornamen khas candi.
Memasuki halaman berikutnya, terdapat sejumlah bangunan candi, arca, serta relief yang menggambarkan kisah-kisah dalam ajaran Hindu.
Sementara candi induk menjadi bangunan paling megah di kawasan tersebut. Dindingnya dipenuhi relief dengan detail tinggi yang masih dapat dinikmati hingga saat ini.
Berbeda dengan banyak candi peninggalan Majapahit yang didominasi batu bata merah, sebagian besar bangunan Candi Penataran menggunakan batu andesit yang berasal dari material vulkanik di sekitar Gunung Kelud.
Baca Juga: Hari Rabu untuk Potong Rambut dan Kuku: Benarkah Bisa Memengaruhi Sifat Menurut Tradisi?
Petirtaan Masih Menjadi Daya Tarik
Di bagian belakang kompleks terdapat petirtaan kuno yang airnya berasal dari mata air alami.
Pada masa lalu, petirtaan digunakan sebagai tempat penyucian diri sebelum memasuki area utama candi. Air tersebut dipercaya memiliki makna spiritual dan digunakan sebagai bagian dari rangkaian upacara keagamaan.
Hingga kini masih ada pengunjung yang datang untuk membasuh wajah atau mengambil air petirtaan sebagai bagian dari tradisi yang berkembang di masyarakat.
Selain itu, kolam petirtaan juga menjadi salah satu lokasi favorit wisatawan karena airnya yang jernih serta dipenuhi ikan berukuran besar.
Warisan Budaya yang Terus Dijaga
Sebagai situs cagar budaya nasional, Candi Penataran mendapatkan perlindungan khusus dari pemerintah. Pengunjung diwajibkan menjaga kebersihan kawasan dan dilarang merusak maupun mencoret bangunan candi.
Kini Candi Penataran menjadi salah satu ikon wisata sejarah Kabupaten Blitar yang menawarkan perpaduan antara nilai sejarah, budaya, arsitektur, dan panorama alam lereng Gunung Kelud.
Dengan perjalanan sejarah yang membentang sejak Kerajaan Kediri, Singasari, hingga Majapahit, Candi Penataran tetap menjadi bukti kejayaan peradaban Nusantara yang layak dilestarikan sekaligus dikenalkan kepada generasi mendatang.
Editor : M. Helmi NurhisamSumber : Ugit Prastyo