JAKARTA – Kerajaan Kediri merupakan salah satu kerajaan bercorak Hindu yang pernah berjaya di Pulau Jawa. Berdiri pada 1045 Masehi oleh Sri Samarawijaya, kerajaan ini mencapai masa keemasannya saat dipimpin Raja Jayabaya dan meninggalkan berbagai candi, prasasti, serta kitab sastra yang hingga kini menjadi bagian penting sejarah Nusantara.
Peninggalan Kerajaan Kediri tidak hanya berupa bangunan bersejarah, tetapi juga karya sastra dan prasasti yang menggambarkan perkembangan pemerintahan, budaya, hingga kehidupan masyarakat pada masa itu.
Kerajaan Kediri berdiri setelah pembagian wilayah kerajaan oleh Raja Airlangga. Dalam perkembangannya, kerajaan ini tumbuh menjadi salah satu pusat kebudayaan Hindu di Jawa.
Baca Juga: Pidato Soekarno di PBB: Gagasan Pancasila yang Memukau Dunia dan Diusulkan Jadi Dasar Piagam PBB
Salah satu peninggalan yang paling terkenal adalah Candi Penataran. Kompleks candi seluas sekitar 1,5 hektare tersebut memiliki tiga halaman dan di bagian selatan candi induk terdapat prasasti yang dikaitkan dengan masa Kerajaan Kediri.
Peninggalan berikutnya ialah Candi Mirigambar yang dibangun pada 1214 Saka. Candi ini memiliki relief bergambar sosok laki-laki dan perempuan serta berada di kawasan Sumbergempol, Tulungagung.
Selain bangunan candi, Kerajaan Kediri juga dikenal melalui berbagai karya sastra yang ditulis oleh para pujangga kerajaan.
Baca Juga: Pidato Soekarno di PBB: Gagasan Pancasila yang Memukau Dunia dan Diusulkan Jadi Dasar Piagam PBB
Kitab Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa menceritakan perkawinan Raja Airlangga dengan putri Kerajaan Sriwijaya. Kitab tersebut ditulis pada masa pemerintahan Prabu Airlangga.
Kemudian terdapat Kitab Kresnayana karya Mpu Triguna pada masa Raja Jayaswara. Isinya mengisahkan perkawinan antara Kresna dan Dewi Rukmini.
Perkembangan sastra menjadi salah satu ciri penting kemajuan Kerajaan Kediri. Berbagai karya yang lahir pada masa itu masih dikenal hingga sekarang.
Salah satunya adalah Kitab Lubdaka karya Mpu Tanakung yang disusun pada masa Raja Kameswara. Kitab tersebut menceritakan seorang pemburu bernama Lubdaka yang melakukan pemujaan kepada Dewa Siwa.
Pada masa pemerintahan Raja Jayabaya lahir Kitab Bharatayuda, yang menggambarkan peperangan antara Panjalu dan Jenggala.
Sementara itu, Kitab Smaradahana mengisahkan pasangan Smara dan Rati yang menggoda Dewa Siwa ketika sedang bertapa. Karya sastra tersebut menjadi bagian penting perkembangan kesusastraan Jawa Kuno.
Keberadaan kitab-kitab tersebut menunjukkan bahwa Kerajaan Kediri tidak hanya berkembang dalam bidang pemerintahan, tetapi juga melahirkan tradisi intelektual yang kuat melalui karya para pujangga.
Selain candi dan kitab sastra, sejumlah prasasti menjadi sumber penting dalam mengetahui sejarah Kerajaan Kediri.
Prasasti Jaring ditemukan oleh Thomas Stamford Raffles di kawasan Hutan Lodaya, Jawa Timur. Prasasti ini berisi tentang dikabulkannya permohonan masyarakat Desa Jaring oleh Senopati Sarawat.
Kemudian terdapat Prasasti Ngantang yang menjelaskan pemberian status bebas pajak atas tanah di Desa Ngantang oleh Raja Jayabaya.
Selanjutnya, Prasasti Sirah Keting yang dibuat pada 1104 Masehi mengisahkan Raja Jayaswara yang menghadiahkan tanah kepada rakyatnya.
Peninggalan lainnya adalah Prasasti Kamulan. Dalam transkrip disebutkan prasasti ini memuat kisah berdirinya Kabupaten Trenggalek serta peristiwa ketika Kerajaan Kediri mendapat serangan dari kerajaan di sebelah timur.
Beragam peninggalan berupa candi, kitab sastra, dan prasasti tersebut menjadi bukti bahwa Kerajaan Kediri pernah berkembang sebagai salah satu pusat pemerintahan dan kebudayaan penting di Jawa. Hingga kini, berbagai peninggalan itu masih menjadi sumber pembelajaran sejarah mengenai perjalanan salah satu kerajaan besar di Nusantara.
Editor : Cecilia Dzakira Pasha