JAKARTA – Kerajaan Kediri merupakan salah satu kerajaan Hindu terbesar di Nusantara yang lahir dari pembagian Kerajaan Airlangga. Berdiri sejak pertengahan abad ke-11, kerajaan ini berkembang menjadi kekuatan besar di Pulau Jawa hingga mencapai masa keemasan pada pemerintahan Raja Jayabaya sebelum akhirnya runtuh pada 1222 Masehi.
Dalam berbagai prasasti dan kitab kuno yang disebutkan dalam transkrip, Kerajaan Kediri memiliki sembilan raja yang silih berganti memimpin. Masing-masing meninggalkan catatan sejarah, mulai dari prasasti, karya sastra, hingga kebijakan pemerintahan yang menjadi bukti kejayaan kerajaan tersebut.
Menurut isi transkrip, raja-raja Kerajaan Kediri merupakan keturunan Raja Airlangga. Untuk menghindari konflik perebutan takhta antara kedua putranya, Airlangga membagi kerajaannya pada sekitar 1041 Masehi menjadi dua wilayah, yaitu Panjalu dan Jenggala.
Baca Juga: Sejarah Kerajaan Kediri: Berdiri dari Pembagian Kerajaan Airlangga hingga Runtuh oleh Ken Arok
Sri Samarawijaya memperoleh wilayah Panjalu dengan pusat pemerintahan di Daha, sedangkan Mapanji Garasakan memimpin Jenggala yang berpusat di Kahuripan. Pembagian tersebut juga dikisahkan dalam Kitab Negarakertagama, Serat Calon Arang, serta beberapa prasasti.
Meski telah dipisahkan, peperangan antara kedua kerajaan terus berlangsung selama puluhan tahun. Pada akhirnya Panjalu berhasil menguasai Jenggala sehingga kerajaan itu lebih dikenal sebagai Kerajaan Kediri.
Kerajaan Kediri kemudian berkembang menjadi salah satu pusat politik, ekonomi, dan kebudayaan yang berpengaruh di Jawa.
Setelah diperintah Sri Samarawijaya, Kerajaan Kediri dipimpin secara berurutan oleh Sri Jayawarsa, Bameswara, hingga Raja Jayabaya.
Dalam transkrip disebutkan bahwa Jayabaya memerintah sekitar 1135–1157 Masehi dan berhasil membawa Kediri mencapai puncak kejayaannya. Pada masa inilah Panjalu mampu menyatukan kembali wilayah Jenggala.
Pemerintahan Jayabaya juga dikenal makmur karena sektor pertanian dan perdagangan berkembang pesat. Wilayah pengaruh Kerajaan Kediri disebut meluas hingga hampir seluruh Pulau Jawa dan sebagian Sumatra.
Selain keberhasilan politik, era Jayabaya menjadi masa berkembangnya sastra Jawa Kuno. Kakawin Bharatayudha karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh lahir pada periode ini dan menjadi salah satu karya sastra penting Nusantara.
Nama Jayabaya juga dikenal luas melalui ramalan atau Jangka Jayabaya yang masih menjadi bagian dari tradisi lisan masyarakat Jawa hingga sekarang.
Setelah Jayabaya, tampuk pemerintahan diteruskan oleh Sri Sarweswara, Sri Aryeswara, Sri Gandra, Sri Kameswara, dan Kertajaya.
Pada masa Sri Kameswara, kehidupan sastra kembali berkembang. Kakawin Smaradahana menjadi salah satu karya sastra terkenal yang lahir pada masa pemerintahannya.
Kerajaan Kediri mencapai masa akhirnya ketika dipimpin Raja Kertajaya. Menurut isi transkrip, kestabilan kerajaan mulai menurun setelah muncul perselisihan dengan kaum Brahmana.
Kaum Brahmana kemudian meminta perlindungan kepada Ken Arok dari Tumapel. Konflik tersebut berujung pada pertempuran tahun 1222 Masehi yang dimenangkan pasukan Tumapel.
Kekalahan itu menandai berakhirnya Kerajaan Kediri dan menjadi awal berdirinya Kerajaan Tumapel atau Singhasari. Meski demikian, berbagai prasasti, candi, dan karya sastra peninggalan Kediri masih menjadi sumber penting untuk mempelajari sejarah kerajaan Hindu di Indonesia.
Editor : Cecilia Dzakira Pasha