BLITAR - Legenda Rambut Monte menjadi salah satu cerita rakyat yang masih hidup di tengah masyarakat Blitar, Jawa Timur. Kisah yang berpusat di Telaga Rambut Monte ini tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena cerita tentang ikan dewa yang dipercaya sebagai penjaga kesucian telaga. Hingga kini, legenda tersebut masih sering diceritakan secara turun-temurun dan menjadi daya tarik bagi wisatawan yang datang ke kawasan lereng Gunung Kawi.
Legenda Rambut Monte mengisahkan sebuah telaga dengan air sebening kristal yang menjadi sumber kehidupan masyarakat sekitar. Airnya yang berwarna biru kehijauan dipercaya membawa ketenangan, sementara ikan-ikan langka yang hidup di dalamnya disebut sebagai ikan dewa atau ikan sengkaring. Masyarakat meyakini ikan tersebut bukan sekadar satwa biasa, melainkan simbol keseimbangan alam yang harus dijaga keberadaannya.
Kepercayaan itu membuat warga setempat memiliki berbagai pantangan. Tidak ada yang berani menangkap, melukai, atau mengganggu ikan-ikan tersebut. Bahkan, setiap orang yang mengambil air dari telaga diyakini harus menjaga sikap dan menghormati tempat itu sebagai kawasan yang suci.
Mbah Monte Menjadi Penjaga Telaga
Dalam cerita rakyat yang berkembang, kesucian Telaga Rambut Monte dijaga oleh seorang pertapa bijaksana bernama Mbah Monte. Ia digambarkan sebagai sosok yang menghabiskan hidupnya untuk bertapa dan menjaga keseimbangan alam di sekitar Gunung Kawi.
Mbah Monte dikenal sebagai tokoh yang sering memberikan petuah kepada masyarakat. Ia mengajarkan pentingnya hidup selaras dengan alam, tidak serakah, serta menghormati setiap makhluk hidup. Di tangan Mbah Monte terdapat sebuah tongkat kayu sederhana yang dipercaya memiliki kekuatan gaib untuk melindungi telaga beserta seluruh isinya.
Bagi masyarakat sekitar, Mbah Monte bukan sekadar pertapa, tetapi juga penjaga spiritual yang dipercaya mendapat amanah menjaga Telaga Rambut Monte agar tetap lestari.
Keserakahan Jatasura Membawa Petaka
Kedamaian di kawasan telaga mulai terusik ketika seorang saudagar kaya bernama Jatasura datang ke wilayah tersebut. Berbeda dengan penduduk yang menghormati telaga, Jatasura justru tertarik pada ikan dewa yang dianggap memiliki nilai tinggi.
Dalam legenda tersebut, Jatasura berencana menangkap seluruh ikan dengan cara menguras air telaga. Ia memerintahkan para pekerjanya menggali saluran besar agar seluruh air mengalir keluar. Niat itu mendapat penolakan dari masyarakat, namun Jatasura tetap bersikeras karena menganggap cerita tentang kesucian telaga hanyalah mitos.
Mbah Monte kemudian turun dari pertapaannya untuk memperingatkan Jatasura agar menghentikan perbuatannya. Namun peringatan itu diabaikan. Bahkan, Jatasura memerintahkan anak buahnya menangkap sang pertapa.
Tongkat Sakti Berubah Menjadi Naga
Saat situasi memanas, Mbah Monte menancapkan tongkatnya ke tanah dan memberi peringatan agar tidak ada seorang pun melangkahi batas tersebut. Para pekerja memilih mundur karena merasakan kekuatan yang tidak biasa, tetapi Jatasura tetap maju dengan penuh kesombongan.
Ketika tongkat itu dicabut dari tanah, tiba-tiba muncul semburan air yang sangat deras. Air tersebut berubah menjadi banjir besar yang menelan Jatasura beserta seluruh pengikutnya.
Dalam kisah itu diceritakan, tongkat Mbah Monte kemudian berubah menjadi seekor naga raksasa yang masuk ke dasar telaga dan menjadi penjaga abadi Telaga Rambut Monte. Sejak saat itu, telaga kembali tenang dan dipercaya selalu berada dalam perlindungan sang naga.
Menjadi Warisan Budaya dan Daya Tarik Wisata
Hingga sekarang, Telaga Rambut Monte tetap dikenal sebagai salah satu destinasi wisata alam sekaligus wisata budaya di Kabupaten Blitar. Pengunjung datang untuk menikmati kejernihan air, melihat ikan dewa yang berenang bebas, sekaligus mengenal cerita rakyat yang berkembang di kawasan tersebut.
Legenda ini mengandung pesan moral tentang pentingnya menjaga kelestarian alam dan menghindari sifat tamak. Keserakahan digambarkan membawa kehancuran, sedangkan sikap menghormati alam dipercaya akan menghadirkan keseimbangan dan keberkahan.
Meski merupakan cerita rakyat yang diwariskan secara lisan dan tidak dapat dipastikan sebagai peristiwa sejarah, legenda Mbah Monte tetap menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Blitar. Hingga kini, kisah tersebut terus dikenalkan kepada generasi muda sebagai pengingat bahwa alam harus dijaga, bukan dieksploitasi demi kepentingan pribadi.
Editor : M. Helmi Nurhisam