Sejarah Kerajaan Kediri: Berdiri dari Pembagian Kerajaan Airlangga, Berjaya di Era Jayabaya hingga Runtuh oleh Ken Arok

Cecilia Dzakira Pasha • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 18:07 WIB
Kerajaan Kediri menjadi salah satu kerajaan terbesar di Nusantara yang mencapai puncak kejayaan pada masa Prabu Jayabaya. Berawal dari pembagian Kerajaan Airlangga, Kediri berkembang sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, dan kebudayaan sebelum akhirnya runtuh pada 1222 Masehi.
Kerajaan Kediri menjadi salah satu kerajaan terbesar di Nusantara yang mencapai puncak kejayaan pada masa Prabu Jayabaya. Berawal dari pembagian Kerajaan Airlangga, Kediri berkembang sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, dan kebudayaan sebelum akhirnya runtuh pada 1222 Masehi.

JAKARTA – Kerajaan Kediri atau Panjalu merupakan salah satu kerajaan Hindu-Buddha terbesar di Jawa Timur yang berdiri setelah pembagian wilayah Kerajaan Airlangga. Kerajaan yang berpusat di Daha ini berkembang menjadi kekuatan besar di Nusantara, mencapai puncak kejayaan pada masa Raja Jayabaya, sebelum akhirnya runtuh setelah dikalahkan Ken Arok pada 1222 Masehi.

Dalam transkrip disebutkan bahwa Kerajaan Kediri dipimpin oleh Wangsa Isyana dan berdiri sekitar abad ke-11 hingga awal abad ke-13. Selama masa pemerintahannya, kerajaan ini dikenal memiliki kekuatan politik, ekonomi, dan perdagangan yang berpengaruh di kawasan Nusantara.

Menurut isi transkrip, Airlangga membagi kerajaannya pada akhir tahun 1042 Masehi karena kedua putranya saling memperebutkan takhta.

Baca Juga: Candi Penataran Blitar, Warisan Kediri hingga Majapahit yang Menyimpan Misteri Ritual Gunung Kelud

Sri Samarawijaya memperoleh wilayah Panjalu yang berpusat di Daha, sedangkan Mapanji Garasakan memimpin Jenggala dengan pusat pemerintahan di Kahuripan. Setelah turun takhta, Airlangga memilih menjalani kehidupan sebagai pertapa hingga wafat sekitar tahun 1049 Masehi.

Nama Panjalu pada masa awal lebih sering digunakan dibandingkan Kediri. Dalam berbagai prasasti, kerajaan tersebut dikenal sebagai Panjalu, sementara nama Kediri kemudian menjadi sebutan yang lebih populer.

Transkrip juga menjelaskan bahwa nama Kediri diduga berasal dari bahasa Jawa Kuno yang bermakna mandiri, mampu berdiri sendiri, atau berkepribadian kuat. Pendapat lain mengaitkannya dengan kata Sanskerta Kadri yang merujuk pada tanaman pace atau mengkudu.

Baca Juga: Candi Penataran Blitar, Kompleks Candi Terbesar di Jawa Timur yang Dibangun untuk Hadapi Ancaman Gunung Kelud

Masa kejayaan Kerajaan Kediri terjadi ketika dipimpin Raja Jayabaya. Dalam Prasasti Ngantang tahun 1135 Masehi tercantum semboyan "Panjalu Jayati" yang berarti Panjalu menang setelah berhasil menaklukkan Jenggala.

Pada masa itu wilayah kekuasaan Kediri disebut meliputi hampir seluruh Pulau Jawa serta beberapa wilayah Nusantara. Pengaruhnya bahkan mampu menyaingi dominasi Sriwijaya di Sumatra.

Transkrip juga menyebut kronik Tiongkok tahun 1178 yang menempatkan Jawa sebagai salah satu wilayah terkaya setelah Arab dan Tiongkok. Saat itu, Panjalu menjadi kerajaan yang berkuasa di Jawa.

Selain kuat secara politik, Kediri berkembang sebagai kerajaan agraris dengan sistem irigasi yang diwarisi sejak masa Airlangga. Aktivitas pertanian, peternakan, perdagangan rempah-rempah, hingga penggunaan koin perak menjadi penopang utama perekonomian kerajaan.

Hubungan dagang dengan Tiongkok dan hubungan budaya dengan India turut memperkuat perkembangan Kerajaan Kediri, terutama dalam bidang sastra yang banyak dipengaruhi kisah Mahabharata dan Ramayana.

Menurut isi transkrip, masa akhir Kerajaan Kediri terjadi pada pemerintahan Raja Kertajaya.

Baca Juga: Soekarno Jelaskan Pancasila di Dunia Internasional, Tegaskan Lima Prinsip Dasar Bangsa Indonesia

Perselisihan antara Kertajaya dan kaum Brahmana membuat para Brahmana meminta perlindungan kepada Ken Arok, pemimpin Tumapel. Konflik tersebut berkembang menjadi peperangan yang berlangsung di dekat Desa Ganter pada 1222 Masehi.

Pasukan Ken Arok berhasil mengalahkan Kertajaya sehingga berakhirlah Kerajaan Kediri sebagai kerajaan merdeka. Wilayah Kediri kemudian berada di bawah kekuasaan Tumapel atau Singasari.

Transkrip juga menyebut bahwa pada 1292 Masehi Jayakatwang sempat membangun kembali Kerajaan Kediri setelah memberontak terhadap Singasari. Namun kerajaan itu hanya bertahan sekitar satu tahun sebelum akhirnya dikalahkan oleh pasukan gabungan Raden Wijaya dan tentara Mongol.

Meski telah lama runtuh, Kerajaan Kediri meninggalkan banyak jejak sejarah berupa prasasti, situs, serta peninggalan budaya yang hingga kini menjadi bukti besarnya peran kerajaan tersebut dalam perjalanan sejarah Nusantara.

Editor : Cecilia Dzakira Pasha
Raja Jayabaya Sejarah Kerajaan Kediri kerajaan kediri Ken Arok airlangga