BLITAR KAWENTAR – Peringatan Hari Jadi ke-702 Blitar tidak sekadar menjadi ajang nostalgia sejarah. Di balik kemeriahan prosesi sakral di Pendopo Ronggo Hadinegoro (RHN) pada Rabu (5/8), berembus wacana besar terkait transformasi tata cara ritual adat Hari Jadi Blitar tahun depan.
Prosesi Pisowanan Agung yang selama ini identik digelar di area pendopo utama, diproyeksikan bakal berganti nama dan kemasan budaya seiring kepindahan pusat dinamika pemerintahan ke Ibu Kota Kabupaten Blitar di Kanigoro.
Panitia Hari Jadi ke-702 sekaligus Pengamat Budaya Blitar, Suhendro Winarso menggarisbawahi bahwa perubahan tersebut hendaknya tidak dimaknai sebagai pemangkasan atau penghapusan nilai sejarah, melainkan bentuk efusi kebudayaan yang dinamis.
”Budaya itu dinamis dan hidup di hati masyarakatnya. Istilah yang tepat bukan pemindahan Pisowanan Agung, melainkan penyesuaian bentuk baru. Karena pusat ibu kota kabupaten ada di Kanigoro, tentu filosofinya ikut menyesuaikan," ujar Suhendro, Rabu (5/8).
Dia melanjutkan, jika kelak gelaran Hari Jadi bergeser ke area Kanigoro, nomenklatur Pisowanan Agung dipastikan berganti. Sebab secara etimologi, pisowanan bermakna rakyat yang datang menghadap atau sowan ke istana pemimpinnya.
Beberapa opsi nama baru berbasis akar kebudayaan Blitar kini tengah digodok bersama para budayawan. Contohnya seperti Pasamuan Agung, Paheman, Panangkilan, hingga Bahargian Agung. Nama itu bisa berganti, seiring diskusi pimpinan daerah dengan budayawan masih berjalan.
”Raja atau pemimpin itu tidak hanya bertemu rakyat di dalam istana. Di luar istana pun bisa. Konsep baru ini justru membuka ruang yang lebih luas bagi ekonomi kreatif dan UMKM warga. Kita buat sesuatu yang baru, berakar dari tradisi asli Blitar, namun dikemas adaptif dengan zaman tanpa menghilangkan roh kebudayaannya," ungkapnya.
Merespons dinamika dan spirit pembaruan tersebut, Bupati Blitar Rijanto menegaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan Hari Jadi ke-702 muaranya adalah kesejahteraan masyarakat, sejalan dengan visi Kabupaten Blitar Berdaya dan Berjaya.
”Visi berdaya dan berjaya ini butuh proses. Ruh utamanya adalah semangat gotong royong, kerja keras, dan bahu-membahu. Target akhirnya jelas masyarakat semakin sejahtera, merasa nyaman, hidup tenteram, dan Blitar semakin kuncoro," pungkasnya.(jar/sub)
Editor : M. Subchan Abdullah