Retribusi Pariwisata Kota Blitar Capai 50 Persen, Disbudpar Optimistis Target PAD Rp 1,8 Miliar Tercapai

M. Luki Azhari • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 11:00 WIB
SURVIVE: Sejumlah pelaku usaha di pasar suvenir di utara Makam Bung Karno mengaku ada kenaikan omzet di sepanjang tahun ini berkat momen libur dan kunjungan tokoh nasional.
SURVIVE: Sejumlah pelaku usaha di pasar suvenir di utara Makam Bung Karno mengaku ada kenaikan omzet di sepanjang tahun ini berkat momen libur dan kunjungan tokoh nasional.

BLITAR KAWENTAR – Realisasi retribusi sektor pariwisata di Kota Blitar menunjukkan tren positif. Hingga triwulan kedua 2026, pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor pariwisata telah mencapai 50 persen dari target tahunan sebesar Rp 1,8 miliar yang ditetapkan Pemerintah Kota Blitar.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Blitar, Rike Rochmawati, mengatakan capaian tersebut menjadi modal optimistis untuk memenuhi target PAD hingga akhir tahun. Bahkan, realisasi pada pertengahan tahun ini lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang baru mencapai sekitar 35 persen.

"Untuk realisasi PAD, capaiannya sudah 50 persen dari target yang ditetapkan, itu tercatat pada pertengahan tahun ini," ujarnya.

Baca Juga: KPPN Blitar Gelar FKP dan Apresiasi Kinerja Anggaran 2026, Tegaskan Komitmen Anti-Gratifikasi

Meski pendapatan terus meningkat, Disbudpar mencatat tingginya jumlah kunjungan wisata belum sepenuhnya berbanding lurus dengan penerimaan retribusi. Secara akumulatif, jumlah wisatawan yang datang ke Kota Blitar mencapai sekitar 1,6 juta orang. Namun, tidak seluruh destinasi wisata memungut retribusi karena pengelolaannya berada di bawah organisasi perangkat daerah (OPD) yang berbeda.

Saat ini terdapat sekitar 20 destinasi wisata di Kota Blitar. Beberapa di antaranya, seperti Kebon Rojo, dikelola Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Sementara Taman Kehati dan Masjid Ar Rahman juga menjadi bagian dari ekosistem pariwisata, tetapi tidak seluruhnya menjadi objek penarikan retribusi.

Rike menjelaskan, sumber terbesar penerimaan retribusi berasal dari kawasan wisata terpadu Makam Bung Karno. Kawasan tersebut meliputi Makam Bung Karno, Pusat Informasi Pariwisata dan Perdagangan (PIPP), serta Istana Gebang yang berada dalam satu kawasan wisata sehingga dikenai retribusi tiket masuk bagi pengunjung.

Baca Juga: Kuliner Legendaris Blitar yang Selalu Dirindukan, Pecel Mbok Bari hingga Es Pleret Penuh Nostalgia

Selain memberikan kontribusi terhadap PAD, tingginya kunjungan wisata juga berdampak positif terhadap perputaran ekonomi masyarakat. Pedagang suvenir, oleh-oleh, hingga pelaku usaha di sekitar destinasi wisata ikut merasakan peningkatan aktivitas ekonomi seiring meningkatnya jumlah wisatawan.

Memasuki paruh kedua 2026, Disbudpar Kota Blitar optimistis sisa target PAD sebesar Rp 900 juta dapat terealisasi. Berbagai strategi telah disiapkan, mulai dari penyelenggaraan event berskala nasional hingga pematangan paket wisata terpadu atau city tour untuk menarik lebih banyak wisatawan dan meningkatkan penerimaan daerah.

Dengan berbagai upaya tersebut, pemerintah berharap sektor pariwisata tidak hanya menjadi penyumbang PAD, tetapi juga mampu menggerakkan perekonomian masyarakat serta memperkuat posisi Kota Blitar sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Jawa Timur.  (mg1/c1/ady)

Editor : Azahra Meilisani Salma
retribusi pariwisata makam bung karno Kota Blitar disbudpar kota blitar pad