BLITAR KAWENTAR – Toponim Balitar yang kemudian berkembang menjadi Blitar ternyata telah dikenal sejak masa lampau.
Berdasarkan penelusuran terhadap sumber-sumber sejarah berupa Kakawin Nāgarakṛtāgama dan sejumlah prasasti Jawa Kuno, nama Balitar memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan sejarah wilayah yang kini dikenal sebagai Kabupaten Blitar.
Kajian mengenai Toponim Balitar menunjukkan bahwa nama tersebut telah muncul dalam naskah Nāgarakṛtāgama pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk.
Baca Juga: KPPN Blitar Gelar FKP dan Apresiasi Kinerja Anggaran 2026, Tegaskan Komitmen Anti-Gratifikasi
Bahkan, wilayah Blitar juga diketahui telah menjadi kawasan hunian dan aktivitas pemerintahan sejak abad ke-9 Masehi berdasarkan sejumlah prasasti yang ditemukan di daerah tersebut.
Dalam dokumen yang dikaji, Balitar disebut beberapa kali dalam Kakawin Nāgarakṛtāgama.
Salah satunya terdapat pada Pupuh 17 yang menceritakan perjalanan Raja Hayam Wuruk setelah bersembah bakti kepada Hyang Acalapati.
Baca Juga: Kuliner Legendaris Blitar yang Selalu Dirindukan, Pecel Mbok Bari hingga Es Pleret Penuh Nostalgia
Setelah melakukan pemujaan, sang raja melanjutkan perjalanan menuju Balitar, kemudian ke Jimur dan sejumlah wilayah lain di Jawa Timur.
Penyebutan Balitar kembali ditemukan dalam Pupuh 61. Pada bagian ini dikisahkan Hayam Wuruk melakukan perjalanan menuju Palah atau yang kini dikenal sebagai Candi Penataran.
Setelah melaksanakan persembahyangan, raja mengunjungi beberapa lokasi, termasuk Lawang Wentar, Balitar, dan Jimbe untuk menikmati suasana sekaligus menghibur hati.
Dari Balitar, perjalanan kemudian dilanjutkan menuju wilayah selatan hingga Lodaya dan kawasan pesisir selatan Pulau Jawa.
Selain itu, Pupuh 73 juga mencatat Balitar sebagai salah satu lokasi penting yang berkaitan dengan daftar candi pendharmaan raja-raja terdahulu.
Nama Balitar ditempatkan bersama sejumlah kawasan lain seperti Kidal, Jajaghu, dan Sila Petak.
Berdasarkan penelusuran terhadap Prasasti Balitar I dan Kakawin Nāgarakṛtāgama, dapat diketahui bahwa toponim Balitar telah dikenal setidaknya pada masa awal berdirinya Kerajaan Majapahit.
Meskipun hasil pembacaan terbaru terhadap Prasasti Balitar I tidak lagi memuat secara langsung nama Balitar, keberadaan toponim tersebut dapat ditelusuri melalui Kakawin Nāgarakṛtāgama yang ditulis pada masa pemerintahan Hayam Wuruk.
Dalam kakawin tersebut, Balitar disebut berulang kali sebagai salah satu wilayah yang dikunjungi raja dalam perjalanan kerajaannya.
Baca Juga: Wisata Makam Bung Karno Selalu Ramai Pengunjung, Simak Harga Tiket, Museum Gratis, dan Daya Tariknya
Penyebutan yang berulang ini dikaitkan dengan keberadaan candi pendharmaan dan menjadi indikasi bahwa Balitar memiliki peranan penting dalam kehidupan politik, keagamaan, serta administrasi Kerajaan Majapahit.
Dokumen tersebut juga menegaskan bahwa meskipun toponim Balitar baru diketahui melalui sumber-sumber Majapahit pada abad ke-14, bukan berarti wilayah Blitar baru berkembang pada masa itu.
Sejumlah prasasti yang ditemukan di Blitar menunjukkan bahwa kawasan ini telah menjadi wilayah hunian dan aktivitas pemerintahan setidaknya sejak abad ke-9 Masehi.
Hal itu diketahui melalui Prasasti Rampal, Prasasti Suru, dan Prasasti Kinewu yang berasal dari masa Kerajaan Mataram Kuno.
Prasasti Kinewu yang bertahun 829 Saka atau 20 November 907 Masehi bahkan disebut sebagai piagam yang diterbitkan oleh Dyah Balitung mengenai pembebasan pajak kepada kepala Desa Kinewu.
Selain itu, sejumlah nama tempat yang tercantum dalam prasasti-prasasti Jawa Kuno masih dapat dikenali hingga sekarang meskipun mengalami perubahan bentuk seiring perkembangan bahasa dan masyarakat.
Beberapa di antaranya ialah Wleri yang kini dikenal sebagai Mleri, Jaring, Panumbangan, hingga Sawentar yang memiliki keterkaitan dengan Lawang Wentar dalam Kakawin Nāgarakṛtāgama.
Kesinambungan berbagai toponim tersebut menjadi salah satu petunjuk bahwa wilayah yang kini dikenal sebagai Blitar telah memiliki sejarah panjang sebagai kawasan hunian sekaligus pusat aktivitas masyarakat sejak lebih dari seribu tahun lalu.
Sementara itu, nama Balitar yang kemudian berkembang menjadi Blitar dapat ditelusuri melalui Kakawin Nāgarakṛtāgama yang disusun pada abad ke-14 Masehi. (*)
Editor : Ratna Anggi Puspita Sari