JAKARTA – Sejarah Tulungagung ternyata jauh lebih tua daripada era Majapahit. Jejaknya telah muncul sejak masa Kerajaan Medang pada abad ke-9, berkembang pada zaman Airlangga, hingga mencapai babak penting melalui Prasasti Lawadan bertanggal 18 November 1205 Masehi yang kini menjadi dasar penetapan Hari Jadi Kabupaten Tulungagung.
Nama Tulungagung sendiri berasal dari bahasa Jawa Kawi, yakni tulung yang berarti pertolongan atau sumber air dan agung yang berarti besar. Sebelum dikenal dengan nama sekarang, wilayah ini disebut Nerawa, sebuah kawasan rawa luas di selatan Jawa Timur yang kemudian berkembang menjadi daerah strategis dalam sejarah kerajaan-kerajaan Jawa.
Bukti awal sejarah Tulungagung muncul melalui Prasasti Penampihan I bertahun 898 Masehi yang dikeluarkan pada masa Raja Balitung dari Kerajaan Medang. Prasasti itu menunjukkan bahwa wilayah Penampihan telah memiliki struktur pemerintahan lokal dan status tanah perdikan, menandakan adanya organisasi pemerintahan mandiri jauh sebelum terbentuknya kabupaten modern.\
Dalam kisah yang berkembang di wilayah Gunung Wilis, penduduk setempat disebut membantu pasukan Balitung ketika menghadapi perlawanan Kerajaan Kanjuruhan. Sebagai balas jasa, kerajaan memberikan anugerah tanah perdikan kepada daerah tersebut, memperkuat makna Tulungagung sebagai “pemberi pertolongan besar”.
Keberadaan prasasti-prasasti awal itu juga memperlihatkan bahwa kawasan Tulungagung telah menjadi bagian penting dari jalur politik dan militer di Jawa Timur sejak akhir abad ke-9.
Pada abad ke-11, wilayah yang kini menjadi Tulungagung dikenal sebagai Lodoyong. Daerah ini dipimpin Ratu Diah Tulodong, sosok yang dalam prasasti digambarkan sebagai penguasa perempuan yang sangat kuat dan menjadi salah satu lawan paling tangguh bagi Raja Airlangga.
Baca Juga: KPPN Blitar Gelar FKP dan Apresiasi Kinerja Anggaran 2026, Tegaskan Komitmen Anti-Gratifikasi
Pada tahun 1032 Masehi, pasukan Lodoyong berhasil menggempur pusat kekuasaan Airlangga di Watan Mas sehingga sang raja sempat mundur ke Patakan. Tiga tahun kemudian Airlangga bangkit kembali, menaklukkan Lodoyong, namun tidak membunuh Ratu Diah Tulodong. Ia tetap dipertahankan sebagai penguasa lokal di bawah kekuasaan Medang Kahuripan.
Hubungan keduanya kemudian berubah menjadi kerja sama. Airlangga bersama pasukan Lodoyong membangun bendungan besar Waringin Sapta untuk mengendalikan banjir Sungai Brantas yang selama bertahun-tahun menenggelamkan wilayah Brang Kidul. Proyek hidrologi abad ke-11 itu menjadi salah satu karya teknik terbesar pada masanya dan berperan penting bagi perkembangan pertanian Tulungagung.
Babak paling menentukan dalam sejarah Tulungagung terjadi pada masa Raja Kertajaya dari Kerajaan Panjalu Kediri. Setelah mendapat perlindungan dari penduduk Lawadan ketika menghadapi serangan Tumapel, Kertajaya menganugerahkan wilayah tersebut sebagai sima perdikan melalui Prasasti Lawadan bertanggal 18 November 1205 Masehi.
Prasasti itu memberikan pembebasan pajak serta berbagai hak istimewa kepada masyarakat Lawadan, termasuk hak membangun rumah dengan ciri tertentu, menggunakan perlengkapan kehormatan, dan menyelenggarakan pemerintahan lokal secara mandiri. Karena nilai historisnya yang kuat, sejak tahun 2003 tanggal 18 November ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Tulungagung.
Memasuki era Majapahit, Tulungagung tetap memegang posisi penting sebagai kawasan yang berkaitan dengan leluhur dinasti Girindra. Situs seperti Candi Dadi, Candi Sanggrahan, dan Candi Boyolangu menjadi bagian dari jaringan keagamaan dan pendarmaan tokoh-tokoh utama Majapahit, termasuk Rajapatni Diah Gayatri. Dalam Negarakertagama, kawasan Boyolangu dan Brang Kidul juga disebut sebagai wilayah yang dihormati negara dan rutin diziarahi rombongan kerajaan.
Rangkaian prasasti dari Penampihan, Kamalagian, Padlegan, hingga Lawadan menunjukkan bahwa Tulungagung bukan sekadar daerah pinggiran. Wilayah ini berulang kali menjadi pusat pertolongan, medan perebutan kekuasaan, sekaligus penopang ekonomi kerajaan-kerajaan besar Jawa Timur selama lebih dari tiga abad.