Asal Usul Nama Tulungagung, Berawal dari Banjir hingga Menjadi Simbol Pertolongan Besar dari Tuhan

Cecilia Dzakira Pasha • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 16:05 WIB
Nama Tulungagung bukan sekadar identitas sebuah daerah, tetapi menyimpan filosofi tentang pertolongan, harapan, dan rasa syukur. Berawal dari kisah banjir Sungai Brantas yang diyakini berakhir berkat tulunging agung, nama ini terus menjadi simbol kekuatan, kebersamaan, dan keimanan masyarakat hingga kini.
Nama Tulungagung bukan sekadar identitas sebuah daerah, tetapi menyimpan filosofi tentang pertolongan, harapan, dan rasa syukur. Berawal dari kisah banjir Sungai Brantas yang diyakini berakhir berkat tulunging agung, nama ini terus menjadi simbol kekuatan, kebersamaan, dan keimanan masyarakat hingga kini.

JAKARTA – Asal usul nama Tulungagung menyimpan kisah panjang yang sarat makna. Bukan sekadar nama sebuah daerah di selatan Jawa Timur, Tulungagung dipercaya lahir dari cerita tentang banjir besar, doa masyarakat, dan keyakinan akan datangnya pertolongan besar dari Tuhan.

Dalam cerita yang berkembang secara turun-temurun, wilayah yang kini menjadi Kabupaten Tulungagung dahulu berupa lembah yang dikelilingi sungai dan perbukitan. Sungai Brantas yang melintasi kawasan tersebut kerap meluap saat musim hujan hingga menyebabkan banjir besar yang merendam permukiman dan lahan pertanian.

Kondisi itu berlangsung berulang kali sehingga masyarakat hidup dalam kesulitan. Namun suatu ketika air banjir perlahan surut dan meninggalkan tanah yang kembali subur. Sawah dapat ditanami lagi dan kehidupan masyarakat mulai pulih.

Baca Juga: Laporan Samanhudi Anwar Masuk Penyelidikan, Polisi Dalami Konten Akun Medsos

Peristiwa tersebut diyakini bukan sekadar fenomena alam. Masyarakat meyakini bahwa mereka memperoleh tulunging agung, atau pertolongan besar dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Dari keyakinan itulah nama Tulungagung dipercaya berasal.

Secara etimologis, Tulungagung berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa. Kata tulung berarti pertolongan atau bantuan, sedangkan agung bermakna besar, luhur, atau mulia.

Gabungan kedua kata itu membentuk makna "pertolongan besar". Bagi masyarakat Jawa, nama bukan sekadar penanda wilayah, tetapi juga mengandung doa dan harapan bagi kehidupan generasi yang tinggal di dalamnya.

Baca Juga: Pantai Serang Blitar Tawarkan Wisata Pantai Lengkap dengan ATV, Kuliner, dan Area Camping

Nama Tulungagung menjadi simbol agar masyarakat senantiasa memperoleh perlindungan Tuhan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Filosofi tersebut masih dipercaya hingga sekarang sebagai bagian dari identitas masyarakat setempat.

Cerita rakyat juga mengenal sosok Kiai Bro Mukti, seorang tokoh yang disebut bijaksana dan tekun beribadah. Saat banjir besar melanda wilayah tersebut, ia memanjatkan doa di tepi sungai agar masyarakat diselamatkan.

Tak lama kemudian banjir dikisahkan mulai surut. Sebagai ungkapan syukur, masyarakat kemudian menamai wilayah itu Tulungagung sebagai simbol atas pertolongan besar yang mereka yakini telah diterima.

Dalam perjalanan sejarahnya, wilayah Tulungagung pernah dikenal dengan nama Ngerowo. Daerah ini merupakan kawasan subur di sekitar Sungai Brantas yang berkembang sejak masa kerajaan di Jawa Timur.

Setelah masa Majapahit berakhir, wilayah tersebut berada di bawah pengaruh Mataram Islam dan berkembang sebagai jalur perdagangan hasil pertanian. Memasuki masa kolonial Belanda, Ngerowo menjadi daerah administratif yang memiliki potensi besar melalui hasil pertanian, kayu jati, serta batu marmer.

Menurut kisah yang berkembang dalam masyarakat, nama Tulungagung mulai digunakan pada masa pendudukan Jepang sekitar tahun 1943. Setelah Indonesia merdeka, nama tersebut kemudian digunakan secara resmi sebagai identitas Kabupaten Tulungagung.

Baca Juga: Kuliner Legendaris Blitar Bikin Wisata Makin Berkesan, Pecel Sejak 1964 hingga Tewel Otentik Jadi Favorit

Selain dikenal dengan sejarahnya, Tulungagung juga memiliki berbagai tradisi yang mencerminkan rasa syukur kepada Tuhan dan penghormatan terhadap alam.

Tradisi Larung Sembonyo di Pantai Popoh menjadi salah satu upacara adat yang masih dilaksanakan sebagai ungkapan syukur atas hasil laut sekaligus doa keselamatan bagi para nelayan.

Masyarakat juga mempertahankan tradisi Bersih Desa setelah panen sebagai bentuk rasa terima kasih atas hasil bumi. Beragam kesenian tradisional seperti reog kendang, tayub, dan jaranan turut menjadi bagian dari identitas budaya daerah.

Hingga kini, nama Tulungagung tidak hanya dikenal sebagai identitas administratif sebuah kabupaten di Jawa Timur, tetapi juga menjadi simbol harapan, kebersamaan, dan keyakinan bahwa di setiap kesulitan selalu ada pertolongan besar bagi mereka yang tetap berusaha dan bersyukur.

Editor : Cecilia Dzakira Pasha
SejarahTulungagung salUsulTulungagung BudayaJawa tulungagung JawaTimur