BLITAR – Gaya komunikasi Generasi Z yang dikenal singkat, lugas, dan langsung pada inti persoalan sering kali dianggap kurang beretika oleh generasi yang lebih tua. Padahal, menurut Psikolog Blitar Cika Humaira, cara berkomunikasi tersebut tidak selalu mencerminkan sikap tidak sopan, melainkan merupakan hasil dari kebiasaan hidup di era digital yang serba cepat. Gaya Komunikasi Ringkas Bukan Berarti Tidak Sopan
Cika menjelaskan bahwa fenomena yang dikenal sebagai zero malice menggambarkan kecenderungan Gen Z untuk menyampaikan pesan secara langsung tanpa banyak basa-basi. Fokus utama mereka adalah menyampaikan substansi pesan secara efektif dan efisien.
Akibatnya, gaya komunikasi tersebut sering disalahartikan sebagai sikap kurang menghargai lawan bicara. Padahal, dalam banyak kasus, tidak ada niat untuk merendahkan atau bersikap kasar. Terbentuk Karena Kebiasaan di Era Digital
Baca Juga: UNSRAT Manado Tunjuk Jamaluddin Jompa sebagai Plt Rektor, Gantikan Berty Sompi
Menurut Cika, pola komunikasi tersebut terbentuk karena Gen Z tumbuh di lingkungan digital yang menuntut kecepatan. Kebiasaan menggunakan aplikasi pesan instan membuat mereka terbiasa menyampaikan informasi secara singkat agar lebih efisien.
Di sisi lain, generasi yang lebih tua masih memandang unsur formalitas dan basa-basi sebagai bagian penting dalam menjaga kesopanan saat berkomunikasi. Perbedaan inilah yang kerap memunculkan kesalahpahaman antar-generasi.
Etika Tetap Harus Dipertahankan. Untuk menjembatani perbedaan persepsi tersebut, Cika menyarankan penerapan pendekatan Psikologi Komunikasi melalui Politeness Theory atau Teori Kesantunan.
Baca Juga: Mahasiswa Gelar Aksi Tuntut Pergantian Rektor Unsrat Manado dan Percepatan Pemilihan Rektor Baru
Melalui pendekatan ini, gaya komunikasi yang ringkas dan lugas tetap dapat dipertahankan tanpa menghilangkan nilai-nilai etika dasar dalam berinteraksi.
Ia menegaskan bahwa penggunaan tiga “kata sakti”, yakni tolong, terima kasih, dan maaf, tetap menjadi fondasi utama dalam membangun komunikasi yang efektif sekaligus santun. Dengan demikian, pesan dapat disampaikan secara efisien tanpa menimbulkan kesan kasar atau tidak menghargai lawan bicara.
Editor : Ahmad Fadhil Gusnaashir