Gen Z Dinilai Bukan Kurang Sopan, Dialog Antargenerasi Jadi Kunci Cegah Stigma Less Attitude

M. Subchan Abdullah • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 12:30 WIB
Perbedaan cara berkomunikasi bukan berarti hilangnya sopan santun. Dialog yang terbuka dan saling memahami menjadi kunci untuk menghapus stigma less attitude terhadap Gen Z, sekaligus membangun hubungan antargenerasi yang lebih harmonis dan saling menghargai.
Perbedaan cara berkomunikasi bukan berarti hilangnya sopan santun. Dialog yang terbuka dan saling memahami menjadi kunci untuk menghapus stigma less attitude terhadap Gen Z, sekaligus membangun hubungan antargenerasi yang lebih harmonis dan saling menghargai.

JAKARTA – Anggapan bahwa Gen Z less attitude atau kurang sopan dinilai tidak bisa disamaratakan. Perbedaan cara pandang mengenai sopan santun antara Generasi Z dan generasi senior justru perlu dijembatani melalui dialog yang terbuka agar tidak memunculkan stigma yang terus berkembang di masyarakat.

Sosiolog Novitasari S.Sos., M.Sos. menilai setiap generasi tumbuh dalam kondisi sosial yang berbeda. Perbedaan pengalaman tersebut memengaruhi cara berpikir, berkomunikasi, hingga cara memandang nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, menurutnya, baik generasi senior maupun Gen Z sama-sama perlu beradaptasi agar hubungan antargenerasi tetap harmonis dan saling menghargai.

Baca Juga: Pemilihan Rektor UNSRAT 2022 Dimulai, Tiga Kandidat Awal Daftar untuk Berebut Kursi Pimpinan Kampus

Novitasari menjelaskan bahwa Generasi Z tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital yang berlangsung sangat cepat. Lingkungan tersebut membentuk pola komunikasi yang lebih terbuka, cepat, dan fleksibel dibanding generasi sebelumnya.

Di sisi lain, generasi senior dibesarkan dengan norma dan tata krama yang lebih formal. Perbedaan latar belakang inilah yang kerap memunculkan kesalahpahaman ketika kedua generasi berinteraksi.

Menurut Novitasari, generasi senior perlu memahami perubahan zaman yang dihadapi Gen Z. Sebaliknya, generasi muda juga tetap harus menghormati norma dan etika yang telah lama dijunjung oleh masyarakat.

Baca Juga: Laporan Samanhudi Anwar Masuk Penyelidikan, Polisi Dalami Konten Akun Medsos

Novitasari menilai Gen Z sebenarnya memiliki kepedulian tinggi terhadap isu kemanusiaan, kesetaraan, dan inklusivitas. Namun, perhatian terhadap nilai-nilai tersebut terkadang membuat tata krama formal tidak lagi menjadi prioritas utama dalam berinteraksi.

Ia menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk pergeseran prioritas moral. Sebagian Gen Z lebih menilai sikap adil, menghormati sesama, dan memperlakukan orang lain secara setara sebagai ukuran utama dibanding sekadar mengikuti formalitas dalam berkomunikasi.

Meski demikian, Novitasari mengingatkan bahwa etika sosial tetap memiliki fungsi penting dalam menjaga hubungan antarmanusia. Oleh sebab itu, kemampuan menyesuaikan gaya komunikasi dengan kelompok usia yang berbeda tetap dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Novitasari menegaskan hubungan antargenerasi akan terbangun lebih baik apabila setiap pihak mengedepankan dialog, saling menghormati, dan tidak terburu-buru memberikan penilaian negatif terhadap generasi lain.

Menurutnya, sikap terbuka untuk memahami perbedaan nilai akan mengurangi kesalahpahaman yang selama ini memicu munculnya stigma bahwa Gen Z tidak memiliki sopan santun.

Ia berharap setiap generasi dapat melihat perbedaan sebagai kekuatan yang saling melengkapi, bukan sebagai alasan untuk saling menyalahkan. Dengan komunikasi yang sehat, hubungan antargenerasi akan semakin harmonis tanpa ada pihak yang merasa direndahkan maupun dihakimi.

Editor : Cecilia Dzakira Pasha
genz DialogAntargenerasi EtikaSosial LessAttitude SopanSantun