Legenda Jaka Baru dan Asal-usul Nama Tulungagung, Kisah Pertolongan Besar yang Terus Dikenang

Cecilia Dzakira Pasha • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 16:20 WIB
Legenda Jaka Baru menjadi salah satu cerita rakyat yang dipercaya sebagai asal-usul nama Tulungagung. Berbekal ketulusan, ijuk, dan sebatang lidi aren, ia berhasil mengeringkan rawa Ngerowo hingga lahir wilayah yang kini dikenal sebagai Tulungagung. Kisah ini terus diwariskan sebagai simbol pertolongan besar, kerja keras, dan kearifan lokal yang menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat.
Legenda Jaka Baru menjadi salah satu cerita rakyat yang dipercaya sebagai asal-usul nama Tulungagung. Berbekal ketulusan, ijuk, dan sebatang lidi aren, ia berhasil mengeringkan rawa Ngerowo hingga lahir wilayah yang kini dikenal sebagai Tulungagung. Kisah ini terus diwariskan sebagai simbol pertolongan besar, kerja keras, dan kearifan lokal yang menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat.

TULUNGAGUNG – Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, tidak hanya dikenal sebagai daerah dengan potensi pertanian, perikanan, dan wisata alam yang melimpah. Daerah ini juga memiliki legenda yang diwariskan secara turun-temurun mengenai asal-usul namanya. Salah satu kisah yang paling populer adalah legenda Jaka Baru, seorang pemuda sederhana yang dipercaya berhasil mengeringkan rawa Ngerowo hingga akhirnya melahirkan wilayah yang kini dikenal sebagai Tulungagung.

Menurut cerita rakyat, wilayah Tulungagung pada masa lampau merupakan bagian dari Kadipaten Bonorowo yang didominasi hamparan rawa luas. Daerah tersebut sering tergenang air sehingga sulit dimanfaatkan sebagai permukiman maupun lahan pertanian. Kondisi itu menjadi persoalan besar karena jumlah penduduk terus bertambah, sementara lahan yang dapat ditempati semakin terbatas.

Adipati Betak yang memimpin Kadipaten Bonorowo saat itu berupaya mencari solusi. Berbagai cara dilakukan untuk mengeringkan rawa Ngerowo, mulai dari menggali saluran air hingga mengerahkan banyak pekerja. Namun setiap usaha selalu berakhir sia-sia. Air yang berhasil dialirkan keluar kembali memenuhi rawa dalam waktu singkat.

Baca Juga: Mutasi Polri Juli 2026: Brigjen Pol Untung Widyatmoko Jadi Kadiv Hubinter, 146 Personel Bergeser

Penyelidikan kemudian menemukan bahwa di tengah rawa terdapat sumber mata air yang sangat besar. Mata air tersebut terus memancar tanpa henti sehingga seluruh upaya pengeringan tidak pernah berhasil. Kondisi ini membuat masyarakat percaya bahwa rawa Ngerowo menyimpan kekuatan yang sulit ditaklukkan.

Melihat persoalan tersebut tak kunjung selesai, Adipati Betak mengadakan sayembara terbuka. Siapa pun yang mampu mengeringkan rawa akan memperoleh hadiah berupa jabatan Patih Kadipaten. Sayembara itu menarik perhatian banyak pendekar dan orang-orang sakti dari berbagai daerah. Mereka mencoba berbagai cara, mulai dari kekuatan fisik hingga ilmu kesaktian, tetapi tidak ada satu pun yang berhasil menghentikan aliran mata air.

Di tengah kegagalan para peserta, muncul seorang pemuda bernama Jaka Baru. Ia bukan bangsawan ataupun pendekar terkenal, melainkan pemuda sederhana yang tinggal di lereng Gunung Wilis. Berbeda dengan peserta lainnya, Jaka Baru mengikuti sayembara bukan karena menginginkan jabatan, melainkan terdorong oleh rasa iba terhadap masyarakat yang kesulitan memperoleh tempat tinggal.

Baca Juga: Mahasiswa Gelar Aksi Tuntut Pergantian Rektor Unsrat Manado dan Percepatan Pemilihan Rektor Baru

Sebelum berangkat ke Bonorowo, Jaka Baru menemui ayahnya, Ki Ageng Mangir, seorang pertapa yang dikenal bijaksana. Dari sang ayah, ia memperoleh petunjuk untuk membawa segenggam ijuk dan sebatang lidi dari pohon aren. Kedua benda sederhana itu diyakini mampu menutup sumber mata air yang menjadi penyebab rawa tidak pernah surut.

Sesampainya di Ngerowo, Jaka Baru langsung menuju pusat rawa. Ia menyelam ke dasar hingga menemukan lubang mata air. Dengan penuh keberanian, ia menyumbat lubang tersebut menggunakan ijuk, lalu menguncinya dengan sebatang lidi aren sebagaimana petunjuk yang diterimanya.

Tak lama kemudian, keajaiban terjadi. Air yang selama ini menggenangi rawa perlahan mulai surut. Pusaran air berhenti memancar dan daratan yang selama bertahun-tahun tertutup air akhirnya muncul ke permukaan. Rakyat Bonorowo bersorak gembira menyaksikan rawa luas berubah menjadi tanah yang siap dimanfaatkan.

Keberhasilan Jaka Baru disambut haru oleh Adipati Betak. Sebagai bentuk penghargaan, ia mengangkat Jaka Baru menjadi Patih sesuai janji sayembara. Sang adipati kemudian menyebut peristiwa tersebut sebagai pitulungan agung, yang berarti pertolongan besar. Seiring perjalanan waktu, penyebutan pitulungan agung dipercaya berubah menjadi Tulungagung dan akhirnya menjadi nama resmi wilayah tersebut.

Bekas rawa yang telah mengering ternyata memiliki tanah yang sangat subur. Daerah itu berkembang menjadi kawasan pertanian yang menghasilkan panen melimpah. Permukiman baru bermunculan, aktivitas perdagangan meningkat, dan Bonorowo perlahan berubah menjadi pusat kehidupan masyarakat yang makmur.

Hingga kini, legenda Jaka Baru masih diceritakan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari warisan budaya Tulungagung. Kisah tersebut mengajarkan nilai ketulusan, keberanian, kerja sama, serta pentingnya mencari solusi dengan kebijaksanaan, bukan semata-mata mengandalkan kekuatan. Meskipun merupakan cerita rakyat yang memiliki berbagai versi, legenda ini tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Tulungagung dan terus dilestarikan sebagai pengingat akan sejarah serta nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur.

Editor : Cecilia Dzakira Pasha
JakaBaru SejarahNusantara BudayaIndonesia tulungagung LegendaJawa