JAKARTA – Etika kerja Gen Z kembali menjadi perhatian di tengah semakin besarnya peran generasi muda dalam dunia industri dan bisnis. Meski dikenal memiliki kreativitas tinggi, kemampuan beradaptasi dengan teknologi, serta pola pikir yang kritis, Generasi Z dinilai masih menghadapi tantangan dalam aspek karakter dan etika kerja yang menjadi fondasi utama di lingkungan profesional.
Perkembangan teknologi digital telah membuka peluang besar bagi Generasi Z untuk berkontribusi di berbagai sektor. Namun, para pelaku usaha menilai bahwa kemampuan teknis dan kecakapan digital saja belum cukup. Etika kerja Gen Z dinilai menjadi faktor penting yang menentukan keberhasilan seseorang dalam membangun karier sekaligus mendukung keberlangsungan bisnis perusahaan.
Salah satu pelaku usaha, Isdianto Setiawan, menilai Generasi Z memiliki modal besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Menurutnya, kecerdasan, kreativitas, serta kemampuan memahami teknologi menjadi keunggulan yang tidak dimiliki semua generasi sebelumnya. Namun, potensi tersebut harus dibarengi dengan karakter yang kuat agar mampu menjawab kebutuhan dunia kerja yang semakin kompetitif.
Isdianto menjelaskan bahwa Generasi Z merupakan kelompok yang cepat beradaptasi terhadap perkembangan teknologi. Mereka juga memiliki kemampuan berpikir kreatif sehingga mampu menghadirkan berbagai inovasi baru dalam lingkungan kerja.
Menurutnya, kreativitas tersebut merupakan aset besar bagi perusahaan maupun perkembangan ekonomi Indonesia. Kemampuan menghasilkan ide-ide segar dapat menjadi solusi dalam menghadapi berbagai tantangan bisnis yang terus berubah seiring perkembangan zaman.
"Gen Z itu sangat cerdas, cepat beradaptasi dengan teknologi, dan kreativitasnya luar biasa. Itu aset besar. Namun, tantangannya sering kali pada karakter dan etika kerja soft skill," ujarnya.
Baca Juga: Bukan Soal Attitude, Perbedaan Gaya Komunikasi Gen Z Kerap Disalahpahami
Di balik berbagai kelebihan tersebut, pelaku usaha masih menemukan sejumlah persoalan yang berkaitan dengan etika kerja tenaga kerja muda.
Beberapa hal yang kerap menjadi perhatian antara lain kedisiplinan terhadap waktu yang dinilai masih kurang konsisten. Selain itu, kemampuan menghadapi tekanan atau stress tolerance juga disebut masih perlu ditingkatkan agar mampu bertahan dalam situasi kerja yang penuh tantangan.
Tidak hanya itu, sebagian tenaga kerja muda juga dinilai memiliki kecenderungan ingin memperoleh hasil secara instan, termasuk dalam mengejar jenjang karier. Padahal, dunia kerja membutuhkan proses, pengalaman, serta konsistensi dalam membangun kompetensi.
Baca Juga: Gen Z Dinilai Bukan Kurang Sopan, Dialog Antargenerasi Jadi Kunci Cegah Stigma Less Attitude
Menurut Isdianto, perusahaan membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga memiliki komitmen tinggi terhadap pekerjaan yang dijalankan.
Lebih lanjut, Isdianto menegaskan bahwa perusahaan sebenarnya lebih mudah memberikan pelatihan mengenai keterampilan teknis dibandingkan membentuk karakter seseorang.
Karena itu, aspek seperti kedisiplinan, rasa tanggung jawab, kejujuran, hingga kemauan untuk terus belajar menjadi indikator utama dalam proses penilaian calon maupun karyawan yang telah bekerja.
Baca Juga: Fatwa Haram Sound Horek Terbit, Bentrok Karnaval di Malang Jadi Alasan MUI Jatim Bertindak
Menurutnya, keberlangsungan sebuah bisnis tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi ataupun kemampuan individu, tetapi juga oleh komitmen jangka panjang seluruh anggota tim dalam menjalankan tanggung jawabnya secara konsisten.
"Perusahaan itu jauh lebih mudah mengajarkan keterampilan teknis daripada membentuk karakter seseorang. Oleh karena itu, etika dasar seperti kedisiplinan, rasa tanggung jawab, kejujuran, serta kemauan untuk terus belajar tetap menjadi kriteria penilaian paling utama," terangnya.
Meski demikian, Isdianto mengingatkan bahwa perusahaan juga tidak boleh mematikan daya kritis maupun kreativitas yang menjadi ciri khas Generasi Z.
Baca Juga: Mutasi Polri Juli 2026: 146 Perwira Dimutasi, 4 Polwan Dapat Promosi Jabatan Strategis
Menurutnya, lingkungan kerja ideal justru mampu menggabungkan karakter yang kuat dengan ide-ide inovatif. Dengan demikian, kreativitas anak muda dapat diarahkan menjadi solusi nyata yang memberikan nilai tambah bagi perusahaan maupun masyarakat.
Kolaborasi antara pengalaman pelaku usaha dan semangat inovasi Generasi Z diyakini menjadi kombinasi penting dalam menghadapi persaingan dunia usaha di masa depan. Apabila etika kerja dapat berjalan seiring dengan kreativitas, maka potensi besar yang dimiliki generasi muda akan mampu menghasilkan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus meningkatkan daya saing dunia industri Indonesia.
Editor : Brilian Syifa Almasih