BLITAR – Candi Penataran yang berada di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, merupakan kompleks candi Hindu terbesar di Jawa Timur. Meski lebih populer dengan nama Candi Penataran, nama asli situs bersejarah ini adalah Candi Palah, peninggalan Kerajaan Kediri yang menyimpan berbagai bangunan dan relief bersejarah.
Kompleks candi ini menjadi salah satu destinasi sejarah sekaligus kebanggaan masyarakat Kabupaten Blitar. Selain memiliki nilai arsitektur tinggi, kawasan tersebut juga menyimpan berbagai peninggalan yang menggambarkan perkembangan budaya dan agama Hindu di Jawa Timur pada masa lampau.
Keberadaan Candi Penataran hingga kini masih menjadi daya tarik wisata sejarah karena menyuguhkan susunan bangunan yang lengkap, mulai dari gerbang, arca, balai pertemuan, hingga candi utama yang dihiasi relief kisah Ramayana
Baca Juga: Kampung Coklat Blitar Punya Wahana hingga Feeding Hewan, Tiket Terusan Rp35 Ribu
Candi Penataran terletak di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, sekitar sebelah utara Kota Blitar, Jawa Timur. Kompleks ini dikenal sebagai candi bercorak Hindu Siwa dan merupakan kompleks candi terluas serta termegah di wilayah Jawa Timur.
Meski masyarakat mengenalnya sebagai Candi Penataran, nama asli bangunan tersebut adalah Candi Palah. Kompleks ini menjadi salah satu peninggalan penting dari masa Kerajaan Kediri dan terus dilestarikan sebagai warisan budaya Indonesia.
Secara umum, kawasan Candi Penataran dibagi menjadi tiga bagian utama, yakni halaman depan, halaman tengah, dan halaman belakang. Pembagian tersebut menunjukkan tata ruang yang memiliki fungsi berbeda dalam kegiatan keagamaan pada masa lalu.
Baca Juga: Kampung Coklat Blitar Bikin Penasaran, Tiket Rp20 Ribu Bisa Lihat Kakao hingga Kolam Koi
Di halaman depan terdapat dua Arca Dwarapala yang berfungsi sebagai penjaga pintu gerbang. Masyarakat setempat mengenalnya dengan sebutan Rejo Pentung.
Di sekitar kawasan ini juga terdapat sisa gerbang yang terbuat dari batu bata, Bale Agung, Pendopo Teras, serta Candi Angka Tahun.
Pada Arca Dwarapala terlihat pahatan angka tahun 1242 Saka atau 1320 Masehi. Sementara Bale Agung merupakan bangunan batu yang dahulu digunakan sebagai tempat musyawarah para pendeta.
Bangunan Bale Agung memiliki ukuran sekitar 37 meter x 18,8 meter dengan tinggi sekitar 1,44 meter. Tidak jauh dari lokasi tersebut terdapat Pendopo Teras yang dipercaya menjadi tempat meletakkan sesajen dalam upacara keagamaan.
Selanjutnya terdapat Candi Angka Tahun yang juga dikenal sebagai Candi Brawijaya atau Candi Ganesha. Pada bangunan ini tertera angka tahun 1291 Saka atau 1369 Masehi, menjadikannya salah satu bangunan penting dalam kompleks tersebut.
Bagian halaman tengah Candi Penataran berisi dua Arca Dwarapala lainnya, sejumlah sisa bangunan, Candi Naga, serta pondasi bata yang masih dapat disaksikan hingga kini.
Baca Juga: Pantai Tambakrejo Blitar Makin Ramai, Ada Pasir Putih, Ikan Bakar hingga Ombak Besar
Sementara itu, halaman belakang berada di dataran yang lebih tinggi dibanding dua bagian sebelumnya. Di sinilah berdiri candi utama yang menjadi pusat kompleks Candi Penataran.
Candi utama memiliki tiga teras dengan tinggi sekitar 7,19 meter. Pada sisi tangga terdapat Arca Mahakala dan pahatan angka tahun 1269 Saka atau 1347 Masehi.
Teras pertama dihiasi relief kisah Ramayana yang mengelilingi dinding candi. Relief tersebut menjadi salah satu daya tarik utama karena menggambarkan cerita pewayangan yang dipahat secara detail.
Baca Juga: Pantai Tambakrejo Blitar Terbaru, Ada Ikon Baru, Ikan Bakar Mulai Rp5 Ribu
Di teras kedua terdapat relief dengan kisah berbeda yang dibaca menggunakan sistem pradaksina, yaitu searah jarum jam. Sementara teras ketiga menampilkan relief naga dan singa bersayap dengan bentuk bangunan menyerupai bujur sangkar.
Keberadaan berbagai relief, arca, dan bangunan pelengkap menjadikan Candi Penataran sebagai salah satu situs sejarah paling penting di Kabupaten Blitar. Kompleks ini tidak hanya menjadi bukti kejayaan masa lalu, tetapi juga menjadi warisan budaya yang terus dikenalkan kepada masyarakat dan wisatawan sebagai salah satu kebanggaan Indonesia.
Editor : Cecilia Dzakira Pasha