BLITAR – Legenda Gunung Kelud dan Candi Penataran kembali menjadi perhatian setelah muncul kisah yang menghubungkan kompleks candi bersejarah di Kabupaten Blitar dengan upaya meredakan dahsyatnya letusan Gunung Kelud. Dalam cerita yang berkembang di masyarakat, Candi Penataran disebut dibangun sebagai tempat pemujaan untuk memohon keselamatan sekaligus menjaga keselarasan antara manusia dan alam.
Cerita tersebut mengisahkan bahwa Gunung Kelud memiliki keterkaitan dengan legenda dalam Kitab Tantu Panggelaran. Gunung itu dipercaya menjadi tempat disimpannya potongan kepala Batara Brahma setelah peristiwa yang melibatkan Batara Guru dan Dewa Gana.
Dalam penuturan tersebut, keberadaan Candi Penataran tidak hanya dipandang sebagai pusat ibadah pada masa lampau, tetapi juga sebagai simbol hubungan spiritual masyarakat Jawa kuno dengan kekuatan alam, khususnya Gunung Kelud yang dikenal sebagai salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia.
Baca Juga: Kampung Coklat Blitar 2026: Tiket Mulai Rp20 Ribu, 95 Persen Area Beratap
Kompleks Candi Penataran yang berada di Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, disebut memiliki posisi strategis karena berada di sebelah barat daya Gunung Kelud. Dalam cerita yang disampaikan, kawasan candi menjadi tempat penting bagi raja-raja dari tiga kerajaan besar, yakni Kediri, Singasari, dan Majapahit.
Ketiga kerajaan tersebut disebut melanjutkan tradisi memperluas sekaligus merawat kompleks candi sebagai pusat kegiatan keagamaan. Tradisi itu dipercaya berkaitan dengan harapan agar aktivitas Gunung Kelud tetap terkendali melalui doa dan ritual pemujaan kepada Tuhan.
Dalam legenda yang dikutip dari Kitab Tantu Panggelaran, Batara Guru memotong salah satu kepala Batara Brahma untuk menyelamatkan Dewa Gana. Potongan kepala tersebut kemudian disimpan di sebuah gunung yang diyakini sebagai Gunung Kelud.
Cerita itu kemudian berkembang menjadi keyakinan bahwa kedahsyatan letusan Gunung Kelud berkaitan dengan keberadaan kepala Batara Brahma yang tersimpan di dalam gunung tersebut.
Dalam penuturan narasumber pada video, Gunung Kelud digambarkan memiliki karakter berbeda dibanding gunung lainnya. Saat melakukan pengamatan secara spiritual di kawasan Candi Penataran, narasumber mengaku melihat sebuah bola energi berwarna merah yang berada di dalam Gunung Kelud.
Bola energi tersebut digambarkan berukuran sangat besar dengan pancaran energi yang kuat. Gambaran itu disebut sebagai alasan mengapa Gunung Kelud memiliki karakter letusan yang sangat dahsyat dibandingkan gunung lain.
Narasumber juga menceritakan bahwa pada masa awal pembangunan Candi Penataran, kompleks tersebut masih sederhana. Seiring berjalannya waktu hingga era Majapahit, kawasan itu berkembang menjadi kompleks candi yang megah dan memiliki peran penting bagi kerajaan.
Menurut cerita tersebut, tujuan utama pembangunan Candi Penataran adalah menjadi tempat melakukan puja dan doa kepada Tuhan agar amarah Gunung Kelud dapat diredakan.
Dalam kisah tersebut dijelaskan bahwa masyarakat dan para penguasa pada masa lampau memiliki cara tersendiri dalam menghadapi ancaman letusan Gunung Kelud. Selain upaya fisik, mereka juga melakukan pendekatan spiritual melalui doa, pertapaan, dan ritual keagamaan.
Baca Juga: Fatwa Haram Sound Horek Terbit, Bentrok Karnaval di Malang Jadi Alasan MUI Jatim Bertindak
Dikisahkan pula seorang pendeta berhasil meredakan dampak letusan Gunung Kelud melalui puja-puji kepada Tuhan. Peristiwa itu kemudian menjadi dasar bagi para raja untuk membangun tempat ibadah yang kini dikenal sebagai Candi Penataran.
Menurut narasumber, filosofi tersebut mengajarkan bahwa kemarahan, yang diibaratkan sebagai api, diredakan melalui doa dan penghambaan kepada Tuhan. Analogi itu juga diterapkan dalam memaknai aktivitas Gunung Kelud yang sewaktu-waktu dapat meletus.
Di akhir penjelasan, narasumber menegaskan bahwa setiap gunung memiliki karakter yang berbeda. Namun, masyarakat tetap diingatkan untuk selalu waspada terhadap potensi bencana alam, sekaligus tidak melupakan doa dan pengharapan kepada Tuhan sebagai bagian dari ikhtiar menghadapi berbagai kemungkinan.
Editor : Cecilia Dzakira Pasha